Rabu, 11 September 2013
Kartel Kuasai Impor Kedelai
- Picu Kenaikan Harga
Kenaikan harga kedelai tak semata-mata disebabkan kemelemahan nilai tukar rupiah. Kondisi tersebut diduga juga akibat praktik kartel oleh beberapa importir.
Hal itu diungkapkan peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Didik J Rachbini dalam jumpa pers “Gejolak Harga Kedelai: Analisis Kartel dan Monopoli” di Jakarta, Selasa (10/9). Menurut dia, kartel kedelai tersebut membuat kesepakatan-kesepakatan untuk memainkan harga.
“Saya katakan ada indikasi kartel (kedelai). Penyebabnya, pemegang pasokan yang memiliki kekuatan sebagai price maker (penentu harga) membuat kesepakatan horisontal,” jelasnya.
Menurut Didik, pada Februari 2013 Komite Ekonomi Nasional (KEN) menyatakan ada indikasi kartel pangan, termasuk kedelai.
Presiden bahkan telah memerintahkan KEN dan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) untuk menyelidiki kemungkinan tersebut.
Namun di sisi lain, Kementerian Perdagangan justru memberikan izin impor kedelai kepada perusahaan-perusahaan yang terindikasi kartel dengan kuota sangat besar.
Berdasarkan data penelitian Indef, ada tiga importir yang mendapat kuota terbesar, yakni PT FKS Multi Agro sebesar 210.600 ton (46,71 persen dari total alokasi impor), PT Gerbang Cahaya Utama 46.500 ton (10,31 persen), dan PT Budi Semesta Satria 42.000 ton (9,31 persen). Mereka menguasai 299.100 ton atau 66,33 persen dari total kuota 450.900 ton.
“Kalau importir terbesar itu menutup gudang sepekan saja, maka harga sudah pasti naik, karena 70 persen kebutuhan kedelai kita tergantung impor. Jadi kalau sekarang kenaikan harga kedelai dibilang akibat depresiasi nilai tukar rupiah, itu tidak betul. Indikasinya karena kartel,” ujar Didik, tanpa spesifik menuding ketiga importir besar tersebut.
Dia menekankan bahwa Kementerian Perdagangan tidak pernah memberikan informasi transparan mengenai kuota impor kedelai. Akibatnya, kemungkinan terjadi praktik monopoli dan kartel sangat besar. Didik menilai, semestinya kenaikan harga kedelai tidak sebesar saat ini yang berkisar Rp 10 ribu per kilogram, bahkan di beberapa daerah mencapai Rp 11.000/kg. Apalagi, yang dijual adalah stok lama yang tidak kena imbas depresiasi rupiah.
Dalam jangka pendek, Didik menyarankan agar pemerintah memanggil para importir, lalu memerintahkan mereka membuka stok dan segera membanjiri pasar agar harga turun. Direktur Indef Enny Sri Hartati menambahkan, timnya menginvestigasi Surat Persetujuan Impor (SPI) kedelai dari pemerintah pada 28-30 Agustus 2013.
SPI menunjukkan importir terdaftar (IT) yang mendapat persetujuan dari pemerintah terdiri atas 14 perusahaan dengan kuota 450.900 ton. Adapun jumlah pengajuan dari importir 886.200 ton. Dari 14 perusahaan itu, tiga di antaranya mendapat kuota terbesar. “Ini cenderung membentuk kartel,” ungkapnya.
Enny menambahkan, terdapat indikasi ke- salahan desain kebijakan, yakni Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 45/M-DAG/KEP/8/2013 yang dirilis pada 29 Agustus lalu tentang Ketentuan Impor Kedelai. Peraturan itu diduga menjadi penyebab harga kedelai bergejolak. Permen tersebut mewajibkan importir menjadi importir terdaftar (IT), sehingga mengakibatkan penerbitan SPI molor.
“Pengeluaran izin impor yang terlalu lama itu memberi ruang kepada spekulan di pasaran. Apalagi struktur pemegang kuota impor cenderung dikuasai kartel. Jika pemegang persetujuan impor terbesar menahan stok, maka besar kemungkinan terjadi kelangkaan dan akan berujung pada melejitnya harga kedelai, seperti pernah terjadi pada kasus bawang putih,” jelasnya.
Insentif Petani
Menurut dia, tren harga kedelai di pasar internasional sebenarnya relatif stabil, bahkan turun dari 577,40 dolar AS per ton pada Juli 2013 menjadi 523,63 dolar AS per ton pada Agustus 2013. Demikian juga pada Juni-Agustus 2012 rata-rata kenaikan harga di pasar internasional hanya 7%. Namun pada saat yang sama di Indonesia harga justru naik 30%.
Pada Juli tahun lalu, harga kedelai melonjak dari Rp 6.000 per kilogram menjadi Rp 8.500 per kilogram. Kali ini, pada September menyentuh Rp 10 ribu per kilogram. Enny menambahkan, pemicu kenaikan harga tahun lalu adalah menurunnya produksi kedelai di negara pengekspor, Amerika Serikat.
Penurunan produksi terjadi akibat perubahan iklim yang ekstrem di negara penghasil kedelai terbesar di dunia itu. Di sisi lain, gejolak depresiasi rupiah dari kisaran 9.700 menjadi 11.600 per dolar AS turut menjadi pemicu.
Tidak Ada Masalah
“Kenaikan harga itu pasti karena supply (pasokan) atau demand (permintaan). Dari sisi demand tidak ada masalah. Walaupun inflasi tinggi, membeli tempe hampir tak ada masalah. Berarti masalahnya di pasokan. Pemerintah tahu betul pemegang pasokan kedelai,” tandasnya.
Karena itu, dia meminta pemerintah memberi peringatan kepada importir untuk melepas stok ke pasar agar harga turun. Dia juga memaparkan persoalan fundamental kedelai, yakni ketergantungan impor lebih dari 70% dan khusus dari AS 66%. “Peningkatan produksi dan swasembada kedelai sebatas wacana, tidak ada upaya konkret untuk meningkatkan produksi dalam negeri,” ujarnya.
Enny menilai pemerintah selalu berlindung pada persoalan keterbatasan lahan dan produktivitas kedelai lokal yang rendah. Padahal hal itu terjadi karena tidak ada insentif bagi petani lantaran rendahnya harga jual kedelai dibanding komoditas lain. Selain itu, banyak lembaga riset menghasilkan berbagai varietas kedelai unggulan, tapi tidak pernah dibudidayakan secara massal oleh petani.
“Pemerintah justru membuka keran impor saat petani panen raya. Akibatnya para pedagang/teng- kulak mengambil kesempatan untuk menekan harga di tingkat petani,” ungkapnya.
Menurutnya, petani tidak pernah mendapat keuntungan dari kenaikan harga pangan di Tanah Air. “Semestinya kenaikan harga pangan jadi berkah, bukan malapetaka seperti sekarang.”
Indef menilai kebijakan pemerintah tidak konsisten. Misalnya, kebijakan penghapusan bea masuk saat harga kedelai impor tinggi. Hal ini kontraproduktif dengan upaya peningkatan kedelai lokal. “Kebijakan hanya berorientasi jangka pendek dengan mengatasnamakan stabilisasi harga. Kebijakan ini hanya menguntungkan pemburu rente dan orientasi kebijakan cuma bersifat populis,” tambahnya.
Enny menyoroti kebijakan pangan yang diserahkan pada pasar. Hal ini bermula dari konsekuensi letter of intent dengan IMF yang menyebabkan Bulog melepas komoditas pangan kepada mekanisme pasar. “Mekanisme pasar memang tidak salah jika telah tercipta iklim persaingan usaha yang sehat dan kondusif,” ujarnya.
Indef menawarkan beberapa rekomendasi, antara lain memanfaatkan lahan suboptimal untuk mendorong produktivitas kedelai. Hal ini dibarengi dengan pemberian subsidi pupuk langsung kepada petani, pembudidayaan dan pemberian benih varietas unggul, serta optimalisasi tenaga penyuluh lapangan. Tak kalah penting, petani harus diberi insentif pembiayaan.
Selain itu, tambah Enny, Indef merekomendasikan pembangunan sarana logistik dan sarana perdagangan di pedesaan untuk menjamin keberlanjutan produksi dan rantai distribusi. Dia menekankan agar komoditas pangan tidak diserahkan kepada mekanisme pasar. Karena itu, perlu dibentuk badan yang berfungsi sebagai penyangga stok dan penjaga stabilisasi harga.
Hal yang juga penting, lanjutnya, adalah menciptakan sistem tata niaga yang sehat dan kompetitif dengan mereformasi berbagai kebijakan yang berpeluang menyuburkan terjadinya kartel, seperti sistem kuota. “KPPU harus memberi sanksi tegas kepada pelaku persaingan usaha yang tidak sehat,” tandasnya.
Manajemen Lemah
Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mengatakan, stok kedelai nasional saat ini 300 ribu ton. Jumlah itu cukup untuk memenuhi kebutuhan nasional. Namun, harga dipengaruhi oleh kemelemahan nilai tukar rupiah karena kedelai didapat dari importir.
“Solusi jangka pendek yang akan kami lakukan adalah memastikan para pengusaha importir bekerja sama dengan koperasi tahu-tempe untuk menyuplai kedelai kepada para perajin dengan harga khusus,” katanya.
Ia berjanji segera menuntaskan masalah itu dengan menjembatani importir dan perajin. Gita menekankan pentingnya meningkatkan produksi kedelai dalam negeri sebagai solusi jangka panjang. “Jangan sampai kita tergantung sama impor,” katanya.
Menanggapi usulan agar tata niaga kedelai di- kembalikan ke Perum Bulog, Gita mengatakan, perusahaan negara itu dilibatkan untuk menstabilisasi harga.“Kami telah memberikan izin impor 100 ribu ton kedelai untuk Bulog,” ujarnya.
Di lain pihak, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) menyatakan, kartel terjadi akibat kelemahan penataan pangan nasional dari hulu hingga hilir. “Itu diakibatkan penataan manajemen pangan nasional yang lemah dari aspek produksi, distribusi, dan perdagangan,” kata Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Pemberdayaan Daerah dan Bulog Natsir Mansyur.
Menurut Natsir, data Kadin menyebutkan bahwa potensi kartel pada enam komoditas pangan strategis mencapai Rp 11,34 triliun per tahun. Keenam komoditas tersebut adalah daging sapi, daging ayam, gula, kedelai, jagung, dan beras impor.
Karena itu, Kadin meminta pemerintah merombak tata niaga impor nasional yang disebabkan ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan sehingga rentan spekulasi dan kartel. (bn,J10,viva-59)
Sumber : http://m.suaramerdeka.com/index.php/read/cetak/2013/09/11/236478
Senin, 09 September 2013
Berjaya di Zaman Orba, Terpuruk di Era Perdagangan Bebas
Kisah Kedelai di Negeri Agraris
Tiga minggu terakhir, para perajin
tahu dan tempe menjerit. Mereka kebingungan karena bahan baku utama usaha
mereka, kedelai, harganya melejit. Kedelai tercatat sebagai komoditas yang
kerap mengalami fluktuasi harga.
PERTENGAHAN tahun lalu, harga
kedelai juga naik pada kisaran Rp 8.000 per kilogram. Angka itu naik signifikan
dibandingkan harga pada awal 2012 yang hanya Rp 5.300 per kilogram. Sementara
pada 2007 lalu gejolak harga kedelai hanya mencapai Rp 7.000 per kilogram.
Tapi kali ini, harga kedelai
mencapai level tertingginya pada kisaran Rp 9.000 per kilogram. Bahkan, di
beberapa daerah menyentuh Rp 10.000 per kilogram. Yang membuat harga
kedelai meroket karena dipicu nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar AS
yang melemah hingga tembus Rp 11.000. Akibatnya, kedelai yang hampir
sepenuhnya diimpor dari Amerika Serikat pun ikut terkena imbas.
Wakil Menteri Pertanian, Rusman
Heriawan menyatakan produksi kedelai di Tanah Air hanya cukup memenuhi
kebutuhan nasional 25-30%. ”Luas lahan kedelai sekitar 500 ribuan hektare,
produksinya kira-kira 800 ribu ton. Sementara kebutuhannya 2,4-2,5 juta ton,”
tuturnya kepada Suara Merdeka.
Dia pun mengisahkan kejayaan
kedelai di masa Orde Baru (Orba).
Sebelum 2000, kata Rusman, kedelai
adalah komoditas yang menarik bagi petani. Terbukti, luas lahan kala itu
mencapai sekitar 1,5 juta hektare dan total produksi mencapai 1,5 juta ton.
Namun, pada 1998 atas saran IMF, Indonesia membuka keran impor kedelai.
Ketua Gabungan Koperasi Produsen
Tahu Tempe Indonesia (Gakoptindo) Aip Syarifudin saat ditemui di Gedung Komisi
Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menceritakan, mulai 1998, kebijakan distribusi
tunggal kedelai diubah karena pemerintah menuruti saran IMF. Hal itu sebagai
bagian dari paket penyehatan ekonomi nasional yang terpuruk akibat krisis
ekonomi. Maka turut sertalah Indonesia membuka akses perdagangan bebas.
Sejak itulah Bulog, kata Aip, tidak
lagi menangani kedelai dan negara membebaskan siapa pun yang ingin mengimpor
bahan baku tahu tempe itu. Akibatnya meski pasokan tetap terjaga, namun harga
lebih fluktuatif, sehingga merugikan pengusaha.
”Kedelai diatur pemerintah sejak
1979-1998, hampir 20 tahun dikelola dan dimonopoli oleh Bulog. Selama 20 tahun
kehidupan petani dan perajin baik. Pada 1992-1993, kami sudah swasembada
kedelai. Itu zaman keemasan kami,” katanya.
Terus Turun
Dalam sensus pertanian yang
dilakukan setiap 10 tahun, Badan Pusat Statistik (BPS) menemukan ada tren
pengurangan lahan tanam antara 2013 dibanding 2003 dan 1993. Kepala BPS
Suryamin menyatakan tidak tertutup kemungkinan ada kecenderungan petani beralih
dari tanam kedelai ke jenis tanaman lain.
BPS menyebutkan produksi kedelai
pada 2012 sebesar 853.500 ton biji kering. Angka ini turun 0,96% dibanding 2011
yang sebesar 851.286 ribu ton biji kering. Untuk 2013 berdasarkan angka ramalan
I, BPS memperkirakan produksi kedelai mencapai 847.160 ribu ton biji kering
atau naik 0,47% dibanding 2012.
”Dibandingkan dengan kebutuhan
memang masih jauh, sehingga masih harus impor. Kalau yang terjadi sekarang BPS
update angka dan diberikan ke pemerintah sebagai landasan perbaikan,” kata
Suryamin.
Adapun luas panen kedelai, pada 2011
sebesar 622.254 hektare dengan produktivitas 13,68 kilogram per hektar. Lalu
pada 2012, luas panen turun menjadi 567.624 hektare dengan produktivitas 14,85
kilogram per hektare. Untuk 2013, angka ramalan I, luas panen kedelai
diperkirakan sebesar 571.564 hektare dengan produktivitas 14,82 kilogram per
hektare.
Wamentan Rusman menambahkan setelah
2000, produksi kedelai di Tanah Air terus turun, stagnan, dan ada peningkatan
sedikit pada tahun ini. Menurutnya, penyebab turunnya produksi adalah harga
kedelai yang tidak menarik.
”Pada 2000-an, posisinya harga
kedelai 1,5 kali harga beras, masih menarik orang tanam kedelai. Jadi sekarang
orang lebih senang menanam beras daripada kedelai, lebih menguntungkan,”
ungkapnya.
Namun, Rusman membantah jika kedelai
impor bersaing dengan kedelai lokal. Menurutnya, kedelai impor sudah melalui
lompatan jauh dalam dunia pertanian, sedangkan kedelai lokal tidak. ”Kedelai di
AS atau Brasil sudah melalui genetic modified organism (GMO) atau transgenik.
Itu masih kontroversial, jadi nggak bisa kami lakukan juga,” kata mantan kepala
BPS ini.
Kedelai impor adalah kedelai GMO
yang sudah dimodifikasi atau disisipkan gen tertentu dengan tujuan untuk
memperbaiki sifat-sifat yang diinginkan, seperti meningkatkan resistensi
terhadap pestisida, hama, kekeringan. Produk transgenik ini kemudian menjadi
kontroversial karena dinilai memicu masalah kesehatan. Namun, hal ini belum
bisa dibuktikan secara menyeluruh.
Swasembada
Lantas bagaimana dengan target
swasembada kedelai di tahun depan ? Rusman mengatakan, kecil kemungkinan hal
itu tercapai. Pihaknya sebenarnya menargetkan produksi kedelai tahun ini bisa
mencapai 1,5 juta ton. Kenyataannya, kedelai yang dihasilkan hanya 800
ribu-an ton.
Dia menyatakan pemerintah terus
mendorong petani untuk menanam kedelai dengan perluasan lahan untuk tanaman
kedelai. Selain itu, pemerintah juga mendorong petani supaya beban
produksinya lebih murah melalui subsidi benih kedelai.
Sementara itu, Ketua Dewan Kedelai
Nasional Benny Kusbini sejak awal menilai swasembada kedelai tidak mungkin
terealisasi mengingat minimnya produksi. Dia meyakini produksi kedelai tahun
ini mengalami penurunan dari target semula sekitar 800 ribu ton menjadi hanya
600 ribu ton.
Kegagalan panen tersebut, kata dia,
selain karena musim yang tidak menentu juga karena faktor bibit kedelai yang
tidak bagus.”Ini harus dilakukan investigasi. Harusnya KPPU turun, intelijen
turun, kenapa ada permainan harga kedelai. Ada kartel? Apa ada permainan dalam
swasembada, sehingga clear,” katanya.
Dia meminta pemerintah dapat
memegang penuh kendali stok bahan pangan yang berhubungan dengan hajat hidup
orang banyak.
Benny berasumsi stok kedelai yang
dirilis Menteri Perdagangan sebesar 350 ribu ton seharusnya cukup sampai
November. Adapun pelemahan rupiah yang terjadi sejak pertengahan Agustus
dinilainya belum dirasakan dampaknya terhadap harga di dalam negeri.
”Dari harga kedelai Rp 7.000 jadi Rp
10 ribu kan lumayan ada selisih Rp 3.000. Stok kedelai kita ada 350 ribu ton di
importir kali saja Rp 3.000 sudah untung Rp 1 triliun, lumayan. Ini situasi
kacau,” ungkapnya.
Namun, Benny tidak menutup
kemungkinan Indonesia bisa lepas dari ketergantungan impor itu. Dia menyarankan
pemerintah menggunakan BUMN, seperti Perum Bulog, PT RNI, Pusri, dan PTPN sebagai
pengimpor agar tidak ada spekulan yang mengambil keuntungan.
Secara jangka panjang, pemerintah
bisa memperluas lahan tanam dan menyerahkan penanaman ke BUMN. Selain itu harus
ada pembangunan cluster lahan kedelai di daerah-daerah seperti Kalimantan
Timur, Sulawesi Utara, dan sebagainya. (Kartika Runiasari-71)
Sumber : http://m.suaramerdeka.com/index.php/read/cetak/2013/09/09/236240
Senin, 02 September 2013
Impor Kedelai Bulog Tiba Bulan Depan
TEMPO.CO, Jakarta - Perum Bulog akhirnya mendapat izin impor 20 ribu ton
kedelai dari Kementerian Perdagangan. Direktur Perencanaan dan
Pengembangan Usaha Bulog Rito Angky Pratomo menyatakan telah menerima
surat pemberitahuannya pada Jumat, 30 Agustus 2013 lalu.
"Kami sudah melakukan koordinasi dan pemesanan. Pengiriman pertama dari Amerika Serikat akan tiba dalam 45-48 hari," ujar Angky dalam konferensi pers bersama Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) di Gedung Pusdiklat Bulog, Kuningan, Jakarta, Ahad, 1 September 2013.
Dengan harga kedelai internasional berada di kisaran US$ 500 per ton, maka untuk mengimpor sebanyak 20 ribu ton kedelai Bulog harus menyiapkan dana US$ 50 juta atau hampir setara Rp 110 miliar. "Kami siap dananya," kata Angky.
Angky juga menyatakan bahwa sesuai Peraturan Presiden Nomor 32 Tahun 2013 tentang penugasan Bulog untuk pengamanan harga dan distribusi kedelai, perusahaannya juga telah berusaha menyerap hasil panen petani lokal sesuai harga yang ditetapkan pemerintah. Hanya saja, jumlah kedelai yang tersedia memang tak banyak. "Kami kemarin baru dapat dari Aceh 17 ton," ujarnya.
Tak hanya itu, Angky juga telah berkoordinasi dengan Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) untuk membeli kedelai hasil impor dan pembelian lokalnya.
Ketua Gakoptindo Aip Syarifuddin pun menyatakan, ia siap menyerap seluruh kedelai Bulog. "Berara pun (kedelai) Bulog, kami siap," ujarnya.
Aip menyatakan, gabungan koperasi yang dipimpinnya beranggotakan 115 ribu perajin tahu tempe di seluruh Indonesia. Mereka membutuhkan 135 ribu ton kedelai tiap bulan. "Jadi, Bulog jangan takut tidak ada yang beli," katanya.
Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan sebelumnya juga telah menetapkan dua harga patokan untuk kedelai. Harga beli dari petani oleh Bulog ditetapkan sebesar Rp 7 ribu per kilogram sejak bulan Juli 2013 dan akan berlaku selama tiga bulan hingga September. Sementara harga jual pada perajin Agustus ditetapkan Rp 7.700 per kilogram dan akan diperbarui setiap bulan.
"Harga jual ke perajin untuk bulan September akan kita tetapkan besok," kata Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Srie Agustina
PINGIT ARIA
http://www.tempo.co/read/news/2013/09/01/090509194/Impor-Kedelai-Bulog-Tiba-Bulan-Depan
"Kami sudah melakukan koordinasi dan pemesanan. Pengiriman pertama dari Amerika Serikat akan tiba dalam 45-48 hari," ujar Angky dalam konferensi pers bersama Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) di Gedung Pusdiklat Bulog, Kuningan, Jakarta, Ahad, 1 September 2013.
Dengan harga kedelai internasional berada di kisaran US$ 500 per ton, maka untuk mengimpor sebanyak 20 ribu ton kedelai Bulog harus menyiapkan dana US$ 50 juta atau hampir setara Rp 110 miliar. "Kami siap dananya," kata Angky.
Angky juga menyatakan bahwa sesuai Peraturan Presiden Nomor 32 Tahun 2013 tentang penugasan Bulog untuk pengamanan harga dan distribusi kedelai, perusahaannya juga telah berusaha menyerap hasil panen petani lokal sesuai harga yang ditetapkan pemerintah. Hanya saja, jumlah kedelai yang tersedia memang tak banyak. "Kami kemarin baru dapat dari Aceh 17 ton," ujarnya.
Tak hanya itu, Angky juga telah berkoordinasi dengan Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) untuk membeli kedelai hasil impor dan pembelian lokalnya.
Ketua Gakoptindo Aip Syarifuddin pun menyatakan, ia siap menyerap seluruh kedelai Bulog. "Berara pun (kedelai) Bulog, kami siap," ujarnya.
Aip menyatakan, gabungan koperasi yang dipimpinnya beranggotakan 115 ribu perajin tahu tempe di seluruh Indonesia. Mereka membutuhkan 135 ribu ton kedelai tiap bulan. "Jadi, Bulog jangan takut tidak ada yang beli," katanya.
Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan sebelumnya juga telah menetapkan dua harga patokan untuk kedelai. Harga beli dari petani oleh Bulog ditetapkan sebesar Rp 7 ribu per kilogram sejak bulan Juli 2013 dan akan berlaku selama tiga bulan hingga September. Sementara harga jual pada perajin Agustus ditetapkan Rp 7.700 per kilogram dan akan diperbarui setiap bulan.
"Harga jual ke perajin untuk bulan September akan kita tetapkan besok," kata Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Srie Agustina
PINGIT ARIA
http://www.tempo.co/read/news/2013/09/01/090509194/Impor-Kedelai-Bulog-Tiba-Bulan-Depan
Jumat, 30 Agustus 2013
Bulog Belum Kantongi Izin Impor Kedelai Surat izin bagi para importir akan keluar pada pekan ini.
Kementerian Perdagangan berjanji akan menyelesaikan surat perizinan
impor (SPI) kedelai bagi puluhan importir, termasuk kepada Perum Bulog.
"SPI Bulog? Minggu ini, sebelum Jumat, semuanya keluar," kata
Menteri Perdagangan, Gita Wirjawan, usai mengikuti rapat koordinasi di
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Selasa lalu.
Sumber : http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/440269-bulog-belum-kantongi-izin-impor-kedelai
Namun, Dirut Bulog, Sutarto Alimoeso, kepada VIVAnews,
Jumat 30 Agustus 2013, mengaku belum mendapatkan surat tersebut. "Sampai
kemarin sore, kami mengecek dan kelihatannya belum diberi. Suratnya
belum ada. Ya, pagi ini kami akan mengecek ulang," kata dia.
Sutarto mengatakan, Bulog belum mengetahui kapan mereka akan
memasok kedelai dan berapa besarnya. Sebab, mereka belum menerima surat
tersebut. BUMN ini akan menyikapi perizinan impor itu jika sudah
mendapatkan suratnya.
"Tentunya, kami akan mempelajari eksportir itu dapat kedelai dari
mana saja. Apalagi, sekarang waktunya sudah mepet. Kami akan mencari
mana yang menjual kedelai," ujarnya.
Lalu, dia menjelaskan bahwa pengadaan kedelai impor di Indonesia
tidak bisa dilakukan secara singkat. Sebab, semuanya itu memerlukan
waktu, seperti ketersediaan kedelai di negara pemasok.
"Bisnis kan, timing. Kapan kedelai diproduksi di negara
asal. Kapan ada waktunya jual dan panen. Kondisi itu yang kami perlukan
sejak awal. Pengadaan ini tidak serta-merta dilakukan secara singkat,"
kata dia.
Kendati demikian, Sutarto menuturkan, Bulog telah mengontak
negara-negara produsen kedelai seperti Amerika Serikat tentang importasi
bahan pangan ini. "Kami sudah mengontak AS, India, dan Brasil,"
jelasnya.
Sebelumnya, Menteri Perdagangan, Gita Wirjawan, mengatakan,
pemerintah akan mengurus perizinan impor kedelai bagi 22 importir,
termasuk perusahaan pelat merah ini. Perizinan memasok kedelai dari luar
negeri ini bertujuan untuk menjaga stabilitas harga hingga akhir tahun
ini. Surat izin bagi para importir akan keluar pada pekan ini.
Sumber : http://bisnis.news.viva.co.id/news/read/440269-bulog-belum-kantongi-izin-impor-kedelai
Kamis, 22 Agustus 2013
Al-Muthaffifin (Orang-orang Yang Curang Dalam Timbangan)
Masjid Al Hijrah Subdivre Banyumas
Ancaman Bagi Al-Muthaffifiin (1-6)
Allah memulai surat dengan suatu
ancaman bagi orang–orang yang curang dalam timbangan (al-muthaffifin)
dengan kalimat “wail” artinya celakalah, suatu indikasi bahwa mereka akan
mendapatkan azab yang pedih . Siapakah al-muthaffifin dan mengapa
diancam demikian? Mereka adalah orang-orang yang jika menerima takaran mereka
minta ditambah dan jika mereka menimbang atau menakar mereka mengurangi.
Merekalah orang-orang yang curang dalam jual beli, mereka tidak beriman dengan
adanya hari kiamat, hari kebangkitan, hari yang sangat besar, hari
pertanggungjawaban atas apa yang diperbuat.
Tempat Catatan Bagi Orang-orang
Kafir (7-17)
Kemudian Allah menjelaskan bahwa
catatan perbuatan orang-orang durhaka terdapat dalam daftar keburukan dan di
simpan dalam buku khusus bernama “sijjin” (kumpulan buku-buku para
syetan dan orang-orang kafir). Mereka itulah yang mendustakan para rasul dan
risalahnya. Sifat-sifat mereka ada tiga: a). mu’tad (melampaui batas dan
selalu melanggar huku-hukum Allah). b). astim (bergelimang dosa, dengan
menkonsumsi barang haram, berbicara bohong, mengkhianati amanah, dan lain
sebagainya. c). Jika dibacakan Al-Qur’an, mereka mengatakan bahwa itu hanya
dongeng orang-orang terdahulu, itu bukan wahyu dari Allah SWT.
Pada ayat berikutnya Allah lalu
menjelaskan sebab-sebab mengapa mereka mengejek Al-Qur’an di antaranya,
banyaknya dosa yang telah menutup hati mereka dari keimanan kepada Al-Qur’an
sehingga mereka tidak mau menerima kebenaran dan kebaikan. Karenanya mereka
jauh dari rahmat Allah sehingga mereka kelak dilemparkan ke dalam api neraka
yang paling bawah. Dan dikatakan kepada mereka, “inilah azab yang dahulu
selalu kamu dustakan“.
Tempat Catatan Bagi Orang-orang
Beriman (18-24)
Allah menceritakan bahwa buku
perbuatan orang-orang beriman berada di tempat paling tinggi, dikumpulkan dalam
tempat khusus bernama ‘illiyyiin. Setiap catatan disaksikan oleh para
malaikat yang sangat dekat kepada Allah. Adapun gambaran kenikmatan yang
dicapai mereka yang beruntung ini Allah sebutkan pada ayat-ayat berikutnya: a).
Mereka berada dalam kenikmatan yang luar biasa, tidak pernah mereka alami
sebelumnya. Keindahan dipan-dipan yang mereka tempati dan seluruh interior kamarnya
di surga benar-benar tak terhingga, tak terlukis dengan kata-kata. b). Wajah
mereka berseri-seri, putih bersinar. c). Minuman mereka khamar yang tidak
memabukkan, cirinya ada empat: (1) makhutum, tempatnya dilak atau
distempel khusus, sebagai tanda kemulyaan. (2) khitaamuhu misk artinya
setelah minum terasa mencium semerbak wangi kesturi. (3) Minuman itu menjadi
rebutan para penghuni surga. (4) Campurannya khamar murni dari tasnim
(minuman kebanggaan ahli surga).
Ejekan Allah Terhadap Orang-orang
Kafir (29-32)
Allah menceritakan ejekan
orang-orang kafir – seperti; al Walid bin Mughirah, ‘Ubah bin Abi Mu’ith,
al-’Ash bin Wail, al-Aswad bin ‘abd Yaghut, al-’Ash bin Hisyam, Abu Jahal dan
an-Nadhr bin al-Harist- kepada orang-orang beriman – seperti; ‘Ammar, Khabbab,
Shuhaib dan Bilal – selama di dunia: (a) Mereka suka menertawakan orang-orang
beriman. (b) Bila melihat orang-orang beriman, mereka suka mengedip-ngedipkan
matanya dengan nada mengejek sambil berkata: “lihatlah mereka mencapekkan diri
dan menjauhkan kenikmatan duniawi hanya sekedar mencari pahala!” (c) Bila
berkumpul dengan kawan-kawan mereka menampakkan kegembiraan. (d) Selalu
menyebut bahwa orang-orang beriman itu adalah orang-orang sesat.
Hiburan Allah Bagi Orang-orang
Beriman (33-36)
Di akhir surat ini Allah
menggambarkan hiburan bagi mereka yang beriman, kelak di surga: Pertama,
bahwa perbuatan mereka itu ternyata tidak dibiarkan berlalu begitu saja.
Melainkan dicatat secara ketat oleh para malaikat yang mengawasi. Dan semuanya
akan mendapatkan balasan yang setimpal. Kedua, Allah berkata
kepada penghuni surga: perhatikan, sekarang kalian berada di atas dipan-dipan
yang indah sambil menertawakan mereka menderita dalam neraka, dulu mereka telah
menertawakan kalian selama di dunia. Ketiga, Allah bertanya
kepada penghuni surga: sudahkah kamu saksikan bahwa orang-orang kafir
benar-benar menerima akibat perbuatannya yang keji dan kejam selama di dunia?
Suatu pernyataan yang merendahkan derajat mereka dan memulyakan penghuni surga.
Itulah ganjaran yang pantas diterima oleh orang-orang kafir dan orang-orang
melampui batas dalam berbuat dosa. Wallahu a’lam bishshawab.
Rabu, 14 Agustus 2013
Kegiatan Bulogmart Subdivre Banyumas
Persiapan Posko Mudik
Pasar Murah Ramadhan 1434 H
Pasar Murah Ramadhan 1434 H
Pasar Murah Ramadhan 1434 H
Rest Area Mudik 1434 H
Persiapan Posko Mudik Lebaran 1434 H
Pasar Murah Ramadhan 1434 H
Pasar Murah Ramadhan 1434 H
Beras Premium IR 64
Senin, 12 Agustus 2013
Antisipasi Kenaikan Harga Sembako, Bulog Perlu Dijadikan Kementerian
Presiden PHP (Perjuangan Hukum & Pembangunan) Aldian Pinem (foto)
mengatakan, dalam mengantisipasi kenaikan harga sembilan bahan pokok
(Sembako) di pasaran, maka pemerintahah hasil Pemilu 2014 perlu
menjadikan Badan Urusan Logistik (Bulog) menjadi satu kementerian.
“Apalagi, masalah pengadaan daging lembu/sapi yang cenderung harganya selalu melonjak menjelang hari-hari besar keagamaan,”katanya kepada Suara Nasional di Medan, kemarin.
Menurutnya, dengan sistem perdagangan Indonesia masuk dalam “Pasar Bebas” yang tidak bisa dielakkan pemerintah, sehingga terjadinya pelonjakan harga Sembako.
Hal yang dapat diterapkan pemerintah dalam menekan kenaikan harga Sembako, lanjutnya, membuat “Operasi Pasar” dengan cara mengimpor bahan pokok yang menjadi kebutuhan masyarakat. Yakni, melalui pesawat udara.
“Jadi, dengan adanya Kementerian Bulog, maka kementerian ini bersifat independen/merdeka, sehingga tidak terikat lagi dengan kementerian-kementerian lain dalam menstabilkan harga pasar. Sisi lain, dengan keberadaan Bulog sebagai kementerian independen, maka kalangam pedagang tidak sesuka hatinya lagi menetapkan harga kebutuhan pokok masyatakat,” jelas Presiden PHP yang juga advokat kondang.
Dikemukakan kandidat Doktor Ilmu Hukum pada satu universitas terkemuka di Jakarta ini, saat ini ada kecenderungan bahwa keberadaan Bulog hanya menyalurkan beras bagi warga miskin (Raskin) ke daerah-daerah dan tidak dilibatkan dalam mengantisipasi kondisi genting seperti naiknya harga daging lembu/sapi.
Untuk itu, katanya, Bulog harus diberikan kewenangan dalam menyediakan Sembako yang bersifat merdeka. Sehingga, Bulog tidak lagi ketergantungan dengan kementerian-kementerian lainnya.
“Saya yakin, jika Bulog diberikan peran yang besar dan independen, maka gejolak harga di pasaran menjelang datangnya hari-hari besar keagamaan akan dapat diredam, karena mampu menstabilkan harga-harga,” ujarnya. (ral)
Sumber : http://www.suaranasionalnews.com
“Apalagi, masalah pengadaan daging lembu/sapi yang cenderung harganya selalu melonjak menjelang hari-hari besar keagamaan,”katanya kepada Suara Nasional di Medan, kemarin.
Menurutnya, dengan sistem perdagangan Indonesia masuk dalam “Pasar Bebas” yang tidak bisa dielakkan pemerintah, sehingga terjadinya pelonjakan harga Sembako.
Hal yang dapat diterapkan pemerintah dalam menekan kenaikan harga Sembako, lanjutnya, membuat “Operasi Pasar” dengan cara mengimpor bahan pokok yang menjadi kebutuhan masyarakat. Yakni, melalui pesawat udara.
“Jadi, dengan adanya Kementerian Bulog, maka kementerian ini bersifat independen/merdeka, sehingga tidak terikat lagi dengan kementerian-kementerian lain dalam menstabilkan harga pasar. Sisi lain, dengan keberadaan Bulog sebagai kementerian independen, maka kalangam pedagang tidak sesuka hatinya lagi menetapkan harga kebutuhan pokok masyatakat,” jelas Presiden PHP yang juga advokat kondang.
Dikemukakan kandidat Doktor Ilmu Hukum pada satu universitas terkemuka di Jakarta ini, saat ini ada kecenderungan bahwa keberadaan Bulog hanya menyalurkan beras bagi warga miskin (Raskin) ke daerah-daerah dan tidak dilibatkan dalam mengantisipasi kondisi genting seperti naiknya harga daging lembu/sapi.
Untuk itu, katanya, Bulog harus diberikan kewenangan dalam menyediakan Sembako yang bersifat merdeka. Sehingga, Bulog tidak lagi ketergantungan dengan kementerian-kementerian lainnya.
“Saya yakin, jika Bulog diberikan peran yang besar dan independen, maka gejolak harga di pasaran menjelang datangnya hari-hari besar keagamaan akan dapat diredam, karena mampu menstabilkan harga-harga,” ujarnya. (ral)
Sumber : http://www.suaranasionalnews.com
Langganan:
Postingan (Atom)









