Kamis, 21 Mei 2015

Cara Membuat ‘Beras Plastik’

Beras plastik ditemukan di Bekasi, Jawa Barat, Selasa (19/5). Beras plastik juga dikabarkan telah beredar di negara Asia lainnya seperti Singapura, Malaysia dan India.

Sejumlah daerah langsung melakukan sidak guna memastikan tidak ada ‘beras plastik’ di daerahnya masing-masing. Menteri Perdagangan, Rachmat Gobel, juga memastikan bahwa pemerintah tidak membuka kran impor beras. Sehingga, jika ada ‘beras plastik’ masuk wilayah Indonesia, maka itu berarti beras selundupan.

Terlepas dari itu, yuk kita lihat cara pembuatan ‘beras plastik’ berikut ini.

 Beras plastik tidak sepenuhnya berbahan baku plastik. ‘’Ini ‘beras’ terbuat dari campuran kentang, ubi dan plastik,’’ sebut laporan yang dikutip dari situs straitstimes.

Dalam proses pembuatannya, pertama adalah kentang dan ubi dicampur merata lalu dibentuk menjadi bentuk butiran beras.

Adonan campuran kentang dan ubi yang sudah dibentuk seperti butiran beras itu kemudian dicampur dengan resin sintetis.

‘’Beras ini dibuat dengan mencampur bahan kentang dan ubi bersama-sama, membentuknya menjadi butiran beras, dan kemudian menambahkan ‘resin industri’ sebagai bahan pengikat,’’ sebut laporan tersebut.

Situs Very Vietnam menyebut resin ini bisa sangat berbahaya jika dimakan. Resin sulit untuk dicerna sehingga memakan beras plastik seperti benar-benar sedang memakan plastik.

‘’Campur kentang, ubi jalar dengan resin sintetis dan berbentuk dalam bentuk butiran beras yang nyata dan tidak peduli berapa lama beras dimasak, tidak pernah bisa menjadi lembut.’’

http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/15/05/21/nono26-ini-cara-produksi-beras-plastik-part1


Bantu Bulog, Rini Soemarno Dorong Kementerian Beli Gabah Petani

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Rini Soemarno mendorong kementeriannya membeli gabah petani, untuk membantu Badan Urusan Logistik (Bulog) menjaga harga gabah agar stabil saat panen raya tiba.

"Konsep ini tidak akan tumpang tindih dengan Bulog. Kami akan saling bersinergi untuk membantu petani," ucapnya, usai menyerahkan bantuan alat produksi pertanian berupa combine harvester atau alat panen multiguna dan traktor tangan kepada petani Dusun Tlogogede, Kecamatan Tikung, Lamongan, Jawa Timur, Kamis (21/5).

Rini mengakui, harga gabah kerap turun saat panen raya, hal ini terjadi karena sedikit terlambatnya kemampuan Bulog menyerap gabah petani. Meski demikian, Rini tidak serta merta menyebut itu kesalahan Bulog, dan itu terjadi salah satunya karena Bulog tidak memiliki mesin pengering sendiri, sehingga penyerapan yang dilakukannya sedikit terlambat.

Oleh karena itu, kata Rini, untuk membantu petani agar bisa menikmati harga gabah sesuai dengan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) dirinya akan menggerakkan BUMN dibawah kementeriannya. Salah satunya, memerintahkan PT Petrokimia Gresik agar membentuk perusahaan baru untuk membeli gabah petani.

"Saya sudah bicara dengan Petrokimia agar menyiapkan mesin-mesin pengering dengan membentuk perusahaan baru. Mesin-mesin ini akan disiapkan di daerah-daerah produsen gabah, dan saat ini sedang dihitung berapa besaran anggaran yang dibutuhkan," katanya.

Ia berharap, rencana ini sudah bisa terlaksana pada musim depan, sehingga petani bisa menikmati harga gabah sesuai HPP yang ditetapkan Presiden Joko Widodo. Yakni, sesuai Inpres No. 5 Tahun 2015 sebesar Rp3.700 per kilogram dengan kadar air maksimum 25 persen dan kadar hampa 10 persen, atau Rp3.750 per kilogram di penggilingan.

Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Dusun Tlogogede, Bambang Supriyani mengakui, para petani di wilayahnya sering mengeluhkan jatuhnya harga gabah ketika memasuki musim panen raya.

Bambang menyebutkan, harga gabah petani saat musim panen raya bisa turun hingga Rp3.200 per kilogram, atau untuk kondisi gabah kering panen sawah. Sementara itu, kunjungan Rini Soemarno ke Lamongan disambut para petani di Dusun Tlogogede, Desa Wonokromo, dan tujuanya untuk melaksanakan panen raya.

Sebelum melaksanakan panen raya, Rini melakukan pertemuan dengan para petani, serta memberi kesempatan sejumlah petani untuk menyampaikan keluhan dan kendala yang dialami selama ini, salah satunya terkait turunnya harga gabah saat panen raya.

http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/15/05/21/nop6n7-bantu-bulog-rini-soemarno-dorong-kementerian-beli-gabah-petani

Bulog Minta Warga Waspada Beras Bagus Namun Murah

Badan Urusan Logistik Subdivisi Regional Banyumas, Jawa Tengah, mengimbau masyarakat mewaspadai kemungkinan adanya beras kualitas bagus atau premium yang dijual murah.

"Beras kualitas bagus biasanya dijual dengan harga mahal atau lebih tinggi dari beras medium. Namun kalau beras bagus dijual murah, beras itu patut dicurigai sebagai beras palsu atau plastik seperti yang marak diberitakan dalam beberapa hari terakhir," kata Kepala Bulog Subdivre Banyumas Setio Wastono di Purwokerto, Kamis.

Kendati belum mengetahui secara langsung wujud beras plastik, dia mengatakan bahwa berdasarkan pemberitaan, beras palsu itu memiliki ciri seperti beras kualitas premium yang sosohnya mencapai 100 persen.

Oleh karena itu, kata dia, pihaknya akan berkoordinasi dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) beserta pemerintah kabupaten di wilayah kerja Bulog Banyumas yang meliputi Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, dan Cilacap untuk menyosialisasikan ciri-ciri beras plastik kepada masyarakat.

Disinggung mengenai kemungkinan beras plastik akan tercampur dengan beras lokal hasil pengadaan Bulog, dia mengatakan bahwa hal itu tidak mungkin terjadi karena harus melalui seleksi yang cukup ketat.

"Beras lokal yang masuk ke gudang Bulog sosohnya 95 persen sehingga kelihatan putih kecokelatan sehingga kalau ada yang mencapai 100 persen, kami akan curiga karena HPP (Harga Pembelian Pemerintah) sebesar Rp 7.300 per kilogram. Padahal kalau beras yang sosohnya di atas 95 persen hingga 100 persen, harganya pasti lebih tinggi, sekitar Rp 9.000-Rp 10.000 per kilogram," katanya.

Ia mengatakan bahwa pihaknya akan segera melakukan penelitian jika ditemukan adanya beras yang mencurigakan di gudang Bulog.

Dengan demikian, kata dia, beras hasil pengadaan Bulog dipastikan tidak akan tercampur beras plastik.
"Insya Allah yang paling aman dan nyaman, beli beras di BulogMart," ujarnya.

http://www.republika.co.id/berita/nasional/daerah/15/05/21/nooxyp-bulog-minta-warga-waspada-beras-bagus-namun-murah

Rabu, 20 Mei 2015

Seperti Inilah Bahayanya jika Makan Nasi Beras Plastik

ulai saat ini, cermatlah memilih beras. Jangan sampai perut kita dipaksa mengonsumsi nasi dari beras plastik. Sebab, beras yang mengandung bahan sintetis sangat membahayakan kesehatan.
  
Ketua Tim Pangan dan Gizi Jatim Andriyanto mengatakan, plastik bukan merupakan bahan makanan. Sebab, masuknya senyawa plastik ke dalam tubuh dapat menyebabkan kerusakan organ. Misalnya, gangguan hati dan gagal ginjal.
  
Selain itu, mengonsumsi plastik juga dapat menyebabkan kanker. Sebab, plastik mengandung zat dioksin. Di mana, zat tersebut memiliki sifat karsinogenik. "Efek jangka panjangnya ya kanker," katanya. Bahkan, dia menambahkan, mengonsumsi plastik juga dapat menyebabkan kematian.
  
Dia mengatakan, ada sejumlah gejala awal yang harus diwaspadai masyarakat. Mengonsumsi plastik dapat menyebabkan anoreksia atau kehilangan selera makan. Selain itu, gejala lainnya adalah mual dan pusing.
  
Jika terlalu sering dikonsumsi, kandungan plastik pada beras plastik juga dapat menempel pada lambung. Gejala awalnya perut merasa sakit layaknya orang yang menderita maag. "Tapi jika dibiarkan bisa menyebabkan kanker kolom atau kanker lambung," jelasnya.
  
Andriyanto menegaskan, plastik memang tidak layak dikonsumsi. Bahan sintetis hanya boleh digunakan sebagai pembungkus. Itu pun harus dalam pengawasan. "Ada standarnya juga. Tidak semua jenis plastik bisa untuk membungkus makanan," ujar Andriyanto.
  
Dengan banyaknya bahaya yang ditimbulkan, Andriyanto mengimbau masyarakat untuk berhati-hati saat membeli beras. Bahkan, pihaknya juga meminta masyarakat untuk melihat dengan jeli beras yang akan dikonsumsi.
Andriyanto menjelaskan, ada tiga kandungan yang terdapat dalam beras. Yakni, karbohidrat, protein, dan vitamin B1. "Kandungan vitamin B itu yang membuat beras berwarna putih pudar," katanya.
    
Dia menambahkan, beras sehat dilihat dari warnanya yang tidak terlalu putih dan tidak bening. "Biasanya putih pudar, lalu ada bintik di tengah," ucap Andriyanto.
  
Andriyanto berharap pemerintah bisa sigap dengan maraknya peredaran beras plastik. Selain membahayakan kesehatan, mencampur beras plastik ke dalam beras asli sudah masuk ke ranah kriminal.
Sebab, mengoplos beras sangat merugikan konsumen. "Mudah-mudahan pelaku bisa segera ditangkap dan peredarannya bisa dihentikan," tandas Andriyanto.

http://www.jpnn.com/read/2015/05/20/305048/Seperti-Inilah-Bahayanya-jika-Makan-Nasi-Beras-Plastik

Minggu, 17 Mei 2015

Serikat Petani Protes pada Pemerintah Terkait Impor Beras

Serikat Petani Indonesia (SPI) meminta pemerintah tidak lagi mengimpor beras di tengah fakta turunnya Nilai Tukar Petani (NTP).

"Jika pemerintah impor beras, maka NTP akan semakin jatuh. Petani pangan yang mayoritas mengandalkan padi, akan semakin miskin," kata Ketua Umum SPI Henry Saragih dalam siaran pers yang diterima Antara di Jakarta, Jumat.

Menurut dia, kondisi seperti itu merupakan lampu kuning untuk Indonesia, sehingga pemerintah harus bekerja keras, bekerja keras lagi, dan bekerja lebih keras lagi.

"Ini demi visi dan misi kedaulatan pangan di Indonesia yang sudah tercantum di dalam Nawa Cita Jokowi-JK," kata Henry.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), NTP Bulan Mei 2015 terjadi penurunan untuk sektor tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan rakyat.

NTP tanaman pangan turun sebesar 3,44 persen, NTP hortikultura turun 1,02 persen, dan NTP perkebunan rakyat turun 0,40 persen dari bulan Maret 2015.

Penurunan tajam NTP tanaman pangan dari 100,80 menjadi 97,33 disebabkan oleh turunnya indeks yang diterima oleh kelompok petani padi sawah.

Henry mengatakan periode waktu antara panen dan musim gadu (kemarau) menjadi periode yang menyesakkan bagi petani. Selama April 2015, harga gabah kualitas rendah ditingkat petani dihargai Rp3.592,24 per kilogram.

"Ini turun 7,39 persen dibanding bulan sebelumnya. Sementara, di penggilingan gabah dihargai cuma Rp3.670,00 per kilogram atau turun 7,17 persen dibanding periode sebelumnya," ucapnya.

"Padahal Presiden sudah mengeluarkan Instruksi Presiden (Inpres) Harga Pembelian Pemerintah (HPP) untuk harga Gabah Kering Panen (GKP) sebesar Rp3.700 per kilogram," kata Henry.

Selain turunnya harga gabah dan lemahnya penyerapan pemerintah, faktor kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) sebesar Rp500 per liter dan angkutan tansportasi juga turut andil rendahnya NTP tanaman pangan.

Hal tersebut dibuktikan juga dengan laporan BPS pada April ini. Inflasi pedesaan sebesar 0,21 persen ternyata disebabkan oleh naiknya indeks kelompok transportasi dan komunikasi sebesar 2,24 persen.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Sofyan Djalil mengatakan bahwa kemungkinan pemerintah membuka impor beras akan diputuskan pada akhir Mei atau awal Juni 2015.

"Nanti dievaluasi setelah melihat tingkat penyerapan Bulog pada akhir Mei dan awal Juni. Akan tetapi, yang penting (stok) tidak terganggu selama Lebaran," katanya usai rapat koordinasi membahas ketersediaan pangan jelang Lebaran di Jakarta, Selasa (12/5) malam.

http://www.tempo.co/read/news/2015/05/17/090666882/Serikat-Petani-Protes-pada-Pemerintah-Terkait-Impor-Beras

Bulog Diusul Berubah Bentuk Biar Bisa Jaga Harga Pangan

Perum Bulog diusulkan bertransformasi sebagai perpanjangan tangan pemerintah yang bisa mengatur harga beras. Saat ini, Bulog menyandang status Perum atau perusahaan pelat merah yang bertugas sebagai operator pembelian beras.

“Kita merekomendasikan Bulog sekarang dibubarkan, membentuk kelembagaan atau lembaga ketahanan pangan sekalian,” kata Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati di Jakarta, Sabtu (16/5/2015).

Dia menilai dengan status sebagai Perum, Bulog rawan konflik kepentingan. Pasalnya, sebagai BUMN Bulog mesti mendulang untung.

“Tidak ada lagi beban mencari keuntungan konflik interest dengan dirinya sendiri. Lembaga pure yang mendapat penugasan pemerintah. Bentuknya bisa Lembaga Pemerintah non Departemen (LPND), atau namanya Bulog lagi terserah. Tetapi kalau namanya Bulog akan confuse orang punya image suatu lembaga yang rusak,” ujarnya.

Dengan perubahan Bulog menjadi lembaga baru diharapkan mampu menjaga harga komoditas beras di pasar. Hal itu lantaran lembaga baru juga memiliki peranan menjaga pasokan pangan.

“Nah untuk menjalankan peran lembaga buffer stock, harus lembaga yang tidak punya konflik kepentingan,” papar dia.
Dia mencontohkan, saat masa panen maka harga beras akan jatuh. Untuk menjaga harga di pasaran pemerintah melalui lembaga bentukan baru tersebut bisa melakukan intervensi. “Harus ada intervensi pemerintah ketika panen, harus ada instrumen untuk memandu harga,” tandas dia.

http://moneter.co/bulog-diusul-berubah-bentuk-biar-bisa-jaga-harga-pangan/

Minggu, 10 Mei 2015

Bulog: Impor Beras Harus Tunggu Panen Raya Selesai

Kementerian Perdagangan telah memberikan sinyal untuk impor beras menjelang bulan Ramadhan. Namun impor beras kemungkinan baru bisa dilakukan, setelah panen raya selesai.

Hal tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan  ketersediaan beras nasional. Sebab, hingga saat ini Badan Urusan Logistik (Bulog) baru berhasil menyerap sekira 700 ribu ton beras dalam negeri, dibandingkan dengan angka minimal cadangan beras nasional, yakni dua juta ton.

Direktur Utama Bulog, Lenny Sugihat menilai kebijakan importasi beras tidak bisa dipastikan terjadi menjelang Ramadhan atau sebelum pertengahan bulan Juni tahun ini. Sebab, kata Lenny, kepastian impor mesti menunggu usainya masa panen raya, yang berlangsung pada Juni-Juli 2015.

"Presiden kan mengatakan, nanti kita lihat, harus kita hitung apakah perlu atau tidak impor. Tentu //kan// harus menunggu selesai panen dulu, baru dihitung," ujar Lenny Sugihat saat dihubungi Republika, Ahad (10/5).

Lenny mengaku, Bulog tidak ada kendala dalam melakukan penyerapan lantaran Bulog selalu ada di mana pun panen berlangsung. Menurut Lenny lagi, Bulog tidak merasa tersaingi dengan pihak-pihak swasta dalam menyerap produksi petani dalam negeri.

"Kan penyerapan tidak hanya (dilakukan) Bulog. Masyarakat, pedagang, konsumen (juga melakukan penyerapan)," kata dia.

Maka untuk menjaga stabilitas harga beras dan barang-barang kebutuhan pokok lainnya, lanjut Lenny, Bulog siap mengadakan operasi pasar (OP). Lenny tidak menyebut alternatif lain untuk mengantisipasi naiknya konsumsi masyarakat menjelang dan selama bulan Ramadhan.

"Kalau sekarang kan kita konsentrasinya lagi (tentang) panen. Ya kalau diperlukan OP, ya kita siap melakukan OP. Itu kan tinggal menunggu instruksi saja," tandasnya.

http://m.republika.co.id/berita/ekonomi/makro/15/05/10/no4bbb-bulog-impor-beras-harus-tunggu-panen-raya-selesai