Kementerian Pertanian berencana untuk mengubah fungsi Perum Badan Urusan
Logistik (Bulog) sebagai stabilisator (penyeimbang) harga komoditas
beras, dan bukan menjadi lembaga yang mencari pendapatan.
"Kami
sudah melakukan rapat terbatas (ratas) dengan Pak Presiden, Bulog harus
langsung masuk ke petani, hadir di tengah petani. Jadi bukan profit
oriented lagi," kata Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman di Jakarta,
Rabu.
Ketika ditemui dalam acara musyawarah perencanaan
pembangunan pertanian nasional (musrenbangtannas), ia menuturkan rencana
tersebut terkait dengan kondisi harga jual gabah dan beras di pihak
petani yang tidak sebanding dengan harga jual di tingkat pedagang.
Menurut
dia, terjadi ketimpangan marjin keuntungan antara petani dan pedagang
dalam menjual beras ke pasar, sehingga diperlukan upaya penanganan yang
lebih menguntungkan petani.
"Selama ini Bulog membeli beras di
penggilingan, bukan di petani. Ini artinya harga pembelian pemerintah
(HPP) malah berfungsi menyangga pengusaha, bukan menyangga ekonomi
petani," tukas Menteri Andi.
Pada kesempatan tersebut ia pun
mengajak agar seluruh pihak terkait turut bekerjasama dalam
menyelesaikan masalah tersebut, karena ia menilai Bulog tidak bisa jika
harus bergerak sendiri.
Berdasarkan data yang ia paparkan,
diketahui bahwa keuntungan yang diperoleh petani dari penjualan gabah
hanya sekitar 10-20 persen.
Ia memaparkan, harga gabah di
lapangan sekitar Rp3.500-Rp4.000, tetapi jika melihat fakta yang ada
maka ada ketimpangan antara komoditas yang dijual petani dan pedagang
atau pengusaha.
"Jika harga beras Rp12.000 per kilogram, maka
harga gabah Rp5.000 per kilogram. Kalau harga gabah turun jadi Rp3.500
artinya turun 30 persen, tapi berdasarkan data BPS harga beras cuma
turun tiga persen," tutur Andi, menjelaskan.
http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/15/06/03/npd78m-bulog-akan-jadi-stabilisator-pangan
Rabu, 03 Juni 2015
Senin, 01 Juni 2015
Berbentuk BUMN, Fungsi Bulog Terus Dipertanyakan
Fungsi dan kelembagaan Perum Bulog terus
menjadi sorotan. Perusahaan pelat merah ini dianggap sudah tidak
konsisten menjaga ketersediaan stok beras karena harus mencari
keuntungan.
"Kalau memang pemerintah ini menugaskan
Bulog sebagai bufferstock, maka kelembagaan Bulog ini yang harus
direform terlebih dahulu. Lembaga yang memang mempunyai tugas untuk
stabilisasi harga, bukan untuk mencari keuntungan," tegas Enny.
http://www.jpnn.com/read/2015/06/01/307236/Berbentuk-BUMN,-Fungsi-Bulog-Terus-Dipertanyakan
Pengamat ekonomi Institute for
Development of Economic and Finance (Indef) Enny Sri Hartati menilai,
hal tersebut menimbulkan inkonsistensi dalam menjalankan tugas Bulog
sebagai penyangga stabilitas pangan.
"Kalau tugas (Bulog) sebagai penyangga
stok cadangan (bufferstock) beras dikendalikan oleh BUMN yang mencari
keuntungan, maka yang terjadi justru ketidakkonsistenan dalam tugas
utamanya itu," ulas Enny dalam diskusi Pangan Kita di Cikini, Jakarta,
Senin (1/6).
Karena itu, Enny mengingatkan pemerintah
agar memperjelas kelembagaan Bulog. Hal itu berguna agar Bulog lebih
fokus dalam menjalankan tugasnya. Jika fungsi Bulog sudah difokuskan
sebagai unit penyangga stok pangan, semua pembiayaannya nantinya bakal
ditutupi oleh pemerintah.
http://www.jpnn.com/read/2015/06/01/307236/Berbentuk-BUMN,-Fungsi-Bulog-Terus-Dipertanyakan
Bulog Masih Punya 300 Ribu Ton Raskin Sisa 2014
Perum Bulog masih menyimpan 300 ribu ton
beras untuk rumah tangga miskin (raskin) tahun 2014. Direktur Pelayanan
Publik Perum Bulog Lely Pelitasari mengatakan, stok raskin itu baru akan
habis bulan Juli nanti.
"Artinya itu stok lama yang memang banyak
kita tahu. Jadi mudah-mudahan, niat semua managemen paling tidak
penyuluhan beras raskin bulan Agustus sudah bisa menggunakan stok yang
tahun 2015. Sehingga sudah jauh lebih baik," harapnya.
http://www.jpnn.com/read/2015/06/01/307267/Bulog-Masih-Punya-300-Ribu-Ton-Raskin-Sisa-2014
"Kami masih punya stok sisa tahun 2014
kira-kira 300-an ribu ton. Habis kira-kira untuk 1,5 bulan ke depan,"
ujar Lely dalam sebuah diskusi di Cikini, Jakarta Pusat, Senin (1/6).
Dengan habisnya stok raskin 2014 pada
bulan Juli nanti, Lely berharap agar Bulog pada bulan Agustus bisa
mendistribusikan raskin stok baru. Di samping itu, Bulog juga terus
berupaya menjaga kualitas raskin agar tidak mengecewakan masyarakat.
Lely mengakui adanya perubahan kualitas
pada stok beras lama. Namun ia berupaya meyakinkan bahwa untuk raskin
2015 punya kualitas baik.
http://www.jpnn.com/read/2015/06/01/307267/Bulog-Masih-Punya-300-Ribu-Ton-Raskin-Sisa-2014
Minggu, 31 Mei 2015
Lebih Baik Bulog Seperti Dulu
Kenaikan harga pangan harusnya bisa diatur oleh Bulog,
yang dulunya memiliki tugas mengatur harga kebutuhan pokok. Namun sayang
tupoksi itu hilang karena Bulog menjadi perusahaan BUMN.
"Dulu bulog punya fungsi stabilitator harga, sekarang tidak. Sekarang Bulog hanya peduli kepada keuntungan," kata Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati di program Bincang Pagi Metro TV, Minggu (31/5/2015).
Bulog harusnya bisa menghadang para pencari keuntungan lebih di pasar jika dikembalikan fungsinya seperti dulu. Apalagi ketika di saat harga di pasaran jauh berbeda dengan harga yang dijual oleh para petani.
"Bulog harusnya menjadi lembaga khusus, termasuk menjadi Badan Layanan Umum (BLU). Sesudah itu baru dia (Bulog) bisa melawan keuntungan abnormal yang jadi sasaran pedagang. Yang memanfaatkan persaingan tak sehat," terang dia.
Enny juga menambahkan, sebenarnya sistem yang dibangun oleh Bulog dulu sudah baik. Hanya saja ada beberapa kekurangan yang sebenarnya masih bisa diakali.
"Kita berkaca ke Bulog yang dulu. Dulu, semua sistem yang dibangun Bulog bisa dikatakan ideal. Namun dulu kelemahannya ada di pemerintahan. Nah ini bisa diimbangi dengan pengawasan yang tepat. Monitoring pemerintah intinya," tutup Enny.
http://news.metrotvnews.com/read/2015/05/31/131570/lebih-baik-bulog-seperti-dulu
"Dulu bulog punya fungsi stabilitator harga, sekarang tidak. Sekarang Bulog hanya peduli kepada keuntungan," kata Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati di program Bincang Pagi Metro TV, Minggu (31/5/2015).
Bulog harusnya bisa menghadang para pencari keuntungan lebih di pasar jika dikembalikan fungsinya seperti dulu. Apalagi ketika di saat harga di pasaran jauh berbeda dengan harga yang dijual oleh para petani.
"Bulog harusnya menjadi lembaga khusus, termasuk menjadi Badan Layanan Umum (BLU). Sesudah itu baru dia (Bulog) bisa melawan keuntungan abnormal yang jadi sasaran pedagang. Yang memanfaatkan persaingan tak sehat," terang dia.
Enny juga menambahkan, sebenarnya sistem yang dibangun oleh Bulog dulu sudah baik. Hanya saja ada beberapa kekurangan yang sebenarnya masih bisa diakali.
"Kita berkaca ke Bulog yang dulu. Dulu, semua sistem yang dibangun Bulog bisa dikatakan ideal. Namun dulu kelemahannya ada di pemerintahan. Nah ini bisa diimbangi dengan pengawasan yang tepat. Monitoring pemerintah intinya," tutup Enny.
http://news.metrotvnews.com/read/2015/05/31/131570/lebih-baik-bulog-seperti-dulu
Sabtu, 30 Mei 2015
YLKI: Bulog Tak Perlu Dibubarkan
Pengurus
Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Daryatmo mengatakan, Perum
Badan Urusan Logistik (Bulog) tidak perlu dibubarkan karena perannya sebagai
penyangga stabilitas harga.
"Saya pikir tidak (harus dibubarkan Bulog). Kami dari YLKI merasa Bulog diperlukan sekali sebagai badan penyangga stabilitas harga," kata Daryatmo kepada Sindonews di Jakarta, Sabtu (30/5/2015).
Kendati demikian, menurut dia, Bulog sendiri memiliki masalah internal yang harus dibenahi, khususnya masalah pendanaan yang terbatas, sehingga tidak bisa menyerap hasil dari petani.
"Selama ini problem-nya itu (dana), sehingga mereka tidak bisa banyak menyerap dari petani. Sebetulnya fungsi badan penyangga itu adalah ketika musim panen, suplai melimpah, supaya harga jual petani tidak turun, Bulog harus bisa menyerapnya untuk sementara," ujarnya.
Namun sebaliknya, dia menambahkan, ketika kebutuhan meningkat dan cadangan di pasar menipis, Bulog bisa melepaskan berasnya ke pasar, sehingga tidak ada gejolak harga dan kelangkaan beras.
"Jadi menurut saya, Bulog masih sangat berperan penting," ujarnya.
Sementara yang mengaitkan ketidakmampuan Bulog dalam melakukan pengawasan pangan lantaran beredarnya beras plastik yang meresahkan masyarakat, dia mengatakan, tidak bijak menyalahkan Bulog karena beras yang ada di pasaran tidak semuanya berasal dari Bulog.
"Itu kan beras di pasar tidak semuanya dari Bulog, yang penting Bulog bisa menjamin beras yang didistribusikan itu memenuhi standar dan tidak mengandung bahan yang berbahaya atau plastik," imbuh dia.
Sekadar informasi, Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas Santoso sebelumnya mengatakan bahwa Perum Bulog sudah tidak mampu menjalankan fungsinya dengan baik dan saatnya dibubarkan karena tidak mampu menstabilkan harga pangan.
Menurut dia, sejak status Bulog diubah menjadi perusahaan umum (perum), fungsinya sebagai penyangga pangan nasional menjadi terabaikan. Bulog justru lebih fokus untuk mencari keuntungan.
http://ekbis.sindonews.com/read/1007092/34/ylki-bulog-tak-perlu-dibubarkan-1432974640
"Saya pikir tidak (harus dibubarkan Bulog). Kami dari YLKI merasa Bulog diperlukan sekali sebagai badan penyangga stabilitas harga," kata Daryatmo kepada Sindonews di Jakarta, Sabtu (30/5/2015).
Kendati demikian, menurut dia, Bulog sendiri memiliki masalah internal yang harus dibenahi, khususnya masalah pendanaan yang terbatas, sehingga tidak bisa menyerap hasil dari petani.
"Selama ini problem-nya itu (dana), sehingga mereka tidak bisa banyak menyerap dari petani. Sebetulnya fungsi badan penyangga itu adalah ketika musim panen, suplai melimpah, supaya harga jual petani tidak turun, Bulog harus bisa menyerapnya untuk sementara," ujarnya.
Namun sebaliknya, dia menambahkan, ketika kebutuhan meningkat dan cadangan di pasar menipis, Bulog bisa melepaskan berasnya ke pasar, sehingga tidak ada gejolak harga dan kelangkaan beras.
"Jadi menurut saya, Bulog masih sangat berperan penting," ujarnya.
Sementara yang mengaitkan ketidakmampuan Bulog dalam melakukan pengawasan pangan lantaran beredarnya beras plastik yang meresahkan masyarakat, dia mengatakan, tidak bijak menyalahkan Bulog karena beras yang ada di pasaran tidak semuanya berasal dari Bulog.
"Itu kan beras di pasar tidak semuanya dari Bulog, yang penting Bulog bisa menjamin beras yang didistribusikan itu memenuhi standar dan tidak mengandung bahan yang berbahaya atau plastik," imbuh dia.
Sekadar informasi, Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas Santoso sebelumnya mengatakan bahwa Perum Bulog sudah tidak mampu menjalankan fungsinya dengan baik dan saatnya dibubarkan karena tidak mampu menstabilkan harga pangan.
Menurut dia, sejak status Bulog diubah menjadi perusahaan umum (perum), fungsinya sebagai penyangga pangan nasional menjadi terabaikan. Bulog justru lebih fokus untuk mencari keuntungan.
http://ekbis.sindonews.com/read/1007092/34/ylki-bulog-tak-perlu-dibubarkan-1432974640
Akademisi Anggap Wacana Pembubaran Bulog Berbahaya
Akademisi menganggap wacana pembubaran Bulog yang akhir-akhir ini
berkembang berbahaya. Hal ini karena Bulog masih dibutuhkan untuk
menjaga stabilitas pangan sepanjang tahun.
“Pemikiran tersebut sangat berbahaya. Itu kan seperti semangat International Monetery Fund (IMF) dahulu,” ujar Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Profesor Hermanto Siregar dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Jumat (29/5).
Wacana pembubaran Bulog mengemuka akhir-akhir ini. Salah satunya dilontarkan Guru Besar IPB, Profesor Dwi Andreas Santoso, yang merasa Perum Bulog sudah tidak mampu menjalankan fungsinya, sehingga sudah saatnya dibubarkan. “Sah-sah saja beliau memiliki pendapat itu. Namun saya sangat tidak setuju dengan pemikiran tersebut,” ujar Hermanto, menyikapi wacana yang dilontarkan Dwi Andreas.
Menurut Hermanto, jika Bulog dibubarkan, mekanisme perdagangan beras sepenuhnya di tangan pedagang. Kondisi tersebut mudah memunculkan praktik penimbunan yang menyebabkan harga meningkat tajam.
Bulog juga dinilai menjadi instrumen untuk menstabilkan harga. Melalui Bulog, imbuhnya, harga beras bisa dikendalikan sehingga tidak terlalu rendah dan tidak terlalu tinggi. “Kalau tidak ada Bulog, lantas siapa?” tukas dia.
Namun dia mengakui saat ini Bulog kurang berperan optimal, karena tidak diberi keluasaan menjalankan fungsinya. Sebagai contoh, Bulog diamanahkan menyerap sebanyak-banyaknya gabah dan beras dari petani, namun tertahan oleh aturan untuk membeli sesuai harga pembelian petani (HPP).
Hermanto menambahkan, persoalan akan timbul ketika harga beras di tingkat petani jauh melebihi HPP, karena Bulog akan kesulitan bersaing dengan para spekulan. Sebagai solusinya, dia mengusulkan supaya inpres terkait HPP untuk direvisi.
Dia ingin Bulog diberi fleksibilitas agar bisa membeli di atas harga HPP sekitar 10 persen. Selain itu, dia mengusulkan supaya Bulog dialokasikan modal yang cukup supaya bisa menjalankan perannya dengan lebih baik. “Kalau takut terjadi penyalahgunaan kan mudah. Sistem pengawasannya saja yang lebih diperketat,” lanjut Hermanto.
Hal senada dikemukakan Ketua Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras Indonesia (Perpadi) Nellys Sukidi. Dia bahkan mempertanyakan munculnya wacana tersebut. “Saya orang swasta. Tapi saya bilang bahwa rencana itu sangat berbahaya. Ada apa di balik semua itu?,” kata Nellys.
Dia berpendapat jika Bulog dibubarkan, maka negara akan kacau, karena dikuasai pihak swasta. Jika harga beras tinggi, tidak ada institusi yang mengintervensi. "Begitu pula jika harga di tingkat petani rendah yang menyebabkan petani menjerit, siapa yang bisa membeli dengan harga sesuai HPP? Tentu saja Bulog,” katanya.
http://www.beritasatu.com/ekonomi/278376-akademisi-anggap-wacana-pembubaran-bulog-berbahaya.html
“Pemikiran tersebut sangat berbahaya. Itu kan seperti semangat International Monetery Fund (IMF) dahulu,” ujar Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Profesor Hermanto Siregar dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Jumat (29/5).
Wacana pembubaran Bulog mengemuka akhir-akhir ini. Salah satunya dilontarkan Guru Besar IPB, Profesor Dwi Andreas Santoso, yang merasa Perum Bulog sudah tidak mampu menjalankan fungsinya, sehingga sudah saatnya dibubarkan. “Sah-sah saja beliau memiliki pendapat itu. Namun saya sangat tidak setuju dengan pemikiran tersebut,” ujar Hermanto, menyikapi wacana yang dilontarkan Dwi Andreas.
Menurut Hermanto, jika Bulog dibubarkan, mekanisme perdagangan beras sepenuhnya di tangan pedagang. Kondisi tersebut mudah memunculkan praktik penimbunan yang menyebabkan harga meningkat tajam.
Bulog juga dinilai menjadi instrumen untuk menstabilkan harga. Melalui Bulog, imbuhnya, harga beras bisa dikendalikan sehingga tidak terlalu rendah dan tidak terlalu tinggi. “Kalau tidak ada Bulog, lantas siapa?” tukas dia.
Namun dia mengakui saat ini Bulog kurang berperan optimal, karena tidak diberi keluasaan menjalankan fungsinya. Sebagai contoh, Bulog diamanahkan menyerap sebanyak-banyaknya gabah dan beras dari petani, namun tertahan oleh aturan untuk membeli sesuai harga pembelian petani (HPP).
Hermanto menambahkan, persoalan akan timbul ketika harga beras di tingkat petani jauh melebihi HPP, karena Bulog akan kesulitan bersaing dengan para spekulan. Sebagai solusinya, dia mengusulkan supaya inpres terkait HPP untuk direvisi.
Dia ingin Bulog diberi fleksibilitas agar bisa membeli di atas harga HPP sekitar 10 persen. Selain itu, dia mengusulkan supaya Bulog dialokasikan modal yang cukup supaya bisa menjalankan perannya dengan lebih baik. “Kalau takut terjadi penyalahgunaan kan mudah. Sistem pengawasannya saja yang lebih diperketat,” lanjut Hermanto.
Hal senada dikemukakan Ketua Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras Indonesia (Perpadi) Nellys Sukidi. Dia bahkan mempertanyakan munculnya wacana tersebut. “Saya orang swasta. Tapi saya bilang bahwa rencana itu sangat berbahaya. Ada apa di balik semua itu?,” kata Nellys.
Dia berpendapat jika Bulog dibubarkan, maka negara akan kacau, karena dikuasai pihak swasta. Jika harga beras tinggi, tidak ada institusi yang mengintervensi. "Begitu pula jika harga di tingkat petani rendah yang menyebabkan petani menjerit, siapa yang bisa membeli dengan harga sesuai HPP? Tentu saja Bulog,” katanya.
http://www.beritasatu.com/ekonomi/278376-akademisi-anggap-wacana-pembubaran-bulog-berbahaya.html
Kamis, 21 Mei 2015
Ini Ciri Beras Plastik
Masyarakat mulai resah menyusul penemuan beras plastik di Bekasi,
Jawa Barat, Selasa (19/5). Masyarakat khawatir apakah beras yang mereka
beli itu merupakan beras murni ataukah beras plastik.
Seperti dirangkum dari sejumlah berita Antara, berikut ciri-ciri dari beras plastik atau beras sintetis.
Ukuran lebih panjang. Beras plastik memiliki ukuran lebih panjang dari beras murni. ‘’Beras sintetis yang berbahaya, memiliki ciri-ciri beras agak panjang seperti jenis sentra Ramos,’’ ujar Kabid Perdagangan Disperindag Cianjur, Judi Adi Nugroho.
‘’Namun, pada bagian ujungnya tumpul tidak seperti beras asli yang berujung dan agak tajam," katanya. (Baca: Cara Membuat Beras Plastik)
Lebih bening. Ciri lainnya diutarakan oleh R Iwan Wirawan. Menurut Penyidik PNS (PPNS) Diskoperindagsar Kabupaten Sukabumi ini, butiran beras plastik lebih bening. Ini beda dengan beras murni dimana ada putih di tengahnya.
‘’Informasinya beras asal Cina itu butirannya lebih bening dan tidak berserat,’’ kata Iwan. (Baca: Efek Makan Beras Plastik, Bisa Sebabkan Kematian)
Mengapung di air. Sementara PPNS Diskoperindag Provinsi Jawa Timur, Endang Wahyuningsih, memiliki cara sederhana dalam menguji apakah beras plastik atau bukan. (Baca: Tips 'Tidak Salah' Memilih Beras Murni)
Petugas membawa alat tester sederhana berupa gelas berisi air untuk memastikan apakah beras yang diinspeksi mengandung unsur plastik atau tidak. ‘’Jika berasnya mengapung, kemungkinan besar mengandung bahan plastik. Jika tenggelam dipastikan tidak mengandung plastik," kata Endang.
Aromanya hambar. Baliarni (28), warga Bekasi Timur, memiliki pengalaman beda lagi terkait beras plastik. Menurut dia, beras tersebut nampak kurang layak karena basah dan menggumpal layaknya nasi belum matang meski telah melalui proses pemasakan yang benar. (Baca: Ini Lokasi Tempat Pembuatan Beras Plastik)
"Beras ini berbentuk utuh dan bening. Aromanya hambar,’’ kata Baliarni. ‘’Jika dimasukkan ke dalam air, berasnya mengambang.’’
Baliarni mengaku membeli beras tersebut sebulan lalu dari pedagang beras keliling. Namun pada saat itu dia mengira bentuk beras itu merupakan oplosan dengan kualitas rendah.
"Saya baru sadar saat membaca berita di online dan nonton di tv ada beras sintesis yang cirinya mirip seperti beras yang pernah saya masak beberapa bulan lalu," katanya.
http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/15/05/21/noof5t-ini-ciri-beras-plastik
Seperti dirangkum dari sejumlah berita Antara, berikut ciri-ciri dari beras plastik atau beras sintetis.
Ukuran lebih panjang. Beras plastik memiliki ukuran lebih panjang dari beras murni. ‘’Beras sintetis yang berbahaya, memiliki ciri-ciri beras agak panjang seperti jenis sentra Ramos,’’ ujar Kabid Perdagangan Disperindag Cianjur, Judi Adi Nugroho.
‘’Namun, pada bagian ujungnya tumpul tidak seperti beras asli yang berujung dan agak tajam," katanya. (Baca: Cara Membuat Beras Plastik)
Lebih bening. Ciri lainnya diutarakan oleh R Iwan Wirawan. Menurut Penyidik PNS (PPNS) Diskoperindagsar Kabupaten Sukabumi ini, butiran beras plastik lebih bening. Ini beda dengan beras murni dimana ada putih di tengahnya.
‘’Informasinya beras asal Cina itu butirannya lebih bening dan tidak berserat,’’ kata Iwan. (Baca: Efek Makan Beras Plastik, Bisa Sebabkan Kematian)
Mengapung di air. Sementara PPNS Diskoperindag Provinsi Jawa Timur, Endang Wahyuningsih, memiliki cara sederhana dalam menguji apakah beras plastik atau bukan. (Baca: Tips 'Tidak Salah' Memilih Beras Murni)
Petugas membawa alat tester sederhana berupa gelas berisi air untuk memastikan apakah beras yang diinspeksi mengandung unsur plastik atau tidak. ‘’Jika berasnya mengapung, kemungkinan besar mengandung bahan plastik. Jika tenggelam dipastikan tidak mengandung plastik," kata Endang.
Aromanya hambar. Baliarni (28), warga Bekasi Timur, memiliki pengalaman beda lagi terkait beras plastik. Menurut dia, beras tersebut nampak kurang layak karena basah dan menggumpal layaknya nasi belum matang meski telah melalui proses pemasakan yang benar. (Baca: Ini Lokasi Tempat Pembuatan Beras Plastik)
"Beras ini berbentuk utuh dan bening. Aromanya hambar,’’ kata Baliarni. ‘’Jika dimasukkan ke dalam air, berasnya mengambang.’’
Baliarni mengaku membeli beras tersebut sebulan lalu dari pedagang beras keliling. Namun pada saat itu dia mengira bentuk beras itu merupakan oplosan dengan kualitas rendah.
"Saya baru sadar saat membaca berita di online dan nonton di tv ada beras sintesis yang cirinya mirip seperti beras yang pernah saya masak beberapa bulan lalu," katanya.
http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/15/05/21/noof5t-ini-ciri-beras-plastik
Langganan:
Postingan (Atom)