Rabu, 03 Juni 2015

Bulog akan Jadi Stabilisator Pangan

Kementerian Pertanian berencana untuk mengubah fungsi Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) sebagai stabilisator (penyeimbang) harga komoditas beras, dan bukan menjadi lembaga yang mencari pendapatan.

"Kami sudah melakukan rapat terbatas (ratas) dengan Pak Presiden, Bulog harus langsung masuk ke petani, hadir di tengah petani. Jadi bukan profit oriented lagi," kata Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman di Jakarta, Rabu.

Ketika ditemui dalam acara musyawarah perencanaan pembangunan pertanian nasional (musrenbangtannas), ia menuturkan rencana tersebut terkait dengan kondisi harga jual gabah dan beras di pihak petani yang tidak sebanding dengan harga jual di tingkat pedagang.

Menurut dia, terjadi ketimpangan marjin keuntungan antara petani dan pedagang dalam menjual beras ke pasar, sehingga diperlukan upaya penanganan yang lebih menguntungkan petani.

"Selama ini Bulog membeli beras di penggilingan, bukan di petani. Ini artinya harga pembelian pemerintah (HPP) malah berfungsi menyangga pengusaha, bukan menyangga ekonomi petani," tukas Menteri Andi.

Pada kesempatan tersebut ia pun mengajak agar seluruh pihak terkait turut bekerjasama dalam menyelesaikan masalah tersebut, karena ia menilai Bulog tidak bisa jika harus bergerak sendiri.

Berdasarkan data yang ia paparkan, diketahui bahwa keuntungan yang diperoleh petani dari penjualan gabah hanya sekitar 10-20 persen.

Ia memaparkan, harga gabah di lapangan sekitar Rp3.500-Rp4.000, tetapi jika melihat fakta yang ada maka ada ketimpangan antara komoditas yang dijual petani dan pedagang atau pengusaha.

"Jika harga beras Rp12.000 per kilogram, maka harga gabah Rp5.000 per kilogram. Kalau harga gabah turun jadi Rp3.500 artinya turun 30 persen, tapi berdasarkan data BPS harga beras cuma turun tiga persen," tutur Andi, menjelaskan.

http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/15/06/03/npd78m-bulog-akan-jadi-stabilisator-pangan

Senin, 01 Juni 2015

Berbentuk BUMN, Fungsi Bulog Terus Dipertanyakan

Fungsi dan kelembagaan Perum Bulog terus menjadi sorotan. Perusahaan pelat merah ini dianggap sudah tidak konsisten menjaga ketersediaan stok beras karena harus mencari keuntungan.

Pengamat ekonomi Institute for Development of Economic and Finance (Indef) Enny Sri Hartati menilai, hal tersebut menimbulkan inkonsistensi dalam menjalankan tugas Bulog sebagai penyangga stabilitas pangan.

"Kalau tugas (Bulog) sebagai penyangga stok cadangan (bufferstock) beras dikendalikan oleh BUMN yang mencari keuntungan, maka yang terjadi justru ketidakkonsistenan dalam tugas utamanya itu," ulas Enny dalam diskusi Pangan Kita di Cikini, Jakarta, Senin (1/6).

Karena itu, Enny mengingatkan pemerintah agar memperjelas kelembagaan Bulog. Hal itu berguna agar Bulog lebih fokus dalam menjalankan tugasnya. Jika fungsi Bulog sudah difokuskan sebagai unit penyangga stok pangan, semua pembiayaannya nantinya bakal ditutupi oleh pemerintah.

"Kalau memang pemerintah ini menugaskan Bulog sebagai bufferstock, maka kelembagaan Bulog ini yang harus direform terlebih dahulu. Lembaga yang memang mempunyai tugas untuk stabilisasi harga, bukan untuk mencari keuntungan," tegas Enny.

http://www.jpnn.com/read/2015/06/01/307236/Berbentuk-BUMN,-Fungsi-Bulog-Terus-Dipertanyakan

Bulog Masih Punya 300 Ribu Ton Raskin Sisa 2014

Perum Bulog masih menyimpan 300 ribu ton beras untuk rumah tangga miskin (raskin) tahun 2014. Direktur Pelayanan Publik Perum Bulog Lely Pelitasari mengatakan, stok raskin itu baru akan habis bulan Juli nanti.

"Kami masih punya stok sisa tahun 2014 kira-kira 300-an ribu ton. Habis kira-kira untuk 1,5 bulan ke depan," ujar Lely dalam sebuah diskusi di Cikini, Jakarta Pusat, Senin (1/6). 

Dengan habisnya stok raskin 2014 pada bulan Juli nanti, Lely berharap agar Bulog pada bulan Agustus bisa mendistribusikan raskin stok baru. Di samping itu, Bulog juga terus berupaya menjaga kualitas raskin agar tidak mengecewakan masyarakat.

Lely mengakui adanya perubahan kualitas pada stok beras lama. Namun ia berupaya meyakinkan bahwa untuk raskin 2015 punya kualitas baik.

"Artinya itu stok lama yang memang banyak kita tahu. Jadi mudah-mudahan, niat semua managemen paling tidak penyuluhan beras raskin bulan Agustus sudah bisa menggunakan stok yang tahun 2015. Sehingga sudah jauh lebih baik," harapnya.

http://www.jpnn.com/read/2015/06/01/307267/Bulog-Masih-Punya-300-Ribu-Ton-Raskin-Sisa-2014

Minggu, 31 Mei 2015

Lebih Baik Bulog Seperti Dulu

Kenaikan harga pangan harusnya bisa diatur oleh Bulog, yang dulunya memiliki tugas mengatur harga kebutuhan pokok. Namun sayang tupoksi itu hilang karena Bulog menjadi perusahaan BUMN.

"Dulu bulog punya fungsi stabilitator harga, sekarang tidak. Sekarang Bulog hanya peduli kepada keuntungan," kata Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati di program Bincang Pagi Metro TV, Minggu (31/5/2015).

Bulog harusnya bisa menghadang para pencari keuntungan lebih di pasar jika dikembalikan fungsinya seperti dulu. Apalagi ketika di saat harga di pasaran jauh berbeda dengan harga yang dijual oleh para petani.

"Bulog harusnya menjadi lembaga khusus, termasuk menjadi Badan Layanan Umum (BLU). Sesudah itu baru dia (Bulog) bisa melawan keuntungan abnormal yang jadi sasaran pedagang. Yang memanfaatkan persaingan tak sehat," terang dia.

Enny juga menambahkan, sebenarnya sistem yang dibangun oleh Bulog dulu sudah baik. Hanya saja ada beberapa kekurangan yang sebenarnya masih bisa diakali.

"Kita berkaca ke Bulog yang dulu. Dulu, semua sistem yang dibangun Bulog bisa dikatakan ideal. Namun dulu kelemahannya ada di pemerintahan. Nah ini bisa diimbangi dengan pengawasan yang tepat. Monitoring pemerintah intinya," tutup Enny.


http://news.metrotvnews.com/read/2015/05/31/131570/lebih-baik-bulog-seperti-dulu

Sabtu, 30 Mei 2015

YLKI: Bulog Tak Perlu Dibubarkan

Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Daryatmo mengatakan, Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) tidak perlu dibubarkan karena perannya sebagai penyangga stabilitas harga.

"Saya pikir tidak (harus dibubarkan Bulog). Kami dari YLKI merasa Bulog diperlukan sekali sebagai badan penyangga stabilitas harga," kata Daryatmo kepada Sindonews di Jakarta, Sabtu (30/5/2015).

Kendati demikian, menurut dia, Bulog sendiri memiliki masalah internal yang harus dibenahi, khususnya masalah pendanaan yang terbatas, sehingga tidak bisa menyerap hasil dari petani.

"Selama ini problem-nya itu (dana), sehingga mereka tidak bisa banyak menyerap dari petani. Sebetulnya fungsi badan penyangga itu adalah ketika musim panen, suplai melimpah, supaya harga jual petani tidak turun, Bulog harus bisa menyerapnya untuk sementara," ujarnya.

Namun sebaliknya, dia menambahkan, ketika kebutuhan meningkat dan cadangan di pasar menipis, Bulog bisa melepaskan berasnya ke pasar, sehingga tidak ada gejolak harga dan kelangkaan beras.

"Jadi menurut saya, Bulog masih sangat berperan penting," ujarnya.

Sementara yang mengaitkan ketidakmampuan Bulog dalam melakukan pengawasan pangan lantaran beredarnya beras plastik yang meresahkan masyarakat, dia mengatakan, tidak bijak menyalahkan Bulog karena beras yang ada di pasaran tidak semuanya berasal dari Bulog.

"Itu kan beras di pasar tidak semuanya dari Bulog, yang penting Bulog bisa menjamin beras yang didistribusikan itu memenuhi standar dan tidak mengandung bahan yang berbahaya atau plastik," imbuh dia.

Sekadar informasi, Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas Santoso sebelumnya mengatakan bahwa Perum Bulog sudah tidak mampu menjalankan fungsinya dengan baik dan saatnya dibubarkan karena tidak mampu menstabilkan harga pangan.

Menurut dia, sejak status Bulog diubah menjadi perusahaan umum (perum), fungsinya sebagai penyangga pangan nasional menjadi terabaikan. Bulog justru lebih fokus untuk mencari keuntungan. 


http://ekbis.sindonews.com/read/1007092/34/ylki-bulog-tak-perlu-dibubarkan-1432974640

Akademisi Anggap Wacana Pembubaran Bulog Berbahaya

Akademisi menganggap wacana pembubaran Bulog yang akhir-akhir ini berkembang berbahaya. Hal ini karena Bulog masih dibutuhkan untuk menjaga stabilitas pangan sepanjang tahun.

“Pemikiran tersebut sangat berbahaya. Itu kan seperti semangat International Monetery Fund (IMF) dahulu,” ujar Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Profesor Hermanto Siregar dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Jumat (29/5).

Wacana pembubaran Bulog mengemuka akhir-akhir ini. Salah satunya dilontarkan Guru Besar IPB, Profesor Dwi Andreas Santoso, yang merasa Perum Bulog sudah tidak mampu menjalankan fungsinya, sehingga sudah saatnya dibubarkan. “Sah-sah saja beliau memiliki pendapat itu. Namun saya sangat tidak setuju dengan pemikiran tersebut,” ujar Hermanto, menyikapi wacana yang dilontarkan Dwi Andreas.

Menurut Hermanto, jika Bulog dibubarkan, mekanisme perdagangan beras sepenuhnya di tangan pedagang. Kondisi tersebut mudah memunculkan praktik penimbunan yang menyebabkan harga meningkat tajam.

Bulog juga dinilai menjadi instrumen untuk menstabilkan harga. Melalui Bulog, imbuhnya, harga beras bisa dikendalikan sehingga tidak terlalu rendah dan tidak terlalu tinggi. “Kalau tidak ada Bulog, lantas siapa?” tukas dia.

Namun dia mengakui saat ini Bulog kurang berperan optimal, karena tidak diberi keluasaan menjalankan fungsinya. Sebagai contoh, Bulog diamanahkan menyerap sebanyak-banyaknya gabah dan beras dari petani, namun tertahan oleh aturan untuk membeli sesuai harga pembelian petani (HPP).

Hermanto menambahkan, persoalan akan timbul ketika harga beras di tingkat petani jauh melebihi HPP, karena Bulog akan kesulitan bersaing dengan para spekulan. Sebagai solusinya, dia mengusulkan supaya inpres terkait HPP untuk direvisi.

Dia ingin Bulog diberi fleksibilitas agar bisa membeli di atas harga HPP sekitar 10 persen. Selain itu, dia mengusulkan supaya Bulog dialokasikan modal yang cukup supaya bisa menjalankan perannya dengan lebih baik. “Kalau takut terjadi penyalahgunaan kan mudah. Sistem pengawasannya saja yang lebih diperketat,” lanjut Hermanto.

Hal senada dikemukakan Ketua Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras Indonesia (Perpadi) Nellys Sukidi. Dia bahkan mempertanyakan munculnya wacana tersebut. “Saya orang swasta. Tapi saya bilang bahwa rencana itu sangat berbahaya. Ada apa di balik semua itu?,” kata Nellys.

Dia berpendapat jika Bulog dibubarkan, maka negara akan kacau, karena dikuasai pihak swasta. Jika harga beras tinggi, tidak ada institusi yang mengintervensi. "Begitu pula jika harga di tingkat petani rendah yang menyebabkan petani menjerit, siapa yang bisa membeli dengan harga sesuai HPP? Tentu saja Bulog,” katanya.

http://www.beritasatu.com/ekonomi/278376-akademisi-anggap-wacana-pembubaran-bulog-berbahaya.html

Kamis, 21 Mei 2015

Ini Ciri Beras Plastik

Masyarakat mulai resah menyusul penemuan beras plastik di Bekasi, Jawa Barat, Selasa (19/5). Masyarakat khawatir apakah beras yang mereka beli itu merupakan beras murni ataukah beras plastik.

Seperti dirangkum dari sejumlah berita Antara, berikut ciri-ciri dari beras plastik atau beras sintetis.

Ukuran lebih panjang. Beras plastik memiliki ukuran lebih panjang dari beras murni. ‘’Beras sintetis yang berbahaya, memiliki ciri-ciri beras agak panjang seperti jenis sentra Ramos,’’ ujar Kabid Perdagangan Disperindag Cianjur, Judi Adi Nugroho.
‘’Namun, pada bagian ujungnya tumpul tidak seperti beras asli yang berujung dan agak tajam," katanya. (Baca: Cara Membuat Beras Plastik)

Lebih bening. Ciri lainnya diutarakan oleh R Iwan Wirawan. Menurut Penyidik PNS (PPNS) Diskoperindagsar Kabupaten Sukabumi ini,  butiran beras plastik lebih bening. Ini beda dengan beras murni dimana ada putih di tengahnya.
‘’Informasinya beras asal Cina itu butirannya lebih bening dan tidak berserat,’’ kata Iwan. (Baca: Efek Makan Beras Plastik, Bisa Sebabkan Kematian)

Mengapung di air. Sementara PPNS Diskoperindag Provinsi Jawa Timur, Endang Wahyuningsih, memiliki cara sederhana dalam menguji apakah beras plastik atau bukan. (Baca: Tips 'Tidak Salah' Memilih Beras Murni)

Petugas membawa alat tester sederhana berupa gelas berisi air untuk memastikan apakah beras yang diinspeksi mengandung unsur plastik atau tidak. ‘’Jika berasnya mengapung, kemungkinan besar mengandung bahan plastik. Jika tenggelam dipastikan tidak mengandung plastik," kata Endang.

Aromanya hambar. Baliarni (28), warga Bekasi Timur, memiliki pengalaman beda lagi terkait beras plastik. Menurut dia, beras tersebut nampak kurang layak karena basah dan menggumpal layaknya nasi belum matang meski telah melalui proses pemasakan yang benar. (Baca: Ini Lokasi Tempat Pembuatan Beras Plastik)

"Beras ini berbentuk utuh dan bening. Aromanya hambar,’’ kata Baliarni. ‘’Jika dimasukkan ke dalam air, berasnya mengambang.’’

Baliarni mengaku membeli beras tersebut sebulan lalu dari pedagang beras keliling. Namun pada saat itu dia mengira bentuk beras itu merupakan oplosan dengan kualitas rendah.

"Saya baru sadar saat membaca berita di online dan nonton di tv ada beras sintesis yang cirinya mirip seperti beras yang pernah saya masak beberapa bulan lalu," katanya.

http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/15/05/21/noof5t-ini-ciri-beras-plastik