Jumat, 30 Mei 2014

Mereka yang Korbankan Prabowo

Secara tak sengaja saya menemukan video ini.  Judulnya  : Acara Syukuran Pangkostrad Prabowo Subianto yang berlangsung di Institute  for Policy Studies (IPS) di jln Suwiryo no 6 Menteng. Terlihat sahabat Prabowo yang setia Fadli Zon dominan menyambut tetamu.

Acara ini untuk memberi  selamat dan mensyukuri  pengangkatan Prabowo sebagai  Pangkostrad dengan pangkat Letnan Jenderal dan Muchdi Pr sebagai  Danjen Kopassus menggantikan Prabowo. Kalau itu usia Prabowo relatif muda yaitu 46 tahun. 

Gambar memang terlihat sedikit jadul karena berlangsungnya cukup lama,  sekitar 16 tahun lalu yaitu sekitar 1998. Video ini diambil pada tanggal 21 April 1998 , atau hanya tiga minggu sebelum terjadinya kerusuhan Mei berlangsung yang memaksa Presiden Soeharto lengser.

Dalam video itu terlihat para tokoh reformis seperti Amien Rais, Prof Jimly Ash-Shidiqie, Aulia Pohan, Eki Syahruddin dan Din Syamsuddin.  Juga berkumpul pada ‘Jenderal Hijau’ seperti Adityawarman dan Muchdi Pr. Semuanya terlihat masih muda dan belum terlihat kerut di wajah dan kebanyakan badan terlihat masih langsing. Jenderal Hijau yang dekat dengan para ulama itu meeupakan Jenderal faksi Prabowo, kala itu. 

Pada menit ke 18 video itu, syukuran yang juga mengundang anak yatim itu diisi oleh pidato Prof. Jimly Ash-Shidiqie. Ketika beliau menyebutkan anak yatim sebagai mereka yang tidak beruntung, airmata Prabowo berkaca-kaca. Saya percaya itu natural. Tepat pada adegan ini, saya pun tak kuasa menahan air mata. 

Jika memang Prabowo dianggap bersalah atas penculikan, kenapa tidak ramai dan disoal pada April itu ?  Kenapa Jimly tidak menyoal itu ? Bukankah penculikan mahasiswa itu sudah bermula sejak bulan Maret? Apakah kita akan menganggap orang seperti Pak Amien (pada waktu itu) berdiri di dua kaki? 

Dimanakah para Jenderal ‘Merah Putih’ ? Para Jenderal dan calon Jenderal yang dididik lintas generasi oleh L.B.Moerdani? Kubu Jenderal Merah Putih ini kini melahirkan Jenderal-jenderal yang selalu menjadi favorit Ibu Presiden kita sekarang (Ani Yudhoyono). Mereka adalah para jenderal yang mengaku nasionalis tanpa visi yang jelas soal kenegaraan dan mengedepankan loyalitas buta.

Bukankah para Jenderal Merah putih ini menggoreskan noda pada peristiwa pengajian Tanjung Priok pada tahun 1984 yang membawa 24 orang korban tewas. LB Moerdani tak dituntut.Juga peristiwa Talangsari di Lampung  1989 yang membawa korban 27 orang meninggal, dan Hendropriono tak dituntut ? Atau peristiwa operasi militer besar di Aceh yang melibatkan Letjen Ryamizard Ryacudu yang membuat 1000-2000 orang mengungsi. Juga ada Wiranto yang membuat banyak korban ketika pemisahan Timor Timur dari Indonesia. 

Para Jenderal dari kubu Merah Putih itu kini di belakang PDIP. Mulai dari Wiranto, Luhut Panjaitan, Ryamizard Ryacudu. Mereka terlihat innocent dan seakan lebih agung ;  tak pernah terpercik darah korban operasi militer sama sekali.  Sebenarnya, mereka telah mengorbankan Prabowo.

Saya pikir konstelasi 1998, terulang kembali di 2014. Mereka kini berhadapan lagi.

Kini di 2014, ketika Prabowo tampil kembali untuk calon RI 1 dan didukung oleh beberapa partai Nasional dan Islam, ada yang salah ? Dan apakah peristiwa penculikan aktivis dan kerusuhan 1998 merupakan satu-satunya hal yang perlu disoal  karena dosanya jauh lebih besar dibanding Tanjung Priok, Talangsari dan DOM Aceh ?

Kalau saya dan Anda tidak berhati-hati, alih-alih mendukung pemimpin yang baik, bisa-bisa kita mencoblos pasangan yang salah. Para jenderal yang menelikung di 1998, sekarang berdiri rapi di kubu sebelah berusaha menjegal yang kedua kali. Merekalah sebetulnya yang LEBIH bertanggungjawab untuk peristiwa 1998 dibanding Prabowo. 

Link video  : https://www.youtube.com/watch?v=_GJNTXROj-s&index=33&list=PL68DFA1E2576061D4

http://politik.kompasiana.com/2014/05/30/mereka-yang-korbankan-prabowo-661316.html

Mengungkap Misteri Hilangnya 13 Warga pada 1997 - 1998

Mengenai kasus penculikan para aktifis dan sejumlah orang pada tahun 1997-1998, kami masih ingat persis bagaimana Gus Sholah menceritakan kembali sekilas tentang isi dialog Jenderal Wiranto yang saat itu Panglima TNI dengan Letjen Prabowo Subianto yang ketika itu menjabat Pangkostrad.

Terkait tekanan publik yang menuntut penuntasan kasus penculikan aktifis dan sejumlah warga, Panglima TNI Wiranto memanggil Pangkostrad Prabowo ke ruang kerjanya.

Wiranto : “Prabowo, apa aktivis2 korban penculikan itu masih hidup ?
Prabowo :” Siap ! Masih Panglima !”
Wiranto : “Bebaskan mereka !
Prabowo : “Siap Panglima !”
Wiranto : “Siapa yang memberi perintah penculikan itu ?
Prabowo : “Siap ! Saya Panglima !”
Wiranto : “Apakah ada korban yang mati ?”
Prabowo :”Siap ! Tidak ada Panglima, semua masih hidup !”
Wiranto : “Bagus, bebaskan mereka semua !

Berdasarkan perintah Panglima TNI, Pangkostrad Prabowo kemudian membebaskan semua korban penculikan. Sebagian dari korban penculikan tersebut dititipkan di Markas Kodam Jaya dan sebagian lagi dititip di tahanan Polda Metro Jaya.

Persolan mengemuka ketika terdapat perbedaan mengenai jumlah korban penculikan yang dibebaskan Tim Mawar Kopassus dengan data jumlah orang hilang berdasarkan catatan atau informasi yang dihimpun KONTRAS.

Selama kurun waktu 1997 - 1998, KONTRAS (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan) mencatat 23 orang telah hilang. Para warga yang hilang itu terdiri dari berbagai latar belakang profesi, di lokasi dan waktu yang berbeda.

Berdasarkan temuan penyelidikan dan fakta - fakta, perisitiwa penculikan 23 warga itu berlangsung dalam kurun waktu 1-2 tahun dan dilakukan dalam tiga tahap:

“Menjelang pemilu Mei 1997, dalam waktu 2 bulan menjelang sidang MPR dan pada bulan Maret 1998″
Fakta menunjukan dari 23 warga yang hilang, 9 (sembilan) diantara mereka diculik selama periode kedua oleh Tim Mawar Kopassus dan kemudian dilepaskan / dibebaskan dalam keadaan hidup.

Fakta menunjukan tak satu pun dari mereka yang diculik atau hilang pada tahap / periode pertama (menjelang pemilu 1997) dan tahap / periode ketiga yang dibebaskan atau muncul kembali dalam keadaan hidup. Bahkan sebagian besar di antara 13 warga yang hilang itu sampai kini tidak pernah kembali. Diduga semua yang tidak kembali itu sudah meninggal dunia.

Tim Mawar Terbukti Hanya Menculik 9 Aktifis dan Semua Dikembalikan Hidup
Prabowo dalam pemeriksaan terhadap dirinya, menegaskan bahwa Tim Mawar yang dibawah komandonya hanya menculik 9 orang aktifis. Prabowo juga menegaskan semua korban penculikan Tim Mawar telah dibebaskan dalam keadaan hidup dan sehat wal afiat.

Penegasan Prabowo dalam kesaksiannya itu diperkuat oleh kesaksian seluruh anggota Tim Mawar Kopassus yang mengatakan bahwa mereka mendapat perintah dari komandan Tim Mawar (Kolonel Heriawan), hanya untuk melakukan penangkapan dan penahanan atas sembilan orang aktifis yang diduga dapat mengganggu keamanan dan berpotensi mengacaukan jalannya sidang umum MPR pada Maret 1998.

Aksi Pihak Ketiga sebagai Pelaku Penghilangan 13 Warga

Melalui penelitian terhadap semua informasi terkait hilangnya 23 warga tersebut, ditemukan sejumlah fakta yang dapat dijadikan dasar dalam menganalisis sebab musabab dan para pelaku penghilangan 23 warga itu.
1. Berdasarkan informasi dan fakta yang ada, ditemukan perbedaan mendasar mengenai waktu atau periode terjadinya penghilangan atau penculikan.
2. Ditemukan juga perbedaan mengenai latar belakang para korban penculikan berdasarkan periode penghilangannya.
3. Ditemukan juga perbedaan modus operandi penghilangan / penculikan
4. Ditemukan juga perbedaan akhir dari nasib korban para korban penculikan / penghilangan.

Analisa terhadap informasi dan fakta - fakta tersebut di atas, memberikan kesimpulan yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, sebagai berikut :

1. Semua dari sembilan orang korban penculikan tim mawar telah dikembalikan dalam kondisi hidup. Mereka terbukti hanya “diamankan” oleh Tim Mawar sesuai perintah komandan.
2. Tidak satu pun dari sembilan korban penculikan Tim Mawar yang dibunuh atau dilenyapkan karena perintah yang diberikan komandan atau atasan mereka hanya sebatas “mengamankan” para aktifis yang berpotensi mengganggu jalannya sidang umum MPR Maret 1998.
3. Reputasi Kopassus, kesatuan di mana Tim Mawar berasal, yang sangat kuat disiplin dalam menjalankan perintah atasan, menegaskan bahwa Tim Mawar mustahil melakukan tindakan di luar perintah komandan /atasan. Sehingga tidak mungkin ada anggota Kopassus yang berani melakukan improvisasi dengan melanggar perintah yang diterima atau sudah ditetapkan atasannya.
4. Pernyataan mantan Danjen Kopassus Prabowo ketika menjawab pertanyaan Panglima TNI, yang dengan tegas, spontan dan tanpa ragu menjawab “SEMUA masih hidup !” Merupakan indikasi atau petunjuk bahwa benar jumlah korban yang diculik Tim Mawar adalah 9 (sembilan) orang.
5. Tidak pernah sekali pun Prabowo menjawab : “Sebagian”. Terkait dengan jumlah korban penculikan yang masih hidup ketika ditanya Panglima TNI, penyidik Puspom TNI dan TGPF. Prabowo tahu persis jumlah aktifis yang dijadikan target penculikan dan rangka pengamanan SU MPR 1 - 11 Maret 1998.
6. Hasil investigasi Tim Gabungan Pencari Fakta & Tim Penyidik Puspom TNI menyebutkan bahwa Tim investigasi TIDAK terdapat bukti yang menunjukan bahwa Prabowo dan Tim Mawar Kopassus sebagai PELAKU penculikan atau penghilangan 14 warga yang lain.

Fakta yang sangat menarik adalah temuan penyidik di mana meski sudah diyakinkan kepada para anggota Tim Mawar, bahwa jika mereka mau mengakui sebagai pelaku penghilangan 13 atau sebagian dari 13 warga itu, kesalahan mereka akan dibebankan kepada komandan mereka dan kepada Prabowo selaku Danjen Kopassus. Namun, mereka tetap bersikukuh membantah sebagai pelaku penghilangan semua 13 warga atau sebagian dari 13 warga yang lain.

Berdasarkan temuan tersebut, semakin memperkuat bahwa Tim Mawar Kopassus hanya telah melakukan penculikan terhadap sembilan aktifis saja dan tidak terhadap 13 (tiga belas) warga yang lain. Patut diduga, penghilangan 13 warga yang lain itu, dilakukan oleh pihak ketiga, di luar Tim Mawar Kopassus, atau terjebak menjadi korban dalam peristiwa kerusuhan atau jadi korban kejahatan.

Siapakah Pelaku Penghilangan 13 Warga ?

Berdasarkan hasil temuan di atas dan profiling (analisa terhadap masing - masing latar belang dan profil) korban penculikan dan penghilangan 23 warga tersebut, dapat disampaikan sebagai berikut :
Seluruh 13 warga yang hilang tersebut, tempus delicti atau waktu kejadiannya adalah pada tahap atau periode I dan tahap atau periode III.

Penculikan atau penghilangan pada periode pertama dan ketiga tersebut TIDAK TERBUKTI telah dilakukan oleh Tim Mawar Kopassus.

TIM MAWAR maupun Prabowo telah bersumpah atas nama kehormatan TNI dan sumpah prajurit bahwa mereka sama sekali TIDAK melakukan penculikan dan penghilangan 13 warga dimaksud.

Dari profiling ke 13 warga, yakni :
1. Petrus B Anugrah, mahasiswa Unair Surabaya, hilang di Jakarta, 30 Maret 1998
2. Herman Hendarwan, mahasiswa Unair Surabaya, hilang di Jakarta, 30 Maret 1988
3. Suyat aktivis SMID, hilang di Solo pada 12 Februari 1998
4. Wiji Thukul, penyair, aktivis JAKER,  hilang di Jakarta pada 10 Januari 1998
5. Yani Afri, seorang sopir PDI Mega, hilang di Jakarta pada 26 April 1997
6. Sonny, seorang sopir, teman Yani Afri, hilang di Jakarta pada 26 April 1997
7. Dedi Hamdun, seorang pengusaha, hilang di Jakarta, pada 29 Mei 1997
8. Noval Al Katiri, pengusaha, teman Dedi Hamdun, hilang di Jakarta 29 Mei 1997
9. Ismail,  sopir Deddy Hamdun, hilang di Jakarta, pada 29 Mei 1997
10. Ucok M Siahaan, mahasiswa Perbanas, hilang di Jakarta, pada 14 Mei 1998
11. Hendra Hambali, siswa SMU, hilang saat kerusuhan di Glodok, Jakarta 15 Mei 199
12. Yadin Muhidin, siswa Sekolah Pelayaran, hilang di Jakarta, pada 14 Mei 1998
13. Abdun Nasser, kontraktor, hilang saat kerusuhan di Jakarta, pada 14 Mei 1998,

Dan satu orang korban ;
14. Leonardus Gilang, ditemukan meninggal dunia.
Perhatikan dan cermati baik - baik latar belakang para korban (profile), waktu kejadian (tempus delicti), tempat kejadian (locus delicti) dan modus operandi terkait hilangnya 14 warga di atas.

Sekarang mari kita bandingkan dan analisa 9 korban penculikan Tim Mawar Kopasssus yang hanya diamankan dan dikembalikan hidup - hidup.

1. Desmond Junaidi Mahesa, diculik di LBH, Jakarta, 4 Februari 1998 (aktifis)
2. Haryanto Taslam, 4 Februari 1998 (politisi PDI)
3. Pius Lustrilanang, 2 Februari 1998 (aktifis)
4. Faisol Reza, YLBHI, Jakarta, 12 Maret 1998 (aktifis)
5. Rahardjo W Djati, YLBHI, Jakarta, 12 Maret 1998 (aktifis)
6. Nezar Patria, 13 Maret 1998 (aktifis)
7. Aan Rusdianto,, 13 Maret 1998 (aktifis)
8. Mugianto, 13 Maret 1998 (aktifis)
9. Andi Arief, 28 Maret 1998 (aktifis)

Nah, sangat terlihat perbedaannya antara 9 orang korban penculikan Tim Mawar Kopassus dengan 13 warga yang dinyatakan masih hilang.

Perbedaan itu antara lain :

1. Latar belakang ex korban penculikan Tim Mawar Kopassus berbeda bila dibandingkan dengan latar belakang 13 warga yang hilang.
2. Tim Mawar menculik 8 aktifis mahasiswa yang cukup menonjol peranannya dalam kancah pergerakan menentang rezim orde baru, plus 1 orang yakni Haryanto Taslam yang berprofesi sebagai politisi PDI yang oposan juga menentang rezim orba.
3. Para korban penculikan Tim Mawar Kopassus terbukti TIDAK ACAK. Profil mereka semuanya sama atau mirip, yakni para AKTIFIS mahasiswa. Kecuali Haryanto Taslam. Apakah Haryanto Taslam mempunyai keterkaitan dengan 8 orang aktifis mahasiswa itu? Apakah ia adalah mentor atau donatur /penyandang dana kegiatan para aktifis itu ? Masih merupakan tanda tanya.
4. Waktu kejadian atau peristiwa penculikan para aktifis mahasiswa oleh Tim Mawar dilakukan pada periode yang sama. Terbagi atas 2 gelombang atau tahap penculikan : 2-4 Februari 1998 dan 12-13 Maret 1998. Kecuali Andi Arief (28 Maret 1998).
5. Khusus untuk Andi Arief, perbedaan waktu penculikan terhadap dirinya, berdasarkan kesaksian para pelaku (anggota Tim Mawar), dikarenakan Andi Arief gagal ‘diamankan’ pada tanggal 12-13 Maret 1998. Andi Arief yang dicari - cari Tim Mawar di beberapa tempat di Jakarta, gagal ditemukan Tim Mawar.. Demikian juga ketika Tim Mawar memburu Andi Arief ke Yogyakarta, juga tidak ditemukan. Andi Arief baru berhasil ditangkap dari tempat persembunyiannya di suatu tempat di Lampung.
6. Diduga Andi Arief sudah keburu melarikan diri dan bersembunyi ketika mengetahui beberapa temannya sesama aktifis menghilang dan tersiar informasi bahwa mereka sedang dalam pengejaran tim khusus dalam rangka pengamanan SU MPR. Perbedaan waktu sekitar 2 minggu antara penculikan 5 aktifis teman Andi Arief dengan waktu penangkapan paksa andi arif adalah dikarenakan ia sudah terlebih dahulu melarikan diri dan bersembunyi di berbagai tempat, sebelum ditangkap di Lampung.
7. Target sasaran atau target penculikan Tim Mawar sangat jelas, fokus dan terarah, yakni para aktifis mahasiswa yang berpotensi “dapat membahayakan negara dan mengganggu jalannya sidang umum MPR Maret 1998″.
8. Modus penculikan oleh Tim Mawar berdasarkan perintah atasan. Tangkap dan amankan (tahan). Tidak ada sama sekali perintah untuk mengeksekusi (membunuh atau melenyapkan) para aktifis yang sudah tertangkap.
9. Semua aktifis yang ditangkap Tim Mawar memberikan kesaksian yang seragam atau setidak - tidaknya hampir sama antara satu dan lainnya.

Profiling, Modus Operandi, Tempus Delicti dan Locus Delicti pada 13 Warga
Berdasarkan analisis terhadap 13 warga korban yang hilang hingga kini, dapat disampaikan kesimpulan sebagai berikut :

1. Ke 13 korban hilang terbukti terdapat perbedaan mendasar mengenai latar belakang dan profesinya.
2. Para korban terbukti hilang/ dihilangkan secara acak. Tidak ada kesamaan.
3. Terdapat perbedaan waktu hilang atau waktu saat dihilangkan.
4. Ke 14 warga yang hilang itu semuanya tidak memenuhi kriteria atau kategori “berpotensi membahayakan negara dan atau mengganggu jalannya sidang umum MPR Maret 1998″.
5. Sebagian di antara mereka, kemungkinan besar hilang atau tewas karena peristiwa kerusuhan Mei 1998. Patut diduga, diantara mereka berada dalam pusaran gejolak kerusuhan Mei 1998.
6. Penghilangan atas nama Suyat pada 12 Februari 1998, tidak sesuai dengan tempus delicti saat aksi penculikan Tim Mawar Kopasssus dilakukan (2-4 Februari 1998)
7. Penghilangan Widji Thukul, 10 Januari 1998 jauh sebelum perintah pengamanan para aktifis oleh Tim Mawar diberikan. Widji Tukul juga tidak sesuai profile aktifis yang menjadi target Tim Mawar.
8. Penghilangan Petrus Bima Anugerah dan Herman Hendarwan pada hari dan tanggal yang sama yakni 30 Maret 1998, terbukti TIDAK dilakukan oleh Tim Mawar. Bahkan terdapat indikasi kuat ada pihak ketiga yang membonceng / menunggangi isu penculikan Tim Mawar yang terakhir kali adalah pada target korban : Andi Arief (28 Maret 1998).
9. Pemboncengan isu penculikan oleh pihak ketiga terindikasi kuat karena khusus pada peristiwa penculikan / penangkapan paksa Andi Arief oleh Tim Mawar, aksi mereka (Tim Mawar) kepergok oleh aparat polisi yang bertugas di penyeberangan Ferry Bakahueni, Lampung. Di mana pada saat Andi Arief yang sudah tertangkap dan ditutup matanya, bersama Tim Mawar Kopassus  terlambat masuk kapal ferry penyeberangan dan sempat dilarang /dicegah masuk oleh anggota polri yang bertugas di tempat.

Ketika petugas polisi mencegat Tim Mawar Kopassus (semua berpakaian sipil) yang membawa Andi Arief masuk ke kapal Ferry, salah satu anggota Tim Mawar menunjukan tanda pengenal anggota Kopassus kepada petugas polisi yang menghadang.

Meski sudah diperlihatkan tanda pengenal oleh Tim Mawar dan diizinkan masuk ke kapal Ferry,  petugas polisi Bakauheni tersebut segera melaporkan peristiwa itu kepada atasannya dan kemudian oleh atasan polisi itu dilaporkan kepada Komandan Polisi Militer TNI (Dan Pomdam) Lampung.

Informasi itulah yang kemudian secara berantai sampai ke DanPuspom TNI Mayjen TNI Syamsu Djalal, di Jakarta. Penangkapan Andi Arief oleh Tim Mawar yang sempat ‘bocor’ atau dipergoki inilah yang besar kemungkinan juga diketahui oleh pihak ketiga yang kemudian memboncengi operasi Tim Mawar dengan melakukan tindakan atau operasi penculikan lainnya, yang seolah - olah atau memang sengaja dikesankan dilakukan oleh Tim Mawar.

Motif dan Tujuan Penghilangan 13 Warga

Motif : Membalas sakit hati atau dendam terkait persaingan antar jenderal yang berbeda kubu atau faksi, yang terjadi selama beberapa tahun dan menghasilkan kubu Prabowo (TNI Hijau) sebagai pemenang dan kubu merah sebagai pihak yang kalah.

Tujuan antara : memfitnah dan menghancurkan Prabowo Subianto dan jenderal / perwira dari faksi TNI Hijau, melalui pengkambinghitaman atau fitnah kepada Tim Mawar Kopassus yang kebetulan sedang melaksanakan perintah operasi pengamanan terhadap aktifis - aktifis mahasiswa.

Tujuan akhir : mengembalikan posisi kekuasaan dan pengaruh TNI Merah seperti pada saat sebelum tahun 1990. Di mana Pemerintah dan TNI bersikap represif terhadap Islam dan umat Islam Indonesia.

Kesimpulan dari uraian analisis di atas adalah sebagai berikut :

1. Waktu penculikan dan waktu penghilangan : berbeda


2. Target penculikan dan target penghilangan : berbeda

3. Modus Operandi penculikan dan modus operandi penghilangan : berbeda

4. Tindakan atau treatment terhadap korban penculikan dan penghilangan : berbeda

5. PELAKU penculikan dan pelaku penghilangan : PASTI BERBEDA

6. PELAKU penghilangan bertujuan mengkambinghitamkan / memfitnah Tim Mawar

7. Prabowo hanya sasaran antara, tujuan utama melemahkan TNI melalui pelemahan Kopassus.

8. PELAKU menggunakan rekayasa OPINI PUBLIK dan DISINFORMASI PUBLIK sebagai tekanan dan pembentuk persepsi.

9. PELAKU menggunakan jaringan media anti Islam sebagai lokomotif dan pionir pembuat isu atau opini palsu.

10. PELAKU memanfaatkan jaringan LSM dan aktifis serta mengusung isu HAM, untuk memperkuat tekanan opini publik dan menghancurkan karakter Prabowo, Kopassus dan TNI.

Berdasarkan analisis terhadap fakta dan informasi sebagaimana diuraikan di atas korban, maka dapat disimpulkan :

———– “Pelaku Penghilangan 13 Warga adalah BUKAN TIM MAWAR KOPASSUS” ———-
Analisa Terhadap Pelaku Penghilangan 13 Warga :
Siapakah pelaku penghilangan semua atau sebagian dari 14 orang hilang yang sebenarnya? Pelaku yang pasti hingga kini : Tidak diketahui.

Namun, dapat disampaikan analisis sebagai berikut :

Terdapat sejumlah perbedaan yang material dan signifikan atas ;

1. Motif

2. Modus Operandi

3. Treatment atau tindakan terhadap para korban

4. Jejak Pelaku

5. Profile pihak yang diuntungkan atas isu 14 warga hilang

6. Profile pihak yang dirugikan atas isu 14 warga hilang

7. Analisa situasi saat peristiwa penghilangan terjadi

Pembahasan atas MOTIF

Motif dan Tujuan :
1. Fitnah dan mengkambinghitamkan Prabowo - Kopasssus - TNI

2. Melemahkan Kopassus - TNI - Pak Harto

3. Menarik perhatian dan tekanan dunia / internasional dengan isu - isu sensitif : HAM dan SARA

4. Pembalasan dendam sekaligus kembali pengaruh dan kekuasaan dari kelompok atau elit Islam yang mulai mendapat peran proporsional setelah tahun 1990.

5. Menciptakan chaos atau kekacauan sebagai pintu masuk atau alasan kuat intervensi pihak asing
Periode ‘Bulan Madu’ Pak Harto - TNI - Islam

Kenapa Pak Harto, TNI, Kopassus harus dilemahkan ?

Bagaimana posisi politik Pak Harto saat itu ?

Periode tahun 1990 - 1998 adalah masa bulan madu antara Pak Harto dengan umat Islam Indonesia, setelah selama 24 tahun Pak Harto dan Orde Baru berkuasa, umat Islam terpinggirkan dan termarginalkan.

Pemerintahan Suharto selama 24 tahun sebelumnya lebih banyak mengakomodir kepentingan umat non Islam, terutama di sektor pemerintahan/ birokrasi, TNI, Politik dan Ekonomi.
Rezim Suharto selama 24 tahun disokong penuh oleh elit katolik di pemerintahan dan TNI serta etnis Tionghoa (non pribumi) di sektor ekonomi. Perlakuan pemerintah orba saat itu cenderung represif dan curiga terhadap Islam Indonesia.

Perubahan besar dan radikal terjadi paska 1989, di mana Pak Harto dan Ibu Tien Suharto menjadi muslim (mualaf) dan kemudian dilegitimasi dengan keberangkatan mereka ke Tanah Suci untuk beribadah haji. Saat yang sama, Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) didirikan di Universitas Brawajaya, Malang pada 7 Desember 1990, yang diketuai oleh. Menristek BJ Habibie, anggota Kabinet Pembangunan V, yang dikenal sangat dekat hubungannya dengan Pak. Harto dan keluarga Cendana.

Perubahan besar terhadap diri Pak Harto, Ibu Tien dan Keluarga Cendana, tidak terlepas dari peran sentral Prabowo Subianto, menantu Pak Harto dari putrinya Titik Suharto. Setelah ‘menghijaukan TNI’ dan ‘menghijaukan Cendana’, pengaruh dan kekuasaan Prabowo membesar sehingga mengkhawatirkan pihak lain terutama kubu TNI Merah. Mereka terusik hegemoni kekuasaannya karena ‘kebangkitan Islam Indonesia’.

Peristiwa - peristiwa itu menjadi tonggak sejarah kemajuan umat Islam Indonesia, dalam hal peran serta dan keterlibatan aktif di pemerintahan dan ekonomi nasional, setelah puluhan tahun menjadi umat mayoritas yang terzalimi dan tertindas. Mulai muncul dan tersebar tokoh - tokoh Islam menjadi pejabat tinggi negara dan pengusaha papan atas.

Perubahan sikap Pak Harto dan keluarga Cendana menjadi faktor utama mendorong perubahan ekstrim di TNI, Pemerintahaan dan sektor Ekonomi RI, yang menguntungkan umat Islam, dianggap sebagai ancaman oleh kelompok tertentu, terutama bagi mereka yang merasa disingkirkan. Mereka inilah yang menjadi otak dan dalang pelaku penghilangan 13 warga masyarakat, sekaligus melancarkan serangan opini dan fitnah terhadap Prabowo dan Kopassus.

Pelemahan terhadap Kopassus dan TNI pada akhirnya pasti akan melemahkan kekuasaan Pak Harto, apalagi pada saat itu umat Islam Indonesia belum cukup matang dalam berpolitik, tidak bersatu dan mudah diadudomba. Sehingga akhirnya, Pak. Harto harus turun (mundur) dengan terpaksa, setelah terjadinya rangkaian peristiwa besar, yakni : kasus penculikan, krisis ekonomi, kerusuhan 13 Mei, kerusuhan di berbagai kota dan daerah, peristiwa penembakan mahasiswa Trisakti, dan demo jutaan massa di Senayan, Jakarta.

Pak Harto akhirnya diturunkan oleh jutaan massa yang sebagian besar adalah umat Islam, yang pada saat itu sedang mengalami kebangkitan ekonomi dan politik sebagai konsekwensi perubahan sikap Pak Harto terhadap umat Islam.

Sungguh sangat disesalkan, mayoritas elit dan tokoh Islam Indonesia tidak menyadari adanya ‘Penumpang Gelap’ yang mengadudomba Pak Harto & TNI dengan umat Islam sendiri !
Pelaku penghilangan 13 orang warga pada tahun 1997-1998 adalah pelaku yang sama dengan pihak atau tokoh tertentu yang kini berada di kubu salah satu calon presiden dan kembali berhadapan dengan calon presiden lain : Prabowo Subianto.

Sekurang - kurangnya, mereka yang di kubu capres lain dan menghadapi kubu capres Prabowo adalah para kader TNI Merah dan sekelompok elit yang dulu mengadudomba rakyat Indonesia dengan Pak. Harto dan TNI.

Sadarlah … Bukalah mata dan pikiran anda selebar - lebarnya !

Jakarta, Mei 2014

http://politik.kompasiana.com/2014/05/30/mengungkap-misteri-hilangnya-13-warga-pada-1997-1998-661303.html

Bulog Banyumas Siapkan Sembako Ramadan

Untuk mengantisipasi kenaikan harga sembako menjelang puasa dan lebaran 2014, Bulog Sub Divre Banyumas, melalui Bulog Mart menyiapkan stok sembako berupa gula pasir, minyak goreng dan beras. Persedian sembako tersebut dijual dibawah  harga pasaran.

Kepala Bulog Sub Divre Banyumas, Sugeng Rahayumenjelaskan, Bulog Mart menjual gula pasir, minyak goreng, dan beras dibawah harga pasaran. "Tujuanya untuk mengendalikan harga di pasaran, sehingga harga di pasaran tidak mahal," kata  Sugeng Rahayu.

Menurutnya untuk gula pasir yang sudah disiapkan sebanyak 165 ton, minyak goreng kelapa sawit 500 dus, sedang persedian beras tidak terhingga. Kebutuhan sembako sewaktu waktu bisa ditambah mengikuti kebutuhan di pasar. Sembako itu dijual di sembilan otlet Bulog Mart di sembilan gudang yang tersebar di empat kabupaten yakni Banyumas, Purbalingga, Banjarngera, Cilacap dan di kantor Bulog Sub Divre Banyumas di Purwokerto.

" Silahkan siapa saja boleh membeli dengan harga jauh di bawah harga pasaran," ungkapnya.  Ia menambahkan untuk harga gula pasir di jual tiap kilogrmanya Rp 9.200,  minyak goreng setiap kemasan satu botol ukuran 900 mililiter harga eceran Rp 11.500 dan Rp. 11.100 harga grosir , untuk beras premium broken 15 persen dijual Rp 8.500.

Bulog Mart Banyumas juga menerima pembelian jumlah besar, khususnya bagi perusahaan  swasta atau instansi  pemerintahan yang akan membeli sembako untuk kebutuhan puasa dan lebaran. Diharapkan dengan ketersedian sembako di Bulog Banyumas, maka kenaikan harga sembako di pasaran bisa dikendalikan. Sejauh pemantaun KR, di sejumlah pasar tradisional seperti Pasar Wage, Manis, dan Karanglewas Purwokerto, sejumlah barang sembako mulai merambat naik.  Seperti harga beras jenis medium sudah mencapai Rp 7.500 hingga Rp 8.000/kilogram, gula pasir Rp 10.500/kilogram. (Dri)

http://krjogja.com/read/217788/bulog-siapkan-sembako-ramadan.kr

Rabu, 28 Mei 2014

VISI DAN MISI KEDUA PASANGAN CAPRES PRABOWO – HATTA DAN JOKOWI - JK



Visi dan misi Prabowo-Hatta

Prabowo-Hatta mendeklarasikan visi yang sepenuh-penuhnya menjadi maksud dan tujuan dari para Pendiri Bangsa, yaitu:

Membangun Indonesia yang bersatu, berdaulat, adil dan makmur serta bermartabat

Dan untuk itu Prabowo-Hatta akan mengemban MISI sebagai berikut:

1. Mewujudkan Indonesia yang berdaulat, aman dan damai, bermartabat, demokratis, berperan aktif dalam perdamaian dunia, serta konsisten melaksanakan Pancasila dan UUD 45.

2. Mewujudkan Indonesia yang adil, makmur, berkerakyatan, dan percaya diri menghadapi globalisasi.

3. Mewujudkan Indonesia yang berkeadilan sosial, dengan sumber daya manusia yang berakhlak berbudaya luhur; berkualitas tinggi: sehat, cerdas, kreatif dan trampil.

Visi Misi Jokowi-JK

Untuk lima tahun kedepan, pemerintahan kami akan dipandu oleh visi sebagai berikut:

Terwujudnya Indonesia yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian berlandaskan gotong royong.

Gotong royong merupakan intisari dari ideologi Pancasila 1 Juni 1945. Kami berkeyakinan bahwa tanggung jawab untuk membangun bangsa ke depan harus dilakukan dengan cara musyawarah dalam memutuskan dan gotong royong dalam kerja. Kekuatan rakyat adalah Gotong Royong, di mana rakyat secara bahu-membahu menyelesaikan berbagai hambatan dan tantangannya ke depan.

Kami menyadari untuk mewujudkan ideologi itu bukan kerja orang perorang ataupun kelompok. Ideologi memerlukan alat kolektif yang namanya gotong royong. Dengan kolektivitas itulah ?ruhideologi akan memiliki ?raga, keberlanjutan dan sekaligus kekuatan maha dasyat. Sedangkan kata-kata ?berdaulat, mandiri dan berkepribadian adalah amanat Pancasila 1 Juni 1945 dan TRISAKTI.

Berdaulat adalah hakikat dari kemerdekaan, yaitu hak setiap bangsa untuk menentukan nasibnya sendiri dan menentukan apa yang terbaik bagi diri bangsanya. Oleh karena itu, pembangunan, sebagai usaha untuk mewujudkan kedaulatan sebagai negara merdeka, merupakan upaya membangun kemandirian. Namun, kemandirian yang dimaksudkan bukanlah kemandirian dalam keterisolasian, tetapi didasarkan pada kesadaran akan adanya kondisi saling ketergantungan dalam kehidupan bermasyarakat, baik dalam suatu negara maupun antar-bangsa. Kemandirian yang demikian adalah paham yang proaktif dan bukan reaktif atau defensif. Bangsa yang berdaulat dan mandiri adalah bangsa yang mampu mewujudkan kehidupan sejajar dan sederajat dengan bangsa lain. Oleh karena itu, untuk membangun kemandirian, mutlak diperlukan perkuatan kemampuan nasional di bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan keamanan. Kemampuan untuk berdaya saing menjadi kunci untuk mencapai kemajuan sekaligus kemandirian.

Bangsa yang berdaulat dan mandiri adalah bangsa yang mampu mewujudkan kehidupan sejajar dan sederajat dengan bangsa lain yang telah maju dengan mengandalkan pada kemampuan dan kekuatan sendiri. Oleh karena itu, untuk membangun kemandirian, mutlak harus dibangun dengan memperkuat kemampuan nasional di bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan keamanan. Kemampuan untuk berdaya saing menjadi kunci untuk mencapai kemajuan sekaligus kemandirian. Namun demikian, kemandirian yang dimaksudkan bukanlah kemandirian dalam keterisolasian. Kemandirian mengenal adanya kondisi saling ketergantungan yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan bermasyarakat, baik dalam suatu negara maupun bangsa. Terlebih lagi dalam era globalisasi dan perdagangan bebas ketergantungan antar bangsa semakin kuat. Kemandirian yang demikian adalah paham yang proaktif dan bukan reaktif atau defensif. Kemandirian merupakan konsep yang dinamis karena mengenali bahwa kehidupan dan kondisi saling ketergantungan senantiasa berubah, baik konstelasinya, perimbangannya, maupun nilai-nilai yang mendasari dan mempengaruhinya.

Kemandirian suatu bangsa tercermin, antara lain, pada ketersediaan sumber daya manusia yang berkualitas dan mampu memenuhi tuntutan kebutuhan dan kemajuan pembangunannya; kemandirian aparatur pemerintah dan aparatur penegak hukum dalam menjalankan tugasnya; kemampuan untuk memenuhi pembiayaan pembangunan yang bersumber dari dalam negeri yang makin kokoh dan berkurangnya ketergantungan kepada sumber luar negeri; dan kemampuan memenuhi sendiri kebutuhan pokok, yang disertai dengan keunggulan dalam inovasi, kreativitas, intergritas, dan etos kerja sumber daya manusia. Kemajuan suatu bangsa harus ditandai dengan sumber daya manusia yang memiliki kepribadian bangsa, berakhlak mulia, dan memiliki tingkat pendidikan, produktivitas dan harapan hidup yang tinggi. Bangsa yang maju adalah bangsa yang mampu memenuhi kebutuhan dasar rakyatnya, meningkatkan pendapatan dan pembagiannya, menyediakan infrastruktur yang baik, serta memiliki sistem dan kelembagaan politik, termasuk hukum, yang berjalan dengan baik. Bangsa yang maju adalah bangsa yang mampu memberi keadilan bagi seluruh rakyatnya, menjamin hak-hak, keamanan, dan ketenteraman warganya tanpa ada diskriminasi dalam bentuk apapun.

Kepribadian dalam kebudayaan harus dicerminkan dalam setiap aspek kehidupan, baik hukum, ekonomi, politik, sosial budaya, maupun pertahanan keamanan. Kemandirian dan kemajuan suatu bangsa tidak boleh hanya diukur dari perkembangan ekonomi semata. Kemandirian dan kemajuan juga tercermin dalam kelembagaan, pranata-pranata, dan nilai-nilai yang mendasari kehidupan politik dan sosial. Secara lebih mendasar lagi, kemandirian sesungguhnya mencerminkan sikap seseorang atau sebuah bangsa mengenai jati dirinya, masyarakatnya, serta semangatnya dalam menghadapi berbagai tantangan. Karena menyangkut sikap, kemandirian pada dasarnya adalah masalah budaya dalam arti seluas-luasnya.

Upaya untuk mewujudkan Visi Terwujudnya Indonesia Yang Berdaulat, Mandiri dan Berkepribadian Berlandaskan Gotong-Royong itu akan ditempuh melalui misi sebagai berikut:

1.Mewujudkan keamanan nasional yang mampu menjaga kedaulatan wilayah, menopang kemandirian ekonomi dengan mengamankan sumberdaya maritim, dan mencerminkan kepribadian Indonesia sebagai negara kepulauan.

2.Mewujudkan masyarakat maju, berkeseimbangan dan demokratis berlandaskan Negara hukum.

3.Mewujudkan politik luar negeri bebas-aktif dan memperkuat jati diri sebagai negara maritim.

4.Mewujudkan kualitas hidup manusia Indonesia yang tinggi, maju dan sejahtera.

5.Mewujudkan bangsa yang berdaya-saing.

6.Mewujudkan Indonesia menjadi negara maritim yang mandiri, maju, kuat, dan berbasiskan kepentingan nasional

7.Mewujudkan masyarakat yang berkepribadian dalam kebudayaan.

Strategi Pemerintah Tangkal Gejolak Harga Jelang Lebaran

Pemerintah menjamin harga dan stok pangan terjaga menjelang bulan suci Ramadan dan hari raya Idul Fitri pada beberapa bulan ini. Pemerintah pun bakal menggandeng dua perusahaan pelat merah untuk menjaga ketersediaan bahan pangan.


"Insya Allah, tidak akan terjadi gejolak yang berlebihan, khususnya barang dan komoditas tertentu," kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Chairul Tanjung (CT), di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Senin 26 Mei 2014.

Menurut CT, Kementerian Perdagangan dan BUMN diminta melakukan operasi pasar guna menjaga stabilitas harga. Sebab, semakin dekat hari perayaan, jamak terjadi aksi spekulan yang mengambil kesempatan dalam kesempitan.

"Bukan saat setelah harga naik, tetapi sebelum harga naik untuk menjamin bahwa para pedagang tidak mengambil kesempatan dalam kesempitan. Artinya, tidak mengambil keuntungan yang berlebihan adanya spekulasi tersedianya kebutuhan barang pokok," kata dia.

Sementara itu, Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi memperkirakan bakal ada kenaikan harga sekitar 5-10 persen menjelang Ramadan hingga hari raya Idul Fitri. Guna mengantisipai lonjakan harga tak terkendali, Kemendag akan berkoordinasi dengan seluruh kepala dinas di 33 provinsi. 
"Kami akan memberikan referensi harga. Jadi, tidak terjadi spekulasi yang memberatkan masyarakat. Lalu, kami akan mengadakan secara intensif, setidaknya antara 22-26 Juli kami pakai supaya bisa menjaga jangan ada spekulasi," kata dia.
Mantan dubes Indonesia untuk Jepang itu berencana akan menggandeng perusahaan RNI dan Bulog untuk menyediakan bahan pangan tersebut. 
"Misalnya, Bulog Mart ada beras, minyak goreng, tepung terigu, dan gula. Warung RNI juga akan menyiapkan gula," kata dia. 
http://www.radar-indo.com/2014/05/strategi-pemerintah-tangkal-gejolak.html

Selasa, 27 Mei 2014

Fakta Hasil Investigasi Tentang Keluarga dan Jati Diri Jokowi





Keberangkatan tim investigasi dalam rangka mencari jati diri Joko Widodo yang sebenarnya sengaja dirahasiakan demi alasan keamanan anggota tim dan mencegah antisipasi dari pihak – pihak yang berada di balik rekayasa pembentukan citra palsu tentang Joko Widodo atau Jokowi.

Rekayasa pembentukan citra palsu terkait Jokowi sudah dilakukan secara intensif sejak Jokowi menjabat walikota Solo tahun 2005 lalu. Jokowi mendapat kompensasi besar dari pihak tertentu atas ‘bantuannya’ terhadap operasi pemberantasan ‘terorisme’ di Solo yang dilancarkan secara rahasia oleh intelejen AS dan oknum intelijen Indonesia.

Solo atau Surakarta dijadikan sebagai pusat medan perang pemberantasan terorisme oleh pihak intelijen AS semata – mata hanya berdasarkan kesaksian Hambali, tokoh terorisme yang ditahan AS di Guantanamo, saat dalam tekanan penyiksaan brutal pihak AS, menyebut Pesantren Ngruki di bawah pimpinan Ustad Abu Bakar Baasyir sebagai pusat terorisme Indonesia. Jokowi sebagai walikota Solo berperan membantu misi intelijen AS tersebut.

Pada tahun 2008, Jenderal Luhut Panjaitan sepakat ‘bermitra usaha’ dengan Jokowi melalui patungan pendirian PT Rakabu Sejahtera. Luhut selaku pemegang saham minoritas menyetor modal Rp. 15.5 miliar dan Gibran Rakabuming (anak tertua Jokowi, berusia 20 tahun pada 2008 lalu) menyetor Rp. 16.2 miliar. Luhut masuk sebagai pemegang saham di perusahaan milik Jokowi itu melalui PT. Toba Sejahtera, Induk grup usaha milik Luhut. Apa hidden agenda Luhut Panjaitan mendekati Jokowi sejak 6 tahun lalu itu ? Nanti kami sampaikan temuan – temuan tim investigasi.

Begitu tiba di bandara Adi Soemarno Solo, tim langsung memesan taksi menuju Bantaran Kali Pepe, Munggung, Manahan Solo yang selalu disebut – sebut dalam daftar riwayat hidup Joko Widodo sebagai rumah pertama keluarga Joko Widodo yang jadi korban penggusuran.

Perjalanan dari Bandara Adi Soemarno ke Bantaran Kali Pepe, Munggung Manahan Solo sekitar 38 menit. Setiba di di Bantaran Kali Pepe, tim langsung bertanya – tanya kepada warga setempat mengenai lokasi rumah pertama Joko Widodo yang selalu dicantumkan di riwayat hidup Joko Widodo menjadi korban penggusuran pertama oleh Pemda Surakarta. Dari belasan warga Bantaran Kali Pepe, tidak seorang pun warga yang mengetahui lokasi rumah pertama orang tua Joko Widodo. Bahkan semua warga di sana tidak yakin keluarga Joko Widodo pernah bertempat di Bantaran Kali Pepe, Manahan, Banjarsari, Surakarta.
Setelah hampir 1 jam bertanya – tanya, akhirnya tim investigasi disarankan menjumpai seorang warga Bantaran Kali Pepe yang merupakan teman kecil Iriana, istri Joko Widodo.

Yuli Susanto, itulah nama warga Bantaran Kali Pepe yang merupakan teman masa kecil Iriana. Rumahnya tidak jauh, sekitar 200 meter dari mulut gang jalan masuk menuju bantaran kali. Sampai rumah dimaksud, tim disambut hangat oleh Pak Yuli dan istrinya. Anak – anak mereka sedang berada di luar, mengikuti ibadah kebaktian Minggu.

Setelah memperkenalkan diri, tim langsung menanyakan kebenaran informasi rumah pertama orang tua Jokowi yang disebutkan beralamat di Bantaran Kali Pepe. Yuli Susanto, pria berusia hampir 50 tahun itu mengatakan tidak benar orang tua Joko Widodo pernah tinggal di sekitar Bantaran Kali Pepe. Yuli mengenal Joko Widodo selama puluhan tahun, sejak Jokowi bersekolah dasar di SD 111 Tirtoyoso, Manahan, Solo.

Berdasarkan keterangan Yuli Susanto, orang tua Joko Widodo bertempat tinggal di Jalan Ahmad Yani persis di depan Pool Bus Damri. Tetapi rumah itu sekarang tidak lagi ditempati oleh keluarga Joko Widodo. Yuli menambahkan, semasa kecil Joko Widodo selalu main di rumah paklek (adik bapaknya) yang bernama Miyono, seorang pengusaha mebel yang rumahnya juga berada persis di pinggir jalan Ahmad Yani. Miyono menjalankan perusahaan mebelnya bernama CV Roda Jati.

Mengenai siapa kedua orang tua Jokowi, Yuli Susanto mengaku tidak mengetahui persis. Tetapi dia mengaku kenal baik dengan keluarga istri Jokowi, karena Iriana atau Ana adalah teman sebaya dan sepermainan. Ayah kandung Iriana adalah seorang guru SMA. Iriana atau Ana memiliki 4 orang saudara, masing – masing bernama : Anik, Anto, Andi dan Anjas.

Mengenai kehidupan Joko Widodo semasa kecil, Yuli Susanto mengatakan Jokowi adalah anak orang berada karena ayah dan pakleknya adalah pengusaha mebel terkemuka di daerah itu. Masa kecil Jokowi, memang jarang terlihat di sekitar rumahnya, dia lebih suka bermain di sekitar rumah pakleknya karena dia kurang suka dengan teman – teman sebaya tetangganya yang selalu memanggilnya “Joko Klemer”.



Ejekan “Joko Klemer” diberikan teman – temannya karena penampilan Jokowi yang kayak perempuan atau kebanci – bancian. Perilaku ‘agak menyimpang’ dari Jokowi ini dapat dimaklumi karena semua adik Jokowi adalah perempuan. Masing – masing bernama Iit Sriyanti, Hidayati dan Titik Ritawati. Ketiga adik perempuannya ini menjadi teman seharian Jokowi semasa kecil hingga remaja di Tirtoyoso, Manahan, Banjarsari, Surakarta.

Karena ejekan “Joko Klemer” dari teman sebaya dan tetangganya itu, Jokowi atau Mas Joko enggan bergaul di lingkungan tempat tinggalnya RT 03/14 dan lebih sering bermain di rumah pakleknya Miyono di Jalan Ahmad Yani persis simpang jalan MT Haryono, Surakarta (Solo).

Tim Investigasi mohon pamit pada Pak Yuli Susanto setelah berbincang – bincang seputar diri Jokowi dan istrinya Iriana. Pak Yuli menawarkan diri mengantar kami ke rumah Jokowi yang berjarak hanya ratusan meter dari rumah Pak Yuli yang di gang bantaran kali Pepe, Munggung itu. Tawaran itu ditolak halus oleh tim, keterangan dari Pak Yuli Susanto sudah cukup jelas sebagai pedoman untuk mencari rumah Pak Widjiatno, ayah kandung Joko Widodo. Pak Yuli sebelumnya juga sudah berbaik hati menggambar denah lokasi rumah Widjiatno. Coretan itu disimpan tim, sekedar berjaga – jaga untuk dipergunakan bilamana perlu.

Meski menolak tawaran Pak Yuli mengantar ke rumah asal muasal dan tempat Joko Widodo dibesarkan, tim tak kuasa menampik ketika Yuli turut mengantar tim menyusuri gang keluar dari pinggiran bantaran kali Pepe, berbelok ke kiri hingga sampai di mulut gang simpang jalan Ahmad Yani. Dari depan mulut gang bantaran kali Pepe itu, persis di seberang jalan itu tampak rumah kediamanan Miyono, pengusaha Meubel pemilik CV Roda Jati, paklek atau adik almarhum Widjiatno ayah kandung Joko Widodo.



Rumah Miyono terlihat menonjol dibandingkan rumah – rumah lain di sekitarnya. Rumah berwarna krim itu sangat besar dan tertutup tembok cukup tinggi yang menjadi penghalang pihak luar untuk melihat ke sisi dalam rumah. Tim investigasi menyeberangi jalan Ahmad Yani untuk mendekati rumah dan mengintip ke dalam halaman rumah yang cukup luas itu. Terlihat 4 (empat) mobil mewah berada di garasi mobil yang dibangun di sisi kanan halaman rumah. Di sebelah kanan rumah itu, terdapat sebuah rumah yang dibatasi tembok tunggal dan pagar yang sama model bentuk dan warna catnya dengan rumah Miyono. Menurut pedagang warung kopi di seberang jalan depan rumah Wiyono, pemilik rumah yang berdempetan dengan rumah besar Miyono itu, juga adalah milik keluarga Miyono. Mungkin rumah anak Miyono yang sudah berkeluarga. Rumah sebelah itu luasnya sekitar tiga perempat luas rumah Miyono dan di depan rumah terpampang plank 1 x 1/2 meter bertulisan “Menjual Berbagai Jenis Oleh – Oleh Dari Tanah Suci – Mekah”.

Tim investigasi mencoba menengok ke sisi dalam kedua rumah yang mirip bentuk, model dan warna catnya itu. Sepi. Tidak terlihat seorang pun di dalam ke dua rumah itu. Hanya jejeran mobil mewah parkir di garasi halaman rumah. Menurut, penjual warung kopi di seberang jalan rumah, sebulan terakhir ini penghuni rumah jarang terlihat di dalam rumah. Hanya petugas pengamanan berseragam yang sesekali terlihat berada di dalam pos penjagaan yang terletak di sisi kiri rumah utama, persis di bagian depan dalam pintu masuk rumah.

Rencana tim investigasi masuk ke dalam rumah Miyono yang terletak persis di pertigaan Jalan Ahmad Yani – MT Haryono itu kandas karena tak seorang pun dapat dimohonkan izinnya dan tak terlihat tanda – tanda penghuni bangunan besar yang cukup mewah itu ada di dalam rumah.

Dengan menumpang kembali taksi bandara yang masih setia menunggu, dari depan rumah Miyono, tim bergerak meluncur ke rumah Widjiatno di kawasan Tirtoyoso, Manahan. Sesuai petunjuk Pak Yuli, rumah itu berada di sebelah kiri jalan Ahmad Yani. Setelah melewati dua pertigaan kecil, tim investigas tiba di pertigaan jalan persis di depan Pool Bus Damri. Tim meminta supir berbelok ke kiri jalan yang menuju ke arah stadion Manahan Solo itu. Seratus meter dari pertigaan jalan masuk tadi, ada persimpang tiga lagi. Kami turun dari taksi dan berjalan kaki menelusuri satu per satu rumah di sekitar itu sembari mencari – cari warga yang dapat diminta informasinya mengenai rumah keluarga Widjiatno, ayah kandung mantan walikota Solo, Joko Widodo.

Sasaran atau target utama tim investigasi adalah warga Tirtoyoso yang berusia di atas 50 tahun, yang potensial merupakan bekas teman sepermainan Jokowi dan atau mengenal persis siapa dan bagaimana Jokowi sewaktu belia. Melalui penjaga warung kecil di depan salah satu rumah warga, kami mendapat informasi rumah lama keluarga Widjiatno persis di belakang salah satu rumah warga yang saat itu terlihat ramai karena sedang berlangsung acara ibadah kebaktian Minggu. Kami segera mendatangi rumah warga yang hanya berjarak 30 meter dari warung kecil itu.

Kebetulan acara ibadah Kebaktian Minggu sudah selesai dan suasana di dalam rumah terdengar riuh dengan suara tawa dan perbincangan jamamaah. Setelah mengucapkan salam dan menyapa sebagian tamu yang duduk di teras depan rumah itu, kami dipersilahkan masuk ke halaman rumah dan dipersilahkan dengan hangat duduk di teras oleh tuan rumah, seorang ibu lewat paruh baya yang berusia sekitar 50 tahun.

Setelah berbasa basi sebentar, kami bertanya tentang lokasi rumah Pak Widjiatno, ayah kandung Gubernur DKI Jakarta, yang sekarang sedang mencalonkan diri jadi presiden Indonesia.

Dari keterangan Ibu Soenarso, tuan rumah acara kebaktian itu, kami mendapatkan informasi bahwa rumah keluarga Joko Widodo persis berada di belakang rumahnya. Sisi belakang rumah keluarga Sunarso itu berdempetan dengan sisi belakang rumah keluarga Widjiatno yang menghadap ke jalan besar atau jalan raya Ahmad Yani.

Menurut Bu Sunarso dan para tamu yang hadir di rumah itu, keluarga Widjiatno sudah cukup lama tidak menempati rumah miliknya karena sudah pindah ke daerah Sumber, yang berlokasi cukup jauh, sekitar 4 kilometer dari rumah pertama mereka. Rumah keluarga almarhum Widjiatno itu sekarang dihuni oleh orang lain yang diduga masih merupakan kerabat dan ditugaskan khusus untuk menjaga rumah itu.
Salah seorang tamu di rumah Keluarga Soenarso, yang bernama Pak Wiyono mengaku mengenal baik almarhum Widjiatno, ayah kandung Jokowi. Pak Wiyono yang berusia 78 tahun itu adalah tetangga dekat eyang atau kakek kandung Jokowi yang merupakan lurah di Kragan, Karanganyar, Surakarta.

Dari keterangan Wiyono, tim mendapat informasi bahwa kakek Jokowi dijuluki “Lurah Dongkol” karena menjabat sebagai lurah selama puluhan tahun dan tidak pernah diganti hingga meninggal dunia. Wiyono mengenal baik ayah kandung Jokowi hingga sekitar tahun 1980an. Dia jarang bertemu ayah kandung Jokowi itu sejak Widjiatno pindah dari rumah ayahnya di Kragan, ke rumah barunya di Tirtoyoso, Manahan Solo.
Tim investigasi sayangnya tidak bisa lama berbincang dengan Pak Wiyono karena terus didesak oleh Bu Soenarso untuk segera menjumpai Pak Margono, mantan ketua RT 03 yang sejak tahun 1990 hingga sekarang menjabat selaku ketua RW 14, Tirtoyoso, Manahan, Banjarsari, Surakarta. Menurut Bu Soenarso, Pak Margono adalah orang yang paling tahu dan mengenal keluarga Widjiatno dan Jokowi karena sejak tahun 1977, Margono sudah menjadi warga RT 03 dan menjabat Ketua RT sejak tahun 1983.



Pak Margono, sesepuh warga Tirtoyoso, mantan ketua RT 03/14 dan sekarang menjabat ketua RW 14 Tirtoyoso, Manahan, Banjarsari, Surakarta.

Setiba di depan rumah tinggal Pak Margono, tim mengucapkan salam dan menyerukan nama Pak Margono. Rumah berpagar besi cat hijau itu terlihat sepi. Pintu pagar tergembok, namun pintu dan jendela rumahnya terbuka, menandakan ada penghuni di dalamnya.

Sekitar du menit menunggu, muncul keluar seorang tua dengan senyum ramah mempersilahkan masuk sembari bergegas membuka gembok pagar rumah. Kami pun kemudian masuk dan dipersilahkan duduk di kursi di teras rumah Ketua RW itu. Pak Margono menjelaskan rumahnya terlihat sepi karena anak – anaknya sudah berkeluarga dan pindah ke kota lain.

Setelah memperkenalkan diri, tim mulai bertanya dan mengorek informasi tentang keluarga almarhum Widjiatno dan fakta – fakta seputar kehidupan Joko Widodo alias Jokowi.

Pak Margono menjelaskan bahwa tim kami ini adalah tamu kedua yang mendatangi rumahnya dan bertanya – tanya tentang keluarga besar Jokowi. Sebelum kami, Pak Margono dikunjungi wartawan dari Solopos. Beliau menyatakan keheranannya kenapa informasi atau berita yang beredar tentang diri Jokowi dan keluarganya sama sekali berbeda dengan kenyataan sebenarnya.

Pak Margono adalah pensiunan guru PNS. Dia dan keluarga pindah, menjadi warga RT 03/RW 014 Tirtoyoso, Manahan, Banjarsari, Surakarta (Solo) sejak tahun 1977. Dia mengenal baik hampir semua warganya, termasuk Jokowi yang terakhir datang ke rumahnya sekitar setahun lalu dalam rangka meminta surat pengantar Ketua RW untuk suatu keperluar Gibran Rakabuming, anak tertua Jokowi.

Tim investigasi memulai pertanyaan dengan meminta konfirmasi apakah benar rumah di Jalan Ahmad Yani, persis di depan pool bus Damri adalah rumah alm Widjiatno, ayah kandung Joko Widodo. Pak Margono membenarkan informasi itu dan menegaskan bahwa hingga sekarang ini, rumah itu tetap masih merupakan rumah milik keluarga besar Joko Widodo.

Ketua RW 14 Manahan Solo itu, membantah jika disebutkan rumah alm Widjiatno itu telan dijual. Menurutnya, jika rumah itu sudah dijual, tentu sebagai Ketua RW, pihaknya mengetahui secara pasti. Mengingat setiap transaksi jual beli rumah harus melampirkan surat keterangan dari Ketua RW setempat. Menurut beliau, rumah bekas kediaman keluarga Jokowi itu sekarang ditempati oleh orang lain, diduga masih merupakan kerabat keluarga Jokowi.

Pak Margono menegaskan bahwa Joko Widodo tidak pernah memiliki nama kecil Mulyono atau Mulyatno. Dari dulu nama Joko Widodo adalah Joko Widodo, biasa dipanggil Mas Joko.

Mengenai agama Joko Widodo dan keluarganya, sesuai catatan RT dan RW serta KTP yang diterbitkan kelurahan Manahan, kecamatan Banjarsari, Surakarta, agama Joko Widodo adalah Islam. Meski begitu, Pak Margono mengaku seumur hidupnya selama tinggal di Tirtoyoso, Manahan, Joko Widodo tidak pernah terlihatnya mengerjakan Shalat sebagaimana lazimnya umat islam.

Jokowi atau Mas Joko juga sangat jarang bergaul dengan tetangga atau bermain dengan teman – teman sebayanya di sekitar rumah tinggalnya. Joko tidak pernah ikut terlibat dalam kegiatan remaja, Karang Taruna dan kegiatan – kegiatan sosial kemasyarakatan lainnya di kawasan Tirtoyoso, Manahan.

Ketika ditanya pendapat beliau, kenapa atau apa kira – kira yang menjadi alasan Joko enggan bergaul dengan tetangga sekitarnya, Pak Margono menjawab dirinya tidak tahu persis.

“Saya tidak tahu persis kenapa. Setahu saya, Joko itu anak rumahan. Kegiatan masa remaja mas Joko hanya di rumah dan sekolah. Joko lebih sering terlihat bermain – main dengan adik – adinya yang semuanya wanita,” jelas Margono kepada tim investigasi pada hari Minggu 25 Mei 2014 lalu.

Mengenai tudingan bahwa Joko Widodo itu keturunan cina, dibantah oleh Pak Margono. “Itu tidak benar. Almarhum Widjiatno atau sekarang disebut orang sudah diganti dengan nama panggilan Noto Mihardjo adalah pribumi asli. Wong Jowo kok. Eyang Kakung (eyang laki – laki) Joko itu lurah Kragan, Karanganyar. Ga mungkin jadi lurah tempo dulu kalau beliau itu cina,” tegas Pak Margono. Dia heran tak habis pikir kok ada tudingan Jokowi dan keluarganya adalah keturunan cina.

Latar belakang Jokowi yang diberitakan miskin atau dari keluarga tidak mampu, juga dipertanyakan Pak Margono. Dia tidak mengerti kenapa bisa muncul berita itu. Ayah Joko Widodo bernama Widjiatno termasuk pengusaha meubel yang sukses, meski pada saat itu belum sesukses Jokowi ketika mengambilalih dan mengelola usaha peninggalan ayahnya.

Dengan lancar dan yakin, Pak Margono menerangkan bahwa Widjiatno yang dikenalnya baik itu masih hidup atau belum meninggal dunia ketika Jokowi menikah dengan Iriana. Pak Margono bahkan menjelaskan dirinya sempat berfoto bareng bersama Pak Widjiatno ketika pesta perkawinan Joko Widodo – Iriana dilangsungkan. Sayangnya, ketika tim investigasi meminta diperlihatkan foto tersebut, Pak Margono yang sudah berusaha mencarinya, gagal menemukan foto itu. Ternyata, album foto – foto perkawinan Joko Widodo yang diselenggarakan secara cukup mewah pada jamannya itu, terbawa oleh putra Pak Margono yang sekarang tinggal di Tegal, Jawa Tengah. Beliau berjanji akan memintanya kembali agar dapat diperlihatkan ketika kami mampir lagi ketika melakukan investigasi tahap kedua pada bulan depan.

http://yudisamara.com/2014/05/27/fakta-hasil-investigasi-tentang-keluarga-dan-jati-diri-jokowi/