Presiden Joko Widodo makan siang bersama dengan sekitar 50 pemilik
penggilingan padi, pedagang dan pengusaha beras di Istana Negara,
Jakarta, Senin.
Presiden meminta para pengusaha dan pedagang beras tidak
mempermainkan harga demi mendapat untung besar pada acara makan siang
yang juga dihadiri Menteri Perdagangan Thomas Lembong, Menteri Pertanian
Amran Sulaiman, Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki, Direktur Utama
Bulog Djarot Kusumayakti itu.
"Saya juga mantan pengusaha, ngertilah cara mainnya seperti apa, dan
melakukan apa. Saya dengan (pedagang) di Cipinang (Jakarta) kenal semua,
artinya sudah terbuka. Jangan saling merugikan," kata Presiden.
"Saya ingin petaninya untung, penggilingan juga untung, pedagang beras
untung, pengusaha untung, masyarakat juga diuntungkan. Semua harus pada
posisi ini, tidak hanya diuntungkan satu, yang satu dirugikan," katanya.
Presiden juga mengatakan bahwa dia selalu memantau harga beras harian
agar bisa langsung mengambil tindakan jika terjadi lonjakan harga.
Jokowi mengingatkan bahwa upaya untuk mencapai swasembada pangan harus
didukung oleh semua pihak, termasuk petani, pengusaha pengilingan,
pedagang dan pengusaha beras.
"Sudah sampaikan kepada petani tugasnya adalah berproduksi terus. Bulog
harus membeli semuanya. Tidak ada alasan gudangnya penuh," katanya.
Presiden juga meminta Bulog menyediakan cukup cadangan beras untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya kelangkaan pangan.
"Stok cadangan beras kita itu terlalu kecil dibanding dengan negara
lain. China (Tiongkok) berapa stoknya? 40 juta ton, Filipina 2,5 juta
ton padahal penduduknya 90-an juta," ungkapnya.
Menurut dia, Bulog paling tidak menyiapkan stok beras 10 juta ton lebih.
Presiden yakin Bulog mampu menyiapkan stok sebanyak itu setelah
memiliki cukup gudang untuk menampung beras produksi petani dan impor.
http://www.antarajateng.com/detail/presiden-minta-pedagang-dan-pengusaha-tidak-mempermainkan-harga.html
Senin, 28 September 2015
Jokowi Minta Gudang Bulog Dibuat Seperti di Dubai
Jokowi menilai stok beras Bulog terlalu kecil.
Presiden Joko Widodo menyinggung stok beras dalam negeri yang ia nilai sangat kecil jika dibandingkan dengan negara-negara lain. Hal itu disampaikan Jokowi dalam jamuan santap siang bersama pengusaha penggilingan padi dan beras di Istana Negara, Senin, 28 September 2015.
Indonesia yang berpenduduk lebih dari 200 juta jiwa dengan stok beras 2 juta ton per tahun dinilai terlalu kecil. Dia membandingkan dengan Tiongkok, yang stok berasnya mencapai 40 juta ton per tahun. "Yang dekat lagi, Filipina berapa? 2,5 juta ton, padahal penduduknya 90-an juta. Artinya, Bulog paling tidak stoknya memang harusnya di atas 10 (juta ton). Memang ke depan seperti itu," kata Jokowi menambahkan.
Dia meminta, Bulog harus memikirkan hal ini. Bulog juga harus membeli seluruh produksi petani. Dia juga mendorong pengusaha untuk membeli hasil dari petani. "Ke depan Bulog akan menampung seluruh produksi petani yang tidak mampu diserap pedagang pasar," katanya.
Jokowi mengatakan, kalau bisa memenuhi stok dengan jumlah tersebut Indonesia bisa ekspor beras. Dengan demikian, tidak ada lagi alasan, gudang Bulog sudah penuh sehingga tidak bisa menampung semua beras dari petani. "Tidak ada kata bahwa Bulog sudah penuh gudangnya. Harus ada perkiraan berapa gudang yang harus dipersiapkan," katanya.
Presiden mencontohkan, Dubai membuat gudang yang sangat besar dengan pendingin udara yang bagus. Sehingga, untuk masuk ke gudang itu harus menggunakan jaket tebal. "Bisa menyimpan daging, daging ayam sendiri, daging sapi sendiri, beras sendiri, sayur, buah."
Dia menginginkan gudang-gudang Bulog seperti itu. Sehingga, semua hasil produksi petani bisa dibeli oleh Bulog tanpa keluhan keterbatasan gudang untuk menampung.
http://nasional.news.viva.co.id/news/read/679708-jokowi-minta-gudang-bulog-dibuat-seperti-di-dubai
Presiden Joko Widodo menyinggung stok beras dalam negeri yang ia nilai sangat kecil jika dibandingkan dengan negara-negara lain. Hal itu disampaikan Jokowi dalam jamuan santap siang bersama pengusaha penggilingan padi dan beras di Istana Negara, Senin, 28 September 2015.
Indonesia yang berpenduduk lebih dari 200 juta jiwa dengan stok beras 2 juta ton per tahun dinilai terlalu kecil. Dia membandingkan dengan Tiongkok, yang stok berasnya mencapai 40 juta ton per tahun. "Yang dekat lagi, Filipina berapa? 2,5 juta ton, padahal penduduknya 90-an juta. Artinya, Bulog paling tidak stoknya memang harusnya di atas 10 (juta ton). Memang ke depan seperti itu," kata Jokowi menambahkan.
Dia meminta, Bulog harus memikirkan hal ini. Bulog juga harus membeli seluruh produksi petani. Dia juga mendorong pengusaha untuk membeli hasil dari petani. "Ke depan Bulog akan menampung seluruh produksi petani yang tidak mampu diserap pedagang pasar," katanya.
Jokowi mengatakan, kalau bisa memenuhi stok dengan jumlah tersebut Indonesia bisa ekspor beras. Dengan demikian, tidak ada lagi alasan, gudang Bulog sudah penuh sehingga tidak bisa menampung semua beras dari petani. "Tidak ada kata bahwa Bulog sudah penuh gudangnya. Harus ada perkiraan berapa gudang yang harus dipersiapkan," katanya.
Presiden mencontohkan, Dubai membuat gudang yang sangat besar dengan pendingin udara yang bagus. Sehingga, untuk masuk ke gudang itu harus menggunakan jaket tebal. "Bisa menyimpan daging, daging ayam sendiri, daging sapi sendiri, beras sendiri, sayur, buah."
Dia menginginkan gudang-gudang Bulog seperti itu. Sehingga, semua hasil produksi petani bisa dibeli oleh Bulog tanpa keluhan keterbatasan gudang untuk menampung.
http://nasional.news.viva.co.id/news/read/679708-jokowi-minta-gudang-bulog-dibuat-seperti-di-dubai
Presiden Minta Bulog Perbaiki Sistem Pergudangan
Presiden Joko Widodo (Jokowi) memerintahkan Perusahaan Umum Badan
Urusan Logistik (Perum Bulog) menyiapkan gudang yang memadai untuk
menyimpan seluruh produksi petani di dalam negeri.
Presiden Jokowi mengatakan Bulog memiliki tugas untuk membeli seluruh produksi petani di dalam negeri. Targetnya, stok beras yang dimiliki Bulog harus mencapai di atas 10 juta ton.
“Bulog harus membeli seluruh produksi petani, tidak ada alasan gudang Bulog sudah penuh,” katanya di Istana Negara, Jakarta, Senin (28/9/2015).
Presiden menuturkan dirinya telah menunjukkan gudang yang ideal untuk menampung produksi petani kepada Direktur Utama Bulog. Presiden menginginkan Bulog membangun gudang dengan kapasitas besar yang dapat menampung seluruh bahan kebutuhan pokok masyarakat.
Menurutnya, saat ini stok pangan Indonesia masih relatif kecil dibandingkan dengan negara lain. Stok pangan Tiongkok saja mencapai 40 juta ton, dan Filipina memiliki 2,5 juta ton, meskipun jumlah penduduknya hanya sekitar 90 juta orang.
“Stok beras harus kuat, karena saat ini terlalu kecil. Paling tidak stok Bulog harus di atas 10 juta ton,” ujarnya.
Saat ini, Presiden sudah meminta seluruh petani untuk meningkatkan produksinya, agar mampu memenuhi kebutuhan nasional. Produksi dari bibit varietas IPB 3S yang mencapai 10,7 ton per hektare akan menunjang peningkatan produksi tersebut.
Dia juga menyebutkan kelebihan stok yang dimiliki Bulog nantinya dapat diekspor untuk menambah devisa negara. Akan tetapi, hal tersebut baru akan terealisasi apabila Bulog memiliki gudang yang memadai seperti milik Pemerintah Uni Emirat Arab di Dubai.
http://bali.bisnis.com/read/20150928/16/54561/presiden-minta-bulog-perbaiki-sistem-pergudangan
Presiden Jokowi mengatakan Bulog memiliki tugas untuk membeli seluruh produksi petani di dalam negeri. Targetnya, stok beras yang dimiliki Bulog harus mencapai di atas 10 juta ton.
“Bulog harus membeli seluruh produksi petani, tidak ada alasan gudang Bulog sudah penuh,” katanya di Istana Negara, Jakarta, Senin (28/9/2015).
Presiden menuturkan dirinya telah menunjukkan gudang yang ideal untuk menampung produksi petani kepada Direktur Utama Bulog. Presiden menginginkan Bulog membangun gudang dengan kapasitas besar yang dapat menampung seluruh bahan kebutuhan pokok masyarakat.
Menurutnya, saat ini stok pangan Indonesia masih relatif kecil dibandingkan dengan negara lain. Stok pangan Tiongkok saja mencapai 40 juta ton, dan Filipina memiliki 2,5 juta ton, meskipun jumlah penduduknya hanya sekitar 90 juta orang.
“Stok beras harus kuat, karena saat ini terlalu kecil. Paling tidak stok Bulog harus di atas 10 juta ton,” ujarnya.
Saat ini, Presiden sudah meminta seluruh petani untuk meningkatkan produksinya, agar mampu memenuhi kebutuhan nasional. Produksi dari bibit varietas IPB 3S yang mencapai 10,7 ton per hektare akan menunjang peningkatan produksi tersebut.
Dia juga menyebutkan kelebihan stok yang dimiliki Bulog nantinya dapat diekspor untuk menambah devisa negara. Akan tetapi, hal tersebut baru akan terealisasi apabila Bulog memiliki gudang yang memadai seperti milik Pemerintah Uni Emirat Arab di Dubai.
http://bali.bisnis.com/read/20150928/16/54561/presiden-minta-bulog-perbaiki-sistem-pergudangan
Indonesia Terancam Kelaparan
Indonesia terancam kelaparan. Pemerintah pun dibuat panik dengan
rencana impor beras. Musim kemarau tahun ini banyak petani yang gagal
panen. Para petani pun memilih beralih profesi menjadi tukang becak.
Seperti yang terjadi di Kabupaten Indramayu, ribuan hektar tanaman padi gagal panen. Tentu ini menjadi ancaman besar rakyat Indonesia, apalagi kabupaten ini menjadi salah satu penyumbang beras terbesar di Pulau Jawa.
Dengan produksi sekitar 1,03 juta ton, Indramayu menyumbang sekitar 11% produksi padi Jawa Barat (9,4 juta ton), atau sekitar 2% produksi padi nasional (sekitar 57 juta ton). Tingginya produksi padi Indramayu ini disebabkan oleh luasnya lahan sawah yang ada. Dari luas wilayah Indramayu yang mencapai 204 ribu ha, 114 ribu ha (55%) di antaranya adalah lahan sawah.
Penyebab gagal panen di Kabupaten Indramayu ini karena sawah mereka kekeringan. Sehingga mereka pun memilih menjadi tukang becak untuk bisa bertahan hidup.‘’Pekerjaan apapun mereka lakukan untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup,’’ ujar Wakil Ketua KTNA Kabupaten Indramayu, Sutatang, kemarin.
Sutatang mengatakan, para buruh tani melakukan berbagai pekerjaan, seperti pembuat bata merah, menjadi kuli bangunan, tukang becak, hingga merantau ke Jakarta. Meski hasilnya lebih kecil dibandingkan saat menjadi buruh tani, namun tetap mereka jalani demi bisa menafkahi keluarga.
Saat menjadi buruh tani, mereka bisa mendapatkan Rp 75 ribu per hari sampai Rp 100 ribu per hari. Bahkan ketika panen, selain mendapatkan uang, mereka juga memperoleh bagi hasil gabah dengan perbandingan 6:1 dengan pemilik sawah.
Indonesia benar-benar darurat beras, Bulog pun mengatakan cadangan beras saat ini hanya 1,7 juta ton.
Seperti disampaikan oleh Direktur Utama Perum Bulog, Djarot Kusumayakti mengatakan saat ini pihaknya hanya memiliki cadangan beras sebanyak 1,7 juta ton. Cadangan tersebut terbagi dari beras medium dan beras premium.
”Data kami sampai kemarin ada 1,7 juta ton, dimana 600 ribu dalam bentuk komersial atau rastra (beras sejahtera) dan 1,1 beras kualitas medium?,” ujar Djarot di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jumat (25/9).
Setidaknya sampai akhir 2015 cadangan beras Bulog secara keseluruhan hanya tersisa sekitar 60-70 ribu ton beras. Cadangan tersebut diperkirakan tidak akan mencukupi untuk memenuhi kebutuhan beras.
Sebab, masa panen raya diprediksi Djarot akan ?mundur karena dampak El Nino yang cukup besar di akhir tahun, yang tentunya bakal berimbas di 2016. “?Kalau dilihat kondisi normal panen raya (2016) itu di Maret-April, tapi kalau El Nino ini cukup dahsyat (dampaknya-red) tentu itu akan mundur (masa panen-red),” ulas Djarot.
Untuk itu, pihaknya mendukung rencana Wakil Presiden Jusuf Kalla yang akan melakukan impor beras 1,5 juta ton demi mencukupi kebutuhan beras di 2016. “Ini yang mungkin menjadi pertimbangan beliau (Wapres JK), tidak mau bermain-main dengan beras yang jadi kepentingan masyarakat banyak,” pungkasnya
Rakyat Miskin Meningkat
Staf Khusus bidang ekonomi di era Presiden SBY meyakini dengan kondisi Indonesia saat ini, angka kemiskinan akan semakin meningkat. Soalnya, pemerintah sekarang belum bisa melakukan pengentasan kemiskinan.
Berdasarkan data BPS pada Maret 2015, saat ini jumlah orang miskin Indonesia meningkat dari 10,96 persen tahun lalu, menjadi 11,22 persen. ? “Saya kok hampir yakin angka kemiskinan naik,” kata Firmanzah di Jakarta, Minggu (27/9).
Prediksi Firmanzah itu didasari fenomena El Nino dimana Indonesia darurat kekeringan di sejumlah daerah. Kemudian terdapat persoalan asap dan kebakaran hutan di Kalimantan dan Sumatera. Padahal, daerah tersebut pada semester pertama terlihat rendah dalam pertumbuhan ekonomi.
“Sumatera dan Kalimantan berbasis Sumber Daya Alam (SDA). Sudah terkena dampak pelambatan ekonomi, terpapar kabut asap. Kalau tidak diselesaikan menambah jumlah orang miskin,” ujar Rektor Universitas Paramadina ini.
http://korannonstop.com/2015/09/indonesia-terancam-kelaparan/
Seperti yang terjadi di Kabupaten Indramayu, ribuan hektar tanaman padi gagal panen. Tentu ini menjadi ancaman besar rakyat Indonesia, apalagi kabupaten ini menjadi salah satu penyumbang beras terbesar di Pulau Jawa.
Dengan produksi sekitar 1,03 juta ton, Indramayu menyumbang sekitar 11% produksi padi Jawa Barat (9,4 juta ton), atau sekitar 2% produksi padi nasional (sekitar 57 juta ton). Tingginya produksi padi Indramayu ini disebabkan oleh luasnya lahan sawah yang ada. Dari luas wilayah Indramayu yang mencapai 204 ribu ha, 114 ribu ha (55%) di antaranya adalah lahan sawah.
Penyebab gagal panen di Kabupaten Indramayu ini karena sawah mereka kekeringan. Sehingga mereka pun memilih menjadi tukang becak untuk bisa bertahan hidup.‘’Pekerjaan apapun mereka lakukan untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup,’’ ujar Wakil Ketua KTNA Kabupaten Indramayu, Sutatang, kemarin.
Sutatang mengatakan, para buruh tani melakukan berbagai pekerjaan, seperti pembuat bata merah, menjadi kuli bangunan, tukang becak, hingga merantau ke Jakarta. Meski hasilnya lebih kecil dibandingkan saat menjadi buruh tani, namun tetap mereka jalani demi bisa menafkahi keluarga.
Saat menjadi buruh tani, mereka bisa mendapatkan Rp 75 ribu per hari sampai Rp 100 ribu per hari. Bahkan ketika panen, selain mendapatkan uang, mereka juga memperoleh bagi hasil gabah dengan perbandingan 6:1 dengan pemilik sawah.
Indonesia benar-benar darurat beras, Bulog pun mengatakan cadangan beras saat ini hanya 1,7 juta ton.
Seperti disampaikan oleh Direktur Utama Perum Bulog, Djarot Kusumayakti mengatakan saat ini pihaknya hanya memiliki cadangan beras sebanyak 1,7 juta ton. Cadangan tersebut terbagi dari beras medium dan beras premium.
”Data kami sampai kemarin ada 1,7 juta ton, dimana 600 ribu dalam bentuk komersial atau rastra (beras sejahtera) dan 1,1 beras kualitas medium?,” ujar Djarot di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jumat (25/9).
Setidaknya sampai akhir 2015 cadangan beras Bulog secara keseluruhan hanya tersisa sekitar 60-70 ribu ton beras. Cadangan tersebut diperkirakan tidak akan mencukupi untuk memenuhi kebutuhan beras.
Sebab, masa panen raya diprediksi Djarot akan ?mundur karena dampak El Nino yang cukup besar di akhir tahun, yang tentunya bakal berimbas di 2016. “?Kalau dilihat kondisi normal panen raya (2016) itu di Maret-April, tapi kalau El Nino ini cukup dahsyat (dampaknya-red) tentu itu akan mundur (masa panen-red),” ulas Djarot.
Untuk itu, pihaknya mendukung rencana Wakil Presiden Jusuf Kalla yang akan melakukan impor beras 1,5 juta ton demi mencukupi kebutuhan beras di 2016. “Ini yang mungkin menjadi pertimbangan beliau (Wapres JK), tidak mau bermain-main dengan beras yang jadi kepentingan masyarakat banyak,” pungkasnya
Rakyat Miskin Meningkat
Staf Khusus bidang ekonomi di era Presiden SBY meyakini dengan kondisi Indonesia saat ini, angka kemiskinan akan semakin meningkat. Soalnya, pemerintah sekarang belum bisa melakukan pengentasan kemiskinan.
Berdasarkan data BPS pada Maret 2015, saat ini jumlah orang miskin Indonesia meningkat dari 10,96 persen tahun lalu, menjadi 11,22 persen. ? “Saya kok hampir yakin angka kemiskinan naik,” kata Firmanzah di Jakarta, Minggu (27/9).
Prediksi Firmanzah itu didasari fenomena El Nino dimana Indonesia darurat kekeringan di sejumlah daerah. Kemudian terdapat persoalan asap dan kebakaran hutan di Kalimantan dan Sumatera. Padahal, daerah tersebut pada semester pertama terlihat rendah dalam pertumbuhan ekonomi.
“Sumatera dan Kalimantan berbasis Sumber Daya Alam (SDA). Sudah terkena dampak pelambatan ekonomi, terpapar kabut asap. Kalau tidak diselesaikan menambah jumlah orang miskin,” ujar Rektor Universitas Paramadina ini.
http://korannonstop.com/2015/09/indonesia-terancam-kelaparan/
Minggu, 27 September 2015
Hindari Impor, Kementan Dorong Bulog Gesit Beli Beras Petani
Pihak Kementerian Pertanian (Kementan) yakin target pengadaan beras
Perum Bulog sebanyak 3,2 juta ton tahun ini masih bisa dikejar tanpa
perlu impor.
Caranya, Bulog harus lebih gesit dan berani membeli beras dari para petani di seluruh Indonesia, masih banyak panen padi di dalam negeri. Kementan memperkirakan di sisa musim panen periode terakhir, ada potensi 15 juta ton gabah kering giling (GKG) di 6 provinsi setara 9 juta ton beras.
"Kita sudah berusaha sekuat tenaga (meningkatkan produksi beras). Tergantung Bulog gesit atau nggak. Mereka harus berani (agar tak perlu impor beras)," kata Dirjen Tanaman Pangan Kementan Hasil Sembiring, kepada detikFinance usai acara panen raya di Desa Cikarang, Karawang, Minggu (27/9/2015).
Menurut Hasil, sampai bulan September ini panen padi masih melimpah, bulan ini saja ada panen 1,2 juta hektar, sehingga masih terbuka kesempatan Bulog menyerap beras semaksimal mungkin. Namun, panen memang menurun drastis mulai bulan Oktober nanti.
"Masih ada, sekarang September ini panen 1,2 juta hektar lagi. Mulai Oktober memang agak turun, sudah tinggal sekitar 600.000 hektar," ucapnya.
Ia mengakui rata-rata harga beras di lapangan saat ini memang sudah di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sebesar Rp 7.300/kg. Sehingga, sulit bagi Bulog untuk mengejar pengadaan dengan menggunakan HPP, lebih baik Bulog memaksimalkan pengadaan dengan skema komersial.
Menurutnya bila hanya mengandalkan pengadaan dari PSO (public service obligation/alokasi subsidi), Bulog sudah tertinggal jauh. Menurutnya, beras komersial tetap dapat digunakan untuk stok dan penyaluran beras sejahtera (rastra), tentunya dengan penyesuaian-penyesuaian dari pemerintah.
"Saya kira bisa disesuaikan (beras komersial untuk stok). Memang kalau mengandalkan PSO, mereka (Bulog) sudah lama sekali ketinggalan," cetusnya.
Sebelumnya, Perum Bulog menyatakan bahwa impor beras perlu segera dilakukan untuk memperkuat stok mereka. Meski stok beras Bulog sekarang masih 1,7 juta ton, hanya 1,1 juta ton yang merupakan beras medium dan dapat disalurkan untuk PSO (Public Service Obligation), 600.000 ton sisanya adalah beras premium yang dibeli dengan skema komersial.
"(Kalau nggak impor) stok beras medium kita 100.000 ton saja nggak sampai, mendekati 50.000 ton sisa stok kita di akhir tahun," ujar Dirut Perum Bulog, Djarot Kusumayakti.
http://finance.detik.com/read/2015/09/27/143359/3029037/4/hindari-impor-kementan-dorong-bulog-gesit-beli-beras-petani
Caranya, Bulog harus lebih gesit dan berani membeli beras dari para petani di seluruh Indonesia, masih banyak panen padi di dalam negeri. Kementan memperkirakan di sisa musim panen periode terakhir, ada potensi 15 juta ton gabah kering giling (GKG) di 6 provinsi setara 9 juta ton beras.
"Kita sudah berusaha sekuat tenaga (meningkatkan produksi beras). Tergantung Bulog gesit atau nggak. Mereka harus berani (agar tak perlu impor beras)," kata Dirjen Tanaman Pangan Kementan Hasil Sembiring, kepada detikFinance usai acara panen raya di Desa Cikarang, Karawang, Minggu (27/9/2015).
Menurut Hasil, sampai bulan September ini panen padi masih melimpah, bulan ini saja ada panen 1,2 juta hektar, sehingga masih terbuka kesempatan Bulog menyerap beras semaksimal mungkin. Namun, panen memang menurun drastis mulai bulan Oktober nanti.
"Masih ada, sekarang September ini panen 1,2 juta hektar lagi. Mulai Oktober memang agak turun, sudah tinggal sekitar 600.000 hektar," ucapnya.
Ia mengakui rata-rata harga beras di lapangan saat ini memang sudah di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sebesar Rp 7.300/kg. Sehingga, sulit bagi Bulog untuk mengejar pengadaan dengan menggunakan HPP, lebih baik Bulog memaksimalkan pengadaan dengan skema komersial.
Menurutnya bila hanya mengandalkan pengadaan dari PSO (public service obligation/alokasi subsidi), Bulog sudah tertinggal jauh. Menurutnya, beras komersial tetap dapat digunakan untuk stok dan penyaluran beras sejahtera (rastra), tentunya dengan penyesuaian-penyesuaian dari pemerintah.
"Saya kira bisa disesuaikan (beras komersial untuk stok). Memang kalau mengandalkan PSO, mereka (Bulog) sudah lama sekali ketinggalan," cetusnya.
Sebelumnya, Perum Bulog menyatakan bahwa impor beras perlu segera dilakukan untuk memperkuat stok mereka. Meski stok beras Bulog sekarang masih 1,7 juta ton, hanya 1,1 juta ton yang merupakan beras medium dan dapat disalurkan untuk PSO (Public Service Obligation), 600.000 ton sisanya adalah beras premium yang dibeli dengan skema komersial.
"(Kalau nggak impor) stok beras medium kita 100.000 ton saja nggak sampai, mendekati 50.000 ton sisa stok kita di akhir tahun," ujar Dirut Perum Bulog, Djarot Kusumayakti.
http://finance.detik.com/read/2015/09/27/143359/3029037/4/hindari-impor-kementan-dorong-bulog-gesit-beli-beras-petani
Bulog: Stok beras 50.000 ton di akhir tahun
Perum Bulog memperkirakan, stok beras pada akhir tahun akan berkurang
drastis dari posisi saat ini 1,7 juta ton untuk beras medium.
Direktur Utama Bulog Djarot Kusumayakti mengatakan, saat ini, stok beras Bulog terdiri dari stok beras medium untuk public service obligation (PSO) sebanyak 1,1 juta ton dan 600.000 ton beras premium untuk komersial. Namun, pada Oktober dan November, Bulog akan menyalurkan beras sejahtera (rastra) sebesar 500.000 ton dari PSO yang ada.
"Sampai Desember kami masih cukup meski ada tambahan rastra dua bulan, tapi hampir habis stoknya," ujar Djarot, Minggu (27/9).
Nah Djarot memperkirakan penyerapan beras untuk PSO akan sulit karena rata-rata harga beras sudah di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Karena itu, Bulog hanya bisa membeli dengan harga komersial untuk stok beras jenis premium untuk komersial.
Karena itu, Bulog memperkirakan stok beras PSO pada akhir tahun hanya sebanyak 50.000 ton saja. "100.000 ton saja nggak sampai, mendekati 50.000 ton," imbuhnya.
Dengan stok serendah itu, maka Bulog tidak memiliki stok beras untuk menutupi kebutuhan bulan Januari 2016. Salah satu alternatif yang akan Bulog lakukan adalah menggunakan beras premium untuk menutupi kebutuhan beras dalam negeri.
http://nasional.kontan.co.id/news/bulog-stok-beras-50000-ton-di-akhir-tahun
Direktur Utama Bulog Djarot Kusumayakti mengatakan, saat ini, stok beras Bulog terdiri dari stok beras medium untuk public service obligation (PSO) sebanyak 1,1 juta ton dan 600.000 ton beras premium untuk komersial. Namun, pada Oktober dan November, Bulog akan menyalurkan beras sejahtera (rastra) sebesar 500.000 ton dari PSO yang ada.
"Sampai Desember kami masih cukup meski ada tambahan rastra dua bulan, tapi hampir habis stoknya," ujar Djarot, Minggu (27/9).
Nah Djarot memperkirakan penyerapan beras untuk PSO akan sulit karena rata-rata harga beras sudah di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP). Karena itu, Bulog hanya bisa membeli dengan harga komersial untuk stok beras jenis premium untuk komersial.
Karena itu, Bulog memperkirakan stok beras PSO pada akhir tahun hanya sebanyak 50.000 ton saja. "100.000 ton saja nggak sampai, mendekati 50.000 ton," imbuhnya.
Dengan stok serendah itu, maka Bulog tidak memiliki stok beras untuk menutupi kebutuhan bulan Januari 2016. Salah satu alternatif yang akan Bulog lakukan adalah menggunakan beras premium untuk menutupi kebutuhan beras dalam negeri.
http://nasional.kontan.co.id/news/bulog-stok-beras-50000-ton-di-akhir-tahun
Jumat, 25 September 2015
Bulog: Stok Beras Harus Diamankan
Direktur Utama Perum Bulog Djarot Kusumayakti menilai, impor beras
memang dibutuhkan. Meski begitu, dia tidak menjelaskan secara pasti
apakah volume yang dibutuhkan mencapai 1,5 juta ton.
Djarot menyebutkan, hingga Kamis (24/9/2015) kemarin beras yang ada di gudang Bulog ada sebanyak 1,7 juta ton, terdiri dari 1,1 juta ton beras medium untuk rastra (beras sejahtera), dan 600.000 ton beras komersial jenis premium.
"Dengan 1,1 juga ton kami bisa mencukupi kewajiban rastra sampai dengan Desember, termasuk tambahan dua bulan," kata Djarot, di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Jumat (25/9/2015).
Akan tetapi, perhitungan Bulog, sisa beras rastra akhir tahun nanti sangatlah minim, hanya 50.000-60.000 ton. Kalaupun ditambah dengan beras premium komersial, maka stok akhir tahun ini hanya kisaran 600.000-700.000 ton.
"Jadi pertanyaan kita, stok tersebut cukup aman untuk menghadapi 2016? Ini menjadi pertanyaan besarnya," kata Djarot.
Apalagi karena El Nino, akan terjadi kemunduran masa panen 2016. "Nah ini yang mungkin menjadi pertimbangan beliau (Jusuf Kalla), tidak mau bermain-main dengan beras yang jadi kepentingan masyarakat banyak," pungkas Djarot.
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2015/09/25/133130526/Bulog.Stok.Beras.Harus.Diamankan
Djarot menyebutkan, hingga Kamis (24/9/2015) kemarin beras yang ada di gudang Bulog ada sebanyak 1,7 juta ton, terdiri dari 1,1 juta ton beras medium untuk rastra (beras sejahtera), dan 600.000 ton beras komersial jenis premium.
"Dengan 1,1 juga ton kami bisa mencukupi kewajiban rastra sampai dengan Desember, termasuk tambahan dua bulan," kata Djarot, di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Jumat (25/9/2015).
Akan tetapi, perhitungan Bulog, sisa beras rastra akhir tahun nanti sangatlah minim, hanya 50.000-60.000 ton. Kalaupun ditambah dengan beras premium komersial, maka stok akhir tahun ini hanya kisaran 600.000-700.000 ton.
"Jadi pertanyaan kita, stok tersebut cukup aman untuk menghadapi 2016? Ini menjadi pertanyaan besarnya," kata Djarot.
Apalagi karena El Nino, akan terjadi kemunduran masa panen 2016. "Nah ini yang mungkin menjadi pertimbangan beliau (Jusuf Kalla), tidak mau bermain-main dengan beras yang jadi kepentingan masyarakat banyak," pungkas Djarot.
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2015/09/25/133130526/Bulog.Stok.Beras.Harus.Diamankan
Langganan:
Postingan (Atom)