‘PERANG’ isu mengenai kedaulatan pangan, sangat gencar saat pilpres
lalu. Tim sukse kedua kubu secara berlebihan menonjol-nonjolkan masalah
kedaulatan pangan (KP). Sampai kemudian memunculkan wacana untuk
terbentuknya kementerian KP, disertai dengan aneka penggabungan
kementerian dalam jajaran KP.
Itu dulu. Beberapa bulan yang lalu. Bagaimana nasib wacana itu pada hari
ini? Isu KP nyaris tidak berbekas. Dalam struktur dan personalia
Kabinet Kerja (KK) dan Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) nyaris tidak bisa
dibedakan.
Dalam urusan pangan inipun, yang dipamerkan KK pada hari-hari pertamanya
adalah swasembada: beras, gula, jagung dan kedelAI, persis apa yang
juga disuarakan oleh KIB-II lima tahun lalu, kecuali ada tambahan
swasembada daging sapi dalam KIB-II. Jargon KIB-II ini jelas sekali
terukur bahwa pada hari ini telah gagal total. Apakah hasilnya juga akan
berbentuk sama lima tahun ke depan dengan KIB-II meski target KK empat
tahun?
Lima tahun ke depan, sudah pasti bahwa dari empat produk itu, kedelai
dan gula, tidak akan terealisir swasembadanya. Kecuali dengan tangan
besi dan dengan pemikiran strategis yang spektakuler. Mengapa?
Faktanya, hari ini produksi kedelai dalam negeri kurang dari 800.000 ton
pertahun, dan importasi sejumlah 1,8 juta ton. Bagaimana caranya
meningkatkan produksi nasional sampai tiga kali lipat masih tidak jelas
arahnya. Sementara itu, kebutuhan gula total sebesar 5.7 juta ton,
tetapi produksi dalam negeri hanya 2,2 juta ton. Untuk mencukupi gula
konsumsi yang 2,6 juta ton pun masih harus maraton karena penjajahan
oleh gula rafinasi yang disenangi birokrasi.
Bagaimana dengan jagung dan beras? Secara kuantitatif jagung agak
optimis karena kekurangannya tidak cukup besar. Akan tetapi, satu hal
yang harus dicatat adalah bahwa tercapainya swasembada ini bermakna
ketergantungan total terhadap benih jagung milik perusahaan asing,
hampir sepenuhnya.
Sementara itu, untuk swasembada beras, tentu adalah sebuah kemunduran
besar ketika target itu tidak tercapai karena target KK hanyalah
swasembada, dibandingkan target KIB-II yang surplus 10 juta ton beras.
Meski yang terakhir ini juga banyak mengandung pencitraan. Ketika
targetnya KK juga sekitar pencitraan, maka mudah sekali mencapai
swasembada tetapi swasembada berbasis impor.
Pelajarannya, acap kali isu politis pangan tidak tersentuh oleh kabinet,
khususnya ketika berwacana tentang swasembada pangan. Realitasnya,
meski sistem produksi acapkali terganggu oleh kesalahan internal,
gangguan tataniaga akibat syahwat importasi KIB-II dalam banyak hal
nampak lebih nyata. Lesunya harga lokal sebagai akibatnya, menjadi
alasan kelesuan usahatani.
Ada baiknya pada bulan madu KK ini kita menengok amanat UU 18/2012
tentang Pangan yang mengamanatkan pengarusutamaan kedaulatan pangan
sistem pangan nasional. Berkenaan dengan itu UU dimaksud juga sekaligus
mengamanatkan jaminan ketercapaian KP melalui pembentukan otoritas
pangan.
Mengaitkan kepentingan KP dan pelembagaan otoritas pangan yang
diamanatkan UU 18/12 ini, sangat mudah ditafsirkan. Bahwa otoritas
dimaksud adalah otoritas yang mengawal dan bertanggung jawab terhadap
urusan KP, yang antara lain, harus mengkoordinasikan kementerian teknis
terkait, mengendalikan tataniaga, merumuskan kebijakan pangan nasional,
merancang ulang politik pangan nasional, dan segebog urusan lainnya.
Masih dalam masa bulan madu. Masih banyak peluang untuk menyadari bahwa
pangan itu juga urusan ikan, beras dan sejenisnya. Pada saat yang sama
harus dilihat pula bahwa ada banyak peluang pangan dijanjikan oleh
sektor kehutanan dengan lahan tumpang sari, juga peluang tataniaga
sebagai senjata, begitu pula urusan tata-air dan industri pangan. Nilai
tambah dan produktivitas pangan nasional ada dimana-mana di seluruh
lokalita Indonesia.
Bulan madu ini harus dimanfaatkan dengan membangun <I>blue
print<P> bersama untuk itu semua. Cetak biru pembangunan sistem
pangan nasional, bukan hanya dalam jajaran kementan, bukan hanya
terbatas pada kiprah perikanan, dan bukan pula sekedar kiprah logistilk
Bulog. Akan tetapi cetak biru nasional yang mengamankan program
pembangunan yang katanya <I>mainstreaming<P> KP. Agar tidak
dikatakan ‘katanya KP'.
Prof Dr HM Maksum Mahfoedz
(penulis adalah Guru Besar FTP UGM, Ketua PB NU)
http://krjogja.com/liputan-khusus/analisis/3508/pelembagaan-swasembada-pangan.kr