Sabtu, 20 Juni 2015

Disinyalir Ada Permainan Spekulan

Kementerian Perdagangan menilai harga daging sapi di pasaran telah dipermainkan spekulan. Untuk mengatasi hal itu, Bulog diizinkan melakukan operasi pasar daging sapi sebanyak 1.500 ton, dengan rincian 500 ton daging lokal dan 1.000 ton daging impor.

“Kenaikan harga itu penyebabnya ada dua, yaitu karena suplai dan distribusi. Nah, kalau suplai sudah mencukupi, tapi harga masih naik itu berarti distribusinya yang bermasalah, bisa karena infrastruktur atau ada spekulan yang bermain,” ujar Menteri Perdagangan Rachmat Gobel di kantor Kementerian Komunikasi dan Informatika kemarin (19/6).

Seperti yang terjadi pada komoditas daging. Harga daging terus menunjukkan tren naik sejak awal tahun. Padahal, pemerintah telah mengeluarkan izin impor 250.000 sapi bakalan pada Maret dan 29.000 sapi siap potong pada April. Tak cukup dengan itu, pemerintah juga memberikan izin kepada Bulog untuk mengimpor 1.000 ton daging sapi.

Apalagi berdasar laporan Kementerian Pertanian, pasokan daging sapi seharusnya sangat berlebih. Potensi pasokan yang tersedia saat ini mencapai 228.000 ekor sapi, sementara kebutuhan normal hanya sekitar 45.000 ekor sapi. “Itu artinya stok atau pasokan sapi di dalam negeri seharusnya cukup untuk lima bulan ke depan,” terangnya.

Mengenai itu, Mendag mengaku sudah memanggil importir-importir sapi tersebut. Selain menanyakan soal seretnya realisasi impor, Mendag juga menggugat soal masih tingginya harga daging sapi di pasaran. “Tapi mereka berkilah, itu bukan urusan mereka lagi. Sebab, setelah impor langsung dikirim ke pedagang. Nah, ini yang salah. Sistem seperti ini yang dimanfaatkan spekulan,” ungkapnya.

Menurut Mendag, importir harus ikut bertanggung jawab memastikan sapi-sapi yang mereka beli dari luar negeri benar-benar dikirim sampai ke konsumen. Jika tidak, para spekulan berpotensi menahan stok sampai harga naik.”Saya minta mereka ikut tanggung jawab. Kalau tidak, jangan datang-datang lagi ke Kemendag minta izin impor. Atau nanti saya blacklist saja biar tidak bisa impor,” tegasnya.

Seperti diketahui hingga saat ini baru 60 persen atau sekitar 150.000 ekor sapi bakalan yang sudah masuk Indonesia, dari total kuota impor sapi bakalan di kuartal II yang sebanyak 250.000 ekor. Izin impor tersebut diberikan kepada 43 perusahaan penggemukan sapi (feed loatter). Sementara itu, sebanyak 26 importir umum belum merealisasikan izin impor Rp 29 ribu ekor sapi siap potong.

Mendag menyebut, saat ini harga daging sapi secara rata-rata nasional sebesar Rp 107.940 per kilogram, naik 4,03 persen dibanding posisi pada 11 Juni yang Rp 103.770 per kilogram (kg). Meski keran impor telah dibuka, harga daging sapi betah nangkring di atas Rp 100.000 per kg sejak awal tahun ini. Di Jakarta, harga rata-rata daging sapi sudah menyentuh Rp 112.500 per kg.

Meski begitu, Mendag mengaku belum akan menggunakan Perpres No 71/2015 tentang Penetapan dan Penyimpanan Barang Kebutuhan Pokok dan Barang Penting untuk meredam harga daging. Pasalnya, aturan turunannya, dalam bentuk Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) masih disusun.”Kita akan atasi ini dengan operasi pasar daging sapi oleh Bulog,” jelasnya. ”

Sementara itu, untuk membantu menekan tingginya harga daging, Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) akan melakukan operasi pasar daging. Direktur Utama (Dirut) Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) Djarot Kusumayakti menuturkan, ada dua sesi operasi pasar daging ini. Pada operasi awal, sebanyak 200 ton daging sapi lokal segar akan digelontorkan di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.

“Minimal per hari kami gelontorkan sekitar 15 ton,” ungkap Djarot yang ditemui dalam kesempatan sama.
Dia melanjutkan, setelah stok itu habis maka Bulog siap membuka operasi pasar selanjutnya. Pihaknya menyiapkan sekitar 300 ton daging sapi lokal segar untuk kembali digelontorkan. Bukan hanya itu, Bulog juga akan menyediakan 1000 ton daging sapi impor jika dirasa masih kurang.

Operasi pun akan diperluas hingga Bandung dan Surabaya. “Kami mencoba masuk ke pasar retail. Ini untuk mengurangi beban saudara-saudara kita yang ingin mengonsumsi daging pada bulan puasa,” urainya.

Dijelaskan olehnya, persediaan daging sapi sebetulnya sudah cukup untuk beberapa bulan ke depan. Namun, distorsi harga membuat masyarakat kesulitan memperoleh daging sapi untuk dikonsumsi.

http://www.radarbanyumas.co.id/disinyalir-ada-permainan-spekulan/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar