Jumat, 27 Februari 2015

Harga Beras Mahal, Jangan Buru-Buru Salahkan Bulog

Kenaikan harga beras di beberapa daerah menjadi perhatian Komisi IV DPR. Komisi yang menjadi mitra Kementerian Pertanian dan Badan Urusan Logistik (Bulog) menengarai adanya ulah spekulan yang menyebabkan harga beras melambung tinggi.

“Saya menduga mahalnya harga beras karena ulah para spekulan dan dan adanya penimbun beras. Tujuannya, agar pemerintah panik dan membuka keran impor beras. Ini permainan lama,” kata Edhy Prabowo Ketua Komisi IV DPR, Kamis (26/2).

Edhy menjelaskan, kondisi stok beras saat ini masih dalam kategori aman. “Di Jawa Tengah dari hasil pemantauan kami, dalam waktu dekat akan ada gabah panen sebanyak 1,3 juta ton. Belum lagi di daerah sentra beras lainnya.”

“Saya mengapresiasi langkah Menteri Pertanian yang tidak membuka keran impor beras. Namun apabila pemerintah panik dan melakukan impor, kami tak segan-segan akan menentangnya,” kata anggota DPR dari daerah pemilihan Sumatera Selatan (Sumsel).

Anggota DPR dari Fraksi Partai Gerindra ini juga mengingatkan bahwa impor beras hanya akan merugikan dan menyengsarakan para petani. “Petani Indonesia harus sejahtera. Itu salah satu tujuan partai kami,” ujarnya.

Ketua Komisi IV DPR juga mengingatkan terkait mahalnya harga beras di pasar saat ini untuk tidak melulu menyalahkan Bulog. “Dalam masalah ini kita jangan terburu-buru menyalahkan Bulog. Bulog itu hanya mengelola perputaran beras di Indonesia sebesar 14 persen. Selebihnya pasar atau swasta yang bermain, kita harus mewaspadai ulah spekulan. Ke depan, Komisi IV ingin wewenang Bulog harus ditambah dan diperluas.”

Edhy Prabowo sepakat dengan rencana pemerintah melibatkan TNI dan Polri untuk memberantas mafia beras. “Saya meminta pemerintah untuk mengerahkan aparatnya memburu para spekulan dan mencari tahu dimana beras berada. Kalau perlu kerahkan intelijen,” katanya.

http://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/15/02/26/nkdnsv-harga-beras-mahal-jangan-buruburu-salahkan-bulog

Tidak ada komentar:

Posting Komentar