Senin, 28 September 2015

Indonesia Terancam Kelaparan

Indonesia terancam kelaparan. Pemerintah pun dibuat panik dengan rencana impor beras. Musim kemarau tahun ini banyak petani yang gagal panen. Para petani pun memilih beralih profesi menjadi tukang becak.

Seperti yang terjadi di Kabupaten Indramayu, ribuan hektar tanaman padi gagal panen. Tentu ini menjadi ancaman besar rakyat Indonesia, apalagi kabupaten ini menjadi salah satu penyumbang beras terbesar di Pulau Jawa.
Dengan produksi sekitar 1,03 juta ton, Indramayu menyumbang sekitar 11% produksi padi Jawa Barat (9,4 juta ton), atau sekitar 2% produksi padi nasional (sekitar 57 juta ton). Tingginya produksi padi Indramayu ini disebabkan oleh luasnya lahan sawah yang ada. Dari luas wilayah Indramayu yang mencapai 204 ribu ha, 114 ribu ha (55%) di antaranya adalah lahan sawah.

Penyebab gagal panen di Kabupaten Indramayu ini karena sawah mereka kekeringan. Sehingga mereka pun memilih menjadi tukang becak untuk bisa bertahan hidup.‘’Pekerjaan apapun mereka lakukan untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup,’’ ujar Wakil Ketua KTNA Kabupaten Indramayu, Sutatang, kemarin.

Sutatang mengatakan, para buruh tani melakukan berbagai pekerjaan, seperti pembuat bata merah, menjadi kuli bangunan, tukang becak, hingga merantau ke Jakarta. Meski hasilnya lebih kecil dibandingkan saat menjadi buruh tani, namun tetap mereka jalani demi bisa menafkahi keluarga.

Saat menjadi buruh tani, mereka bisa mendapatkan Rp 75 ribu per hari sampai Rp 100 ribu per hari. Bahkan ketika panen, selain mendapatkan uang, mereka juga memperoleh bagi hasil gabah dengan perbandingan 6:1 dengan pemilik sawah.

Indonesia benar-benar darurat beras, Bulog pun mengatakan cadangan beras saat ini hanya 1,7 juta ton.

Seperti disampaikan oleh Direktur Utama Perum Bulog, Djarot Kusumayakti mengatakan saat ini pihaknya hanya memiliki cadangan beras sebanyak 1,7 juta ton. Cadangan tersebut terbagi dari beras medium dan beras premium.

”Data kami sampai kemarin ada 1,7 juta ton, dimana 600 ribu dalam bentuk komersial atau rastra (beras sejahtera) dan 1,1 beras kualitas medium?,” ujar Djarot di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jumat (25/9).

Setidaknya sampai akhir 2015 cadangan beras Bulog secara keseluruhan hanya tersisa sekitar 60-70 ribu ton beras. Cadangan tersebut diperkirakan tidak akan mencukupi untuk memenuhi kebutuhan beras.

Sebab, masa panen raya diprediksi Djarot akan ?mundur karena dampak El Nino yang cukup besar di akhir tahun, yang tentunya bakal berimbas di 2016. “?Kalau dilihat kondisi normal panen raya (2016) itu di Maret-April, tapi kalau El Nino ini cukup dahsyat (dampaknya-red) tentu itu akan mundur (masa panen-red),” ulas Djarot.

Untuk itu, pihaknya mendukung rencana Wakil Presiden Jusuf Kalla yang akan melakukan impor beras 1,5 juta ton demi mencukupi kebutuhan beras di 2016. “Ini yang mungkin menjadi pertimbangan beliau (Wapres JK), tidak mau bermain-main dengan beras yang jadi kepentingan masyarakat banyak,” pungkasnya

Rakyat Miskin Meningkat

Staf Khusus bidang ekonomi di era Presiden SBY meyakini dengan kondisi Indonesia saat ini, angka kemiskinan akan semakin meningkat. Soalnya, pemerintah sekarang belum bisa melakukan pengentasan kemiskinan.

Berdasarkan data BPS pada Maret 2015, saat ini jumlah orang miskin Indonesia meningkat dari 10,96 persen tahun lalu, menjadi 11,22 persen. ? “Saya kok hampir yakin angka kemiskinan naik,” kata Firmanzah di Jakarta, Minggu (27/9).

Prediksi Firmanzah itu didasari fenomena El Nino dimana Indonesia darurat kekeringan di sejumlah daerah. Kemudian terdapat persoalan asap dan kebakaran hutan di Kalimantan dan Sumatera. Padahal, daerah tersebut pada semester pertama terlihat rendah dalam pertumbuhan ekonomi.

“Sumatera dan Kalimantan berbasis Sumber Daya Alam (SDA). Sudah terkena dampak pelambatan ekonomi, terpapar kabut asap. Kalau tidak diselesaikan menambah jumlah orang miskin,” ujar Rektor Universitas Paramadina ini.

http://korannonstop.com/2015/09/indonesia-terancam-kelaparan/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar